| 211 Views
Inikah Generasi Terbaik?
Oleh : Ghaziah El-Mezha
Baru-baru ini Kita sedang digencarkan oleh banyak tersebarnya video bullying yang terang-terangan dilakukan di media sosial. Zaman sekarang anak muda makin aneh, padahal cuma ngebully tapi pengennya dikenal banyak orang alias viral. Pantaskah video unfaedah seperti adegan bullying itu tersebar luas ke media sosial? Pastinya enggak banget.
Nah, buat kalian yang belum melek berita seputar bullying ini segera buka mata kalian lebar-lebar. Bulan lalu terjadi kasus bullying yang melibatkan korban anak SMP yang berinisial DNS (14) yang tinggal disekitar lokasi bullying. Singkat cerita ketika korban sedang berjalan kaki, tiba-tiba datang 4 orang yang tidak dikenal. Mereka bertanya apakah korban adalah anggota genk XTC dan memaksa untuk memeriksa ponselnya. Korban membantah dan menolak ponselnya untuk diperiksa. Pada akhirnya pelaku menendang muka korban dan memukul kepalanya menggunakan botol kaca kosong, serta mengancam menggunakan senjata tajam berupa pisau.
Mengetahui kejadian tersebut, Rohman Hidayat (41) selaku kakak korban segera melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Bandung pada Sabtu, 27 April 2024 lalu.
Didalam video yang beredar ini pula, pelaku mengaku mempunyai saudara yang berpangkat jendral dan mengatakan tidak takut apabila harus masuk penjara akibat perbuatannya.
AKP, Nurindah Murdini menyatakan bahwa pihaknya belum mengetahui identitas pelaku yang melakukan aksi bullying tersebut. ( Kompas.com 28/4/2024 )
Kejahatan saat ini tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang buruk, bahkan malah dianggap wajar dan keren. Sikap yang seperti ini menunjukan adanya kesalahan masyarakat dalam memandang keburukan. Hal ini pula menjadi indikasi adanya kesalahan dalam proses berpikir masyarakat.
Bullying jelas muncul sebagai buah buruk dari banyak faktor, yang diantaranya, rusaknya sistem pendidikan, lemahnya pilar penegak hukum , bebasnya bermedia sosial, dan termasuk didalamnya sistem sanksi yang lemah.
Sistem sanksi yang tidak membuat jera para pelaku, menjadi salah satu faktor yang penting dari keberadaan bullying ini. Andaikata negara mempunyai sistem sanksi yang tegas ditambah lagi dengan aparat penegak hukum yang tak pandang bulu, jelas akan menurunkan tingkat bullying di Indonesia.
Selain itu, negara yang saat ini berasaskan liberalisme, membiarkan konten-konten media yang mengajarkan kekerasan. Konten-konten seperti itu dibiarkan tersebar dan bebas diakses oleh siapa saja. Maka dari itu tak heran, jika saat ini terbentuk pula manusia-manusia yang minim empati dan tega menyakiti orang lain.
Sistem pendidikan yang sekuler pun telah memisahkan agama dari kehidupan. Alhasil generasi hanya dibekali ilmu-ilmu dunia tanpa diimbangi dengan pemahaman agama. Generasi melemah dan hanya mampu berpikir dangkal. Negara sendiri pun abai terhadap perilaku rusak generasi bahkan membiarkan generasi terbawa arus globalisasi yang serba bebas dan instan.
Bagaimana jadinya bila negara ini terus-terusan dibiarkan seperti ini tanpa adanya pemimpin yang pantas untuk memimpin?
Ketahuilah, generasi berkualitas yang akan membangun peradaban mulia dan pastinya akan jauh dari perilaku bullying ini hanya terwujud dalam sistem kehidupan yang terbaik serta diridhoi oleh Allah SWT. Yakni negara yang menerapkan aturan Islam secara Kaffah.
Sistem Islam akan mencegah perilaku buruk yang bercokol dimasyarakat dan menerapkan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam yang kelak akan membangkitkan umat. Dengan pendidikan Islam ini akan terbentuk individu-individu berkepribadian Islam serta memiliki pola sikap dan pola pikir Islami yang akan mengarahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian Islam ini lah yang dibentuk untuk generasi dan akan menjauhkan masyarakat dari perilaku bullying, sebab standar perbuatannya adalah syariat Islam. Jadi maukah kalian berubah?[]