| 28 Views
Jeratan Narkoba pada Generasi, Buah dari Penerapan Sistem Kapitalisme
Oleh: Tuni Anggraini
Bonus demografi bagi bangsa merupakan aset yang tidak ternilai harganya, karena di tangan generasi inilah masa depan bangsa akan digantungkan. Namun, saat ini kita justru sering mendengar banyaknya kasus kejahatan yang melibatkan generasi muda sebagai pelaku.
Seperti halnya pada kasus seorang remaja berinisial HS (19) yang tak berkutik saat diringkus Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari dalam operasi dini hari, Senin (30/3/2026). Dari tangan pelaku, polisi mengamankan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di sejumlah lokasi berbeda (SuaraSultra.com).
Penangkapan HS bermula dari laporan warga setempat tentang aktivitas mencurigakan di kawasan BTN Permata Anawai, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari. Dengan adanya laporan tersebut, petugas bertindak cepat dan berhasil mengamankan pelaku. HS juga mengakui masih menyimpan narkotika di beberapa titik lain. Pengakuan itu langsung ditindaklanjuti dengan pengembangan oleh tim di lapangan.
Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah alat pendukung, seperti timbangan digital, sendok sabu, gunting, serta plastik sachet yang diduga digunakan untuk mengemas barang haram tersebut.
Dari seluruh rangkaian pengungkapan tersebut, polisi mengamankan total 31 paket sabu-sabu dengan berat bruto 6,92 gram beserta sejumlah barang bukti lainnya. HS diketahui berperan sebagai penyimpan sekaligus pengedar.
Sungguh sangat memprihatinkan, remaja yang seharusnya menjadi pelopor dan garda terdepan penerus bangsa dan agama, dalam sistem sekuler kapitalis saat ini justru terjerumus menjadi pengedar narkoba.
Hal ini menjadi bukti bahwa sistem sekuler kapitalis telah menjadikan pelajar jauh dari agama, serta melemahkan penjagaan akal, moral, dan perilaku. Lemahnya sistem pendidikan dan hukum yang diterapkan saat ini membuat pelajar mudah terjerat dalam aktivitas yang melanggar hukum.
Potensi remaja pun seakan dibajak. Dalam sistem kapitalisme, mereka kerap diposisikan sebagai aset ekonomi semata, baik sebagai ceruk pasar maupun sebagai faktor produksi—khususnya sumber tenaga kerja murah, bahkan hingga menyerupai perbudakan.
Penerapan sistem hidup sekuler liberal oleh penguasa dalam aspek ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, media massa, dan hukum, serta ketidakpedulian terhadap kondisi moral generasi, membuat kerusakan akhlak kian parah. Banyak pemuda yang terjerat pergaulan bebas, perilaku menyimpang, minuman keras, narkoba, budaya kekerasan, bahkan menjadi pelaku kriminal.
Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi digital yang, alih-alih membawa keberkahan, justru menjadi alat baru penjajahan kapitalisme global yang menjerat generasi dalam kehidupan dunia maya. Pemikiran yang dangkal dan instan semakin berkembang, sementara akal dan jiwa mereka kian tergerus.
Generasi yang seharusnya menjadi pemimpin peradaban masa depan dan membawa perubahan hakiki, kini justru banyak yang terjerumus dalam kemaksiatan.
Sudah saatnya kita meninggalkan sistem yang rusak ini dan kembali kepada sistem yang benar, yaitu Islam. Sistem pendidikan Islam akan membentuk generasi menjadi pribadi yang bertakwa, dengan kepribadian Islam yang kokoh.
Peran keluarga, terutama orang tua, sangat penting dalam mendampingi dan mendidik anak-anak dengan menanamkan dasar-dasar keislaman yang kuat serta memberikan teladan yang baik. Peran masyarakat juga dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi, menjaga pergaulan, serta menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar.
Sanksi hukum yang tegas dari negara akan memberikan efek jera, baik bagi pembuat, pengedar, maupun pengguna narkoba. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari narkoba.
Wallahu a‘lam bi ash-shawab.