| 48 Views

“Job Hugging”, Tren Dunia Kerja Kapitalisme

Oleh : Annisa Rofiqo, S.Pd.
Pegiat Literasi Islam Kafah

Tidak betah di tempat kerja tapi tetap berusaha untuk bertahan—itulah tren yang menjamur di masyarakat saat ini, bahkan merata di berbagai Negara, dikenal dengan istilah “Job Hugging”. Hal ini menjadi lumrah dan dianggap pilihan terbaik untuk menghadapi kondisi kehidupan saat ini. Dilansir dari tempo.co, tren ini menjadi viral setelah laporan dari Glassdor Worklife Trends 2025, menunjukkan bahwa 2 dari 3 responden merasa terjebak dengan peran saat ini, bahkan dalam bidang tekonologi mencapai 73% (24/09/25). Cukup fantastis, bisa diartikan mayoritas orang bekerja saat ini merasa terpaksa bertahan dalam pekerjaannya, hal ini tentu akan berdampak pada kualitas kinerja. Job hugging bukanlah suatu hal yang baru, karena fenomena ini sudah terjadi sejak lama dengan motif apapun yang melatarbelakanginya, namun semakin menjamur di beberapa tahun terkahir. Khususnya di Indonesia fenomena ini semakin kuat, ciri khas budaya kerja masyarakat Indonesia menjaga harmoni dan menghindari konflik—yang dinilai sebagai bentuk loyalitas, menjadikan job hugging sebagai pilihan terbaik.

Antara Job Hugging dan Kapitalisme

Job hugging atau ‘memeluk pekerjaan’ merupakan efek dari kondisi ekonomi yang tidak stabil. Terdapat sejumlah faktor yang membuat orang memilih job hugging, diantaranya:

Pertama, dunia yang tengah kita jalani saat ini Society 5.0, yakni era dimana manusia menggunakan pengetahuan berbasis teknologi modern untuk memenuhi kehidupan sekaligus memudahkan kehidupannya (telkomuniversity.ac.id. 18/01/24). Dalam era ini banyak terjadi efisiensi tenaga kerja sebab banyak pekerjaan mampu dilakukan oleh teknologi. Hal ini menjadikan lapangan pekerjaan langka dan terbatas sehingga banyak orang kesulitan untuk mendapat pekerjaan.

Kedua, stabilitas finansial dan rasa aman. Gaji tetap bulanan disertai beberapa tunjangan dirasa lebih aman dan stabil daripada harus mengambil resiko di pekerjaan baru dengan ketidakpastian kondisi finansialnya.

Ketiga, tidak ada pilihan lain. Bertahan dengan yang telah ada dirasa lebih baik daripada mencari di tempat lain yang belum pasti.

Keempat, kondisi perekonomian lokal maupun global yang tidak pasti, PHK, pengangguran, inflasi maupun resesi membuat pilihan job hugging adalah solusi tepat untuk tetap bertahan meski tidak merasa puas.

Faktor-faktor di atas kemudian didukung oleh penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang semakin memperparah kondisi juga memperbanyak ‘korban’. Mengapa demikian? Kapitalisme secara konsep dan fakta tidak akan pernah memihak kepada rakyat/masyarakat kecil. Negara manapun yang menerapkan sistem kapitalisme akan bermasalah dalam tenaga kerja dan lapangan pekerjaan. Para kapitalis atau pemilik modal hanya berorientasi pada keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa mementingkan kesejahteraan maupun kemudahan bagi karyawan kecil. Pemutusan hubungan kerja, efisiensi, dan otomatisasi tenaga kerja adalah keniscayaan selama terdapat keuntungan besar. Hegemoni banyaknya pengangguran dan sulitnya mencari pekerjaan menjadi bayangan yang senantiasa menghantui di tengah masyarakat, yang menjadikan tren job hugging semakin marak.

Betapa sulit menjalani kehidupan dalam sistem kapitalisme, sebab rakyat harus berdiri sendiri tanpa jaminan dari negara. Perekonomian makro diregulasikan oleh negara untuk menguntungkan para kapitalis, pekerja dijadikan sebagai ‘alat’ untuk menjaga dan menjalankan bisnis para kapitalis, sehingga sangat rentan tereksploitasi waktu, tenaga, maupun pikirannya. Dalam sistem kapitalisme, mengharapkan Negara memberikan kesejahteraan untuk rakyat hanyalah fatamorgana. Selama kapitalisme mendominasi, ideologi ini akan mengatasi permasalahan dengan memunculkan masalah lainnya, tidak akan ada solusi hakiki dalam kapitalisme.

Solusi Hakiki dalam Islam

Islam adalah panduan kehidupan, siapapun yang mengambil dan mengikutinya akan selamat dunia maupun akhirat. Islam bukan hanya mengatur urusan individu, melainkan urusan masyarakat hingga Negara. Hal ini telah terbukti selama 14 abad Islam berjaya, Islam menjadi dasar Negara yang lahir darinya aturan-aturan tentang pengurusan Negara. Islam menawarkan solusi hakiki yang diberikan oleh Allah Swt, sang pencipta yang paling tahu tentang makhlukNya. Job hugging  meskipun merupakan istilah yang baru muncul belakangan ini, bukan berarti belum ada solusi dalam Islam, sebab masalah dari zaman ke zaman pada hakikatnya adalah sama.

Job hugging adalah respon kekhawatiran dan kebingungan pekerja atas kondisi kehidupan yang dialaminya, bertahan meski tak puas, karena jika melepas pekerjaan saat ini belum tentu di masa depan akan dapat pekerjaan dan tidak siap menghadapi resiko. Hal ini haruslah menjadi perhatian bagi Negara untuk memberikan solusi. Dalam Islam, Negara adalah pengurus urusan rakyat. Sebagaimana sabda Nabi Saw :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhori). 

Pemimpin dalam Islam bertanggung jawab penuh atas masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyatnya. Termasuk urusan pekerjaan yang menjadi kewajiban kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya akan diperhatikan. Urusan kebutuhan dasar rakyat akan menjadi tanggungan Negara untuk menyediakannya, sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan akan diatur untuk memberikan kenyamanan bagi rakyat. Islam memiliki konsep sistem ekonomi yang cemerlang, Negara akan mengatur dan meregulasikannya sesuai dengan tuntunan Islam dengan memihak kepada rakyat. Kekayaan sumber daya Negara akan dikelola Negara untuk kepentingan rakyatnya, tak akan diserahkan pada kapitalis maupun asing. Begitupun masyarakat memiliki kesadaran besar untuk berlomba dalam berwakaf sehingga banyak pelayanan publik adalah hasil wakaf. Konsep wakaf pun adalah wakaf produktif yang membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan orientasi untuk umat.

Islam dalam kedudukannya sebagai sistem dalam suatu Negara menjamin kebutuhan dasar terpenuhi sehingga masyarakat bekerja bukan untuk semata memenuhi kebutuhannya, melainkan memberikan kemampuannya untuk kemajuan Islam dan Negara. Maka, sudah sepatutnya kita sebagai seorang Muslim hidup dalam naungan sistem Islam, yakni Khilafah. Mari berdoa dan berusaha untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua.

Wallaahu a’lam bish shawwab


Share this article via

32 Shares

0 Comment