| 26 Views
Kalangan Pelajar Banyak Bunuh Diri! Bukti Gagalnya Dunia Pendidikan Sistem Kapitalisme
Oleh: Kiki Puspita
Alarm keras untuk dunia pendidikan dan keluarga untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak dan remaja kita saat ini. Bagimana tidak, kaum pelajar yang harusnya menjadi togak peradaban generasi penerus suatu bangsa justru banyak yang mengalami gangguan mental dan banyak di antaranya mereka yang nekat mengakhiri hidupnya.
Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa pertama terjadi di Kampung Cihaur, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Rabu (22/10/2025) sore. Warga digegerkan meninggalnya anak laki-laki berusia 10 tahun berinisial MAA. Dia siswa kelas V salah satu SD negeri di wilayah tersebut. Korban ditemukan tergantung di kusen pintu kamar rumah neneknya menggunakan tali sepatu. Saat ditemukan neneknya, korban sudah tidak bernyawa.(kompas.id).
Di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat ditemukan dua siswa bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025 ini. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bulliying dalam kedua kasus ini. Siswa Bagindo di temukan tergantung di ruang kelas, Selasa (28/10/2025) siang, sedangkan Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS, Senin (6/10/2025) malam. (kompas.id).
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Daniel Saksono Harbuwono, mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang di selenggarakan oleh Kementerian Kesehatan. Angka temuan menunjukan lebih dari dua juta anak di Indonesia saat ini berjuang dengan berbagai bentuk gangguan mental. Hasil pemeriksaan yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa secara keseluruhan, mengungkap besarnya krisis yang tersembunyi di kalangan generasi muda. (Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG).
Perlu kita amati bersama, bahwa angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar tidak semua di sebabkan oleh bulliying. Fakta ini menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja merupakan faktor yang mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri. Sistem pendidikan dalam sistem pendidikan kapitalisme tidak mampu menjadikan kepribadian anak yang mencerminkan akhlak yang mulia.
Dalam Sistem Kapitalisme saat ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sangatlah sulit. Sehingga banyak orang tua yang mengalami konflik dan memilih untuk berpisah. Hal semacam ini, bisa mendorong anak kedalam gangguan mental dan banyak juga yang akhirnya bunuh diri.
Pada era digital saat ini dalam sistem kapitalis, internet telah menjadi sumber utama informasi yang memberikan penggambaran tidak pantas mengenai bunuh diri dan masalah kesehatan mental. Apalagi jika melihat tayangan/tontonan yang mengangkat perihal bunuh diri. Media berperan sangat signifikan dalam menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan kesehatan jiwa tiap individu.
Hal ini membutuhkan peran negara dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap media dalam menyebarkan informasi dan tontonan. Melalui media, negara harus menciptakan suasana iman, tontonan yang menuntun pada ketaatan, bukan yang mengarah pada kemaksiatan.
Tidak jarang, generasi muda banyak meniru gaya hidup sekuler liberal lewat tayangan yang mereka tonton sehari-hari tanpa filter yang benar. Di sinilah peran negara terkesan mandul untuk sekadar bersikap tegas terhadap muatan film atau tayangan bernuansa sekuler liberal.
Walhasil, peran negara sebatas membatasi akses konten, tetapi akar masalahnya, yakni pemikiran dan gaya hidup kapitalisme sekuler, justru tidak dihilangkan. Sedangkan akibat gempuran pemikiran inilah generasi kita memiliki mental dan kepribadian rapuh dan lemah. Mereka kerap dijejali dengan kesenangan sesaat hingga lupa cara menjalani hidup dan menyelesaikan masalah dengan cara pandang Islam.
Tersebab masalah bunuh diri dipengaruhi problem sistemis, untuk menyelesaikannya juga harus dilakukan secara sistemis. Islam adalah solusi persoalan hidup. Tidak ada manusia hidup tanpa masalah dan tidak ada masalah tanpa ada solusinya. Bagaimana mekanisme Islam mencegah bunuh diri?
Pertama, menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak. Dengan penancapan akidah yang kuat, setiap anak akan memahami visi dan misi hidupnya sebagai hamba Allah Taala, yakni beribadah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Prinsip ini harus dipahami bagi seluruh keluarga muslim sebab orang tua adalah pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Negara akan membina dan mengedukasi para orang tua agar menjalankan fungsi pendidikan dan pengasuhan sesuai akidah Islam.
Kedua, menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa kurikulum pendidikan Islam mampu melahirkan generasi kuat imannya, tangguh mentalnya, dan cerdas akalnya. Negara akan mengondisikan penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan untuk membentuk syahsiah Islam terlaksana dengan baik. Generasi harus memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat Islam. Dengan begitu, mereka akan memiliki bekal menjalani kehidupan dan mengatasi persoalan yang melingkupinya dengan cara pandang Islam.
Ketiga, memastikan para ibu menjalankan kewajibannya dengan baik. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kaum ibu dalam sistem Islam (Khilafah) akan diberdayakan sebagai ibu generasi peradaban, bukan mesin ekonomi seperti halnya dalam sistem kapitalisme yang malah menghadapkan para ibu pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Khilafah akan menetapkan kebijakan ekonomi yang mampu menyerap banyak tenaga kerja dari kalangan laki-laki. Alhasil, peran ayah dan ibu dalam keluarga dapat berjalan seimbang seiring pemenuhan kebutuhan pokok yang dijamin negara.
Penerapan sistem Islam kafah yang paripurna akan membentuk individu bertakwa, masyarakat yang gemar berdakwah, dan negara yang benar-benar me-riayah. Dengan begitu, masalah bunuh diri akan tuntas karena setiap individu muslim dapat memahami hakikat dan jati dirinya sebagai hamba dengan menjadikan Islam sebagai the way of life.
Ketika Islam menjadi jalan hidup bagi setiap muslim, tidak aka nada generasi yang sakit mentalnya, mudah menyerah, atau gampang putus asa. Mereka akan menjadi generasi terbaik dengan mental sekuat baja dan kepribadian setangguh para pendahulunya.
Waulohu a'lam bi ash-shawaab.