| 48 Views
Islam Solusi Tuntas Rapuhnya Generasi Kita
Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Ada apa dengan generasi penerus bangsa negara ini? Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Aceh Besar pada Jumat, 31 Oktober 2025. Seorang santri di bawah umur ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus terbakarnya asrama pondok pesantren asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah tempat ia menimba ilmu. Setelah penyelidikan, polisi mengungkapkan kebakaran tersebut ternyata sengaja dilakukan oleh salah satu santri. Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, dalam konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama pada Kamis (6/11), menjelaskan, pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya.
Ada lagi, seorang siswa SMA Negeri 72 melakukan aksi ledakan di sekolah saat rangkaian shalat Jum’at. Polisi dalami terduga pelaku sebagai korban bullying (CNN Indonesia, 8/11/2025). Begitu juga, ditemukannya dua orang siswa SMP, di Sawahlunto, Sumatera Barat yang mengakhiri hidupnya di ruang kelas dan ruang OSIS. Hasil penyidikan kepolisian menunjukkan tidak ditemukannya indikasi bullying (kompas.id, 16/10/2025). Dan masih banyak kasus lainnya yang tidak terangkat kepermukaan,
Di sisi lain, Dante Saksono Harbuwono selaku Wakil Menteri Kesehatan mengungkapkan data yang cukup mengagetkan dari data yang terkumpul sejumlah 20 juta jiwa anak yang telah melakukan pemeriksaan program kesehatan jiwa gratis, 2 juta di antaranya mengalami gangguan mental (kompas.id, 30/10/2025).
Sungguh sangat miris, berita media dipenuhi dengan berbagai kasus tragis yang menyesakan dada dan memilukan. Itu semua merupakan bukti hilangnya perlindungan negara untuk rakyatnya terutama generasi penerus. Apakah hati nurani kita tidak tergerak untuk selamatkan generasi penerus pemimpin bangsa? Salah satunya kita bisa lihat, remaja pelaku bullying semakin membahayakan, korban pun mengalami tekanan sosial berat akibat ejekan, pelecehan, dan pengucilan yang mengakibatkan bunuh diri.
Ini semua hasil dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang berfokus pada materi dan telah gagal dalam membentuk kepribadian Islam. Sistem kapitalisme sekuler yang diadopsi hari ini terbukti telah gagal dalam mendidik generasi, dijauhkannya agama dari kehidupan menjadikan anak kehilangan makna hidup dan hidup hanya untuk orientasi materi semata.
Sekolah hanya ditujukkan untuk meraih nilai bagus, meski hatinya kosong dan rapuh. Pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler hanya berfokus melahirkan generasi pintar akademis, tanpa peduli iman kuat atau rapuh. Kurikulum agama hanya sebatas teori, bukan diajarkan untuk membangun pondasi hidup. Yakinlah, sistem sekuler terbukti telah gagal dalam mendidik dan menjaga generasi.
Kejadian meningkatnya angka bunuh diri pada anak bukan sekedar angka, tapi peringatan, ada yang salah dan segera dibutuhkan perbaikan untuk menyelamatkan generasi. Sungguh, ini adalah kondisi yang memprihatinkan, patut diwaspadai, dan segera dibutuhkan solusi untuk mengatasinya.
Bagaimana tidak? Jika generasi mudah rapuh, akan dibawa ke mana peradaban kita ke depan? Coba bandingkan dengan tujuan pendidikan dalam Islam yang membentuk kepribadian Islam dengan proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif, membentuk pola pikir dan pola sikap islami, tidak hanya fokus pada nilai materi, tapi juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah. Begitupula dengan pelaksanaan kurikulum diharuskan berbasis aqidah Islam, dan menjadikan adab sebagai dasar pendidikan. Oleh karena itu, Islam merupakan solusi tuntas rapuhnya generasi kita (penerus bangsa).