| 598 Views
Iran Serang Zionis : Bukti Solidaritas Muslim Palestina, atau Sekadar Kepentingan Semata?
Oleh : Arni Ummu Fahmi
Pemerhati Masalah Publik
Sejak Hamas menyerang Israel tanggal 7 oktober 2023 agresi militer Zionis Yahudi terus berlanjut. Bahkan pada saat kaum Muslim Gaza tengah merayakan Hari Raya Idu lfitri kemarin, militer Zionis masih melancarkan serangan mematikan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan setidaknya 84 orang, termasuk 17 anak-anak, telah tewas, serta lebih dari 480 lainnya terluka dalam serangan saat lebaran lalu. Militer Yahudi juga meluaskan wilayah serangan mereka hingga ke sejumlah daerah di Libanon dan pinggiran Damaskus, Suriah. Mereka menyasar sejumlah kawasan milisi yang melakukan perlawanan terhadap entitas Yahudi. Serangan itu mengenai Kedutaan Iran dan menewaskan 16 orang. Tidak berapa lama, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan 300 rudal dan drone ke wilayah Zionis Yahudi. Namun, Pemerintah entitas Yahudi menyatakan mereka bisa menangkal mayoritas serangan Iran tersebut (detiknews.com 26/4/2024).
Alasan Dibalik Serangan Iran
Setelah lama hanya bisa mengancam membalas ketika panglima-panglimanya dibunuhi Israel dan lama menduga Israel berada di balik berbagai sabotase serta terorisme di dalam negeri Iran, pemerintahan Presiden Ebrahim Raisi menyimpulkan Israel tak boleh dibiarkan terus mengusik tanpa ada balasan. Lalu, Iran melakukan tindakan balasan dengan cara menyerang wilayah Israel secara langsung .
Serangan Iran terhadap Israel sebenarnya merupakan serangan balasan atas penyerangan konsulat jenderal Iran di Damaskus pada Senin (1/4/2024) yang dilakukan oleh Israel. Sama seperti kedutaan besar, konsulat jenderal merupakan wilayah kedaulatan ekstrateritorial sebuah negara. Penyerangan terhadap konsulat jenderal pun dianggap sebagai penyerangan langsung terhadap sebuah negara. sehingga setiap serangan terhadap kompleks ini sama halnya dengan menyerang negara itu. Pasal 51 Piagam PBB sendiri menyatakan setiap negara berhak membela diri dari serangan luar. Dan, pasal ini pula yang dipakai Iran untuk penguat bagi aksinya menembakkan sekitar 300 rudal dan drone ke Israel pada 14 April.
Serangan Iran Tak Ingin Kelihatan Lemah
Iran beranggapan tak membalas serangan-serangan itu hanya menjadi pintu masuk untuk serangan-serangan berikutnya, baik dari Israel maupun dari negara lain," kata Shireen Hunter, pakar hubungan internasional dari Universitas Georgetown di AS, kepada The New Arab pada 15 April.
Iran ingin memberi pesan untuk tak akan berdiam diri dan pesan ini pula yang termuat dalam serangan rudal dan drone pada 14 April. Iran ingin memberi pesan bahwa Israel tak akan dibiarkan terus mengeksekusi warganya tanpa ada balasan. Lain dari itu, menyerang Israel adalah unjuk kekuatan yang jika tak dilakukan, akan membuat Israel dan musuh-musuh Iran di dunia Arab serta kawasan lainnya, bahkan rakyat Iran sendiri, melihat pemerintah Iran lemah. Walaupun serangan pada 14 April itu berhasil dipatahkan Israel, bahkan sebagian besar hancur sebelum mencapai teritori Israel, serangan itu menjadi pelajaran berharga bagi Israel bahwa konflik dengan Iran sudah bukan lagi konflik tidak langsung, melainkan konflik terbuka.
Sejumlah pejabat pemerintahan AS, sebagaimana laporan New York Times pada 17 April 2024, menilai Israel salah perhitungan karena selama ini menganggap Iran tak akan berani membalas, apalagi menyerang wilayahnya langsung dari Iran yang satu sama lain berjarak 1.700 km. Iran sendiri mengaku tak berniat menghancurkan Israel dan hanya membidik instalasi-instalasi militer Israel. Iran juga menyatakan tak menginginkan perang terbuka baik dengan Israel maupun AS.
Meminjam laporan New York Times, pada malam setelah Israel menyerang kedubes Iran di Damaskus, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil Duta Besar Swiss di Teheran untuk menegaskan pendapat mereka bahwa AS dan Israel bertanggung jawab dalam serangan 1 April di Damaskus. Swiss adalah salah satu saluran yang digunakan Iran untuk berhubungan dengan AS, karena mereka tak memiliki hubungan diplomatik.
AS sendiri, melalui Oman dan Swiss, menegaskan tak terlibat dalam serangan Damaskus dan menandaskan tak mau berperang dengan Iran.
Sejak itu, pemerintah Iran aktif membuka saluran komunikasi tidak langsung dengan AS, termasuk niat balas menyerang Israel. Seraya menyatakan serangan Israel pada 1 April itu melanggar kedaulatan Iran sehingga harus dibalas, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian berkata kepada sejumlah pejabat Arab, Eropa, dan PBB bahwa Iran akan membalas serangan Israel tapi dilakukan secara terbatas karena tak mau memicu perang kawasan. Faktanya, serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke Israel itu memang tidak menimbulkan kerusakan fatal, bahkan berhasil dicegat oleh sekutu-sekutu Israel, termasuk Yordania.
Jihad dan Khilafah Solusi Jitu untuk Palestina
Di tengah penderitaan rakyat Gaza akibat tindak genosida Zionis, justru terus dikampanyekan seruan perdamaian atau gencatan senjata seraya menyalahkan perlawanan yang dilakukan oleh warga Palestina, khususnya Hamas. Dengan dalih kemanusiaan dan rasa kasihan terhadap kondisi rakyat Gaza, muncul seruan perdamaian dan solusi dua negara.
Pandangan ini jelas bertentangan dengan hukum syariah dan realita kekejaman kaum Zionis. Secara hukum syariah, telah ada perintah bagi kaum Muslim untuk melakukan jihad difâ’i, yakni berjihad membela negeri mereka yang diserang musuh. Allah Swt. telah berfirman: Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadap kalian (QS Al-Baqarah [2]: 194). Allah Swt. juga memerintahkan untuk mengusir siapapun yang telah mengusir kaum Muslim: Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (QS Al-Baqarah [2]: 191). Oleh karena itu seruan perdamaian bertentangan dengan hukum syariah, juga menyebabkan agresi militer kaum Zionis kian merajalela.
Namun demikian, menyerahkan perlawanan terhadap Zionis Yahudi hanya pada warga Gaza juga suatu kemungkaran. Faktanya mereka membutuhkan banyak bantuan untuk menghadapi serangan militer bertubi-tubi yang dilakukan entitas Yahudi yang dibantu negara-negara Barat. Syariah Islam juga telah menetapkan bahwa kewajiban jihad difâ’i ini meluas kepada kaum Muslim di sekitar Palestina. Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikh Said bin Ali Wahf al-Qahthani dalam kitab Al-Jihâd fî SabîlilLâh: ”Jika musuh telah memasuki salah satu negeri kaum Muslim maka fardhu ’ain atas penduduk negeri tersebut untuk memerangi musuh dan mengusir mereka. Juga wajib atas kaum Muslim untuk menolong negeri itu jika penduduknya tidak mampu mengusir musuh. Hal itu dimulai dari yang terdekat kemudian yang terdekat.”
Sesungguhnya kekalahan kaum zionis telah tampak di depan mata. Tentara Zionis yang kalap, karena tidak mampu mengalahkan perlawanan milisi Hamas, melampiaskan serangan mereka dengan menembaki warga sipil, perempuan, lansia, hingga anak-anak. Namun, yang terjadi kemudian ribuan tentara mereka menderita gangguan stres pasca-trauma dengan pejuang Hamas. Sejak serangan ke Jalur Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, sekitar 30.000 tentara Yahudi telah menghubungi saluran layanan kesehatan mental. Sekitar 200 tentara diberhentikan dari angkatan darat karena masalah psikologis akibat perang. Kalaupun saat ini mereka masih bertahan, itu karena support dari negara-negara Barat yang terus mempertahankan eksistensi negara Yahudi di kawasan Timur Tengah. Mereka terus menggelontorkan bantuan keuangan dan militer. Mereka pun meminta para penguasa boneka di kawasan Timur Tengah untuk mendukung eksistensi kaum Zionis dan tidak memberikan dukungan terhadap perlawanan warga Gaza.
Karena itu mustahil dapat mengenyahkan entitas Yahudi dari tanah Palestina tanpa kekuatan besar. Menyerahkan sepenuhnya perlawanan terhadap entitas Yahudi pada rakyat Gaza juga merupakan tindak pengecut dan tidak bertanggung jawab. Pada titik inilah umat harus menyadari bahwa mereka membutuhkan eksistensi negara Khilafah untuk melindungi Palestina dan menyingkirkan entitas Yahudi dari tiap jengkal tanah Palestina.
Hanya negara Khilafah yang akan sanggup memobilisasi kekuatan umat untuk mengusir entitas Yahudi. Negara Khilafah akan menghapus belenggu nasionalisme yang telah merantai umat dari memberikan pertolongan terhadap saudara mereka yang teraniaya seperti di Gaza, Palestina. Khilafah akan mengembalikan sense of ukhuwah islamiyah ke tengah umat sehingga mereka akan merasakan lagi layaknya satu tubuh. Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam (HR Muslim).
Khilafah akan membuat perhitungan dengan entitas Yahudi dan negara-negara Barat sebagai sponsornya. Bukan saja mengusir kaum Zionis Yahudi, Khilafah pun akan menghilangkan semua fasilitas negara-negara penjajah di wilayah kaum Muslim seperti pangkalan militer asing. Khilafah juga akan menutup pelabuhan dan jalur pelayaran serta penerbangan agar tidak lagi dilalui kapal dan pesawat asing yang akan mengirimkan bantuan pada entitas Yahudi.
Alhasil, umat ini masih memikul tanggung jawab atas nasib saudara mereka yang teraniaya oleh kaum penjajah, kita tak boleh berharap pada negri negri muslim lainya seperti Iran yang tidak serius menolong warga Gaza. Hal itu tidak akan dapat dilakukan secara sempurna tanpa eksistensi Khilafah. Terbukti hingga hari ini tidak ada satu pun di antara negeri-negeri Islam yang mau mengusir entitas Yahudi. Padahal mayoritas penduduknya Muslim dan dipimpin oleh Muslim. Jelas, umat membutuhkan jihad dan Khilafah untuk mengusir Zionis Yahudi dari tanah Palestina.
Wallahu ’alam bissawab.