| 10 Views
Idulfitri Momentum bagi Umat untuk Mewujudkan Kebahagiaan yang Hakiki
Oleh: Umi Silvi
Idulfitri sering disebut sebagai hari kembali kepada fitrah. Namun, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) justru mempertanyakan ke mana umat Islam kembali.
“Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting setelah Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah Islam, atau justru kembali kepada sistem kehidupan buatan manusia?”
Pasalnya, menurut Om Joy, Islam bukan sekadar agama ritual yang hanya mengatur salat dan puasa.
“Islam adalah pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam ekonomi, hukum, sosial, pemerintahan, hingga politik luar negeri,” tandasnya.
UIY mengajak untuk melihat situasi di luar diri umat Islam, pasti akan merasa sangat prihatin dan sedih. “Kita punya perasaan campur aduk, bahagia tapi sedih, sedih tapi bahagia,” tambahnya.
UIY menyampaikan, secara posisi, Allah menyebut kaum Muslim sebagai khairu ummah yang dilahirkan untuk manusia. Predikat khairu ummah ini, lanjutnya, bukan main-main karena yang menyebutnya adalah Allah, Sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan.
“Artinya, ini posisi yang istimewa. Tapi, pada faktanya saat ini tidak pernah kita bisa disebut sebagai khairu ummah atau umat terbaik,” bebernya prihatin.
UIY mengungkapkan fakta pada kaum Muslim yang tertinggal secara ekonomi, sains, teknologi, dan lainnya.
“Lihatlah apa yang terjadi di Gaza, Iran, kawasan Timur Tengah, Xinjiang, Rohingya, dan berbagai belahan dunia lainnya. Coba pikirkan, bagaimana mungkin khairu ummah diperlakukan seperti itu?” tandasnya retorik.
UIY menilai, hampir seluruh dunia Islam tunduk pada kekuasaan global (the ruling power), yaitu tunduk kepada blok Barat.
“Secara global, situasi dunia Islam memang tidak ideal dan jauh dari apa yang disebut khairu ummah karena ketertundukannya kepada Barat,” pungkasnya.
Karena itu, lanjutnya, para ulama menjelaskan bahwa upaya menegakkan syariat Islam secara kaffah merupakan fardu kifayah, kewajiban kolektif umat agar hukum Allah benar-benar hadir dalam kehidupan manusia.
“Rasulullah saw. telah mencontohkannya melalui Negara Islam di Madinah, yang kemudian diteruskan dalam institusi kepemimpinan umat yang dikenal sebagai Khilafah Islam. Mulai dari Khilafah Rasyidah (para khalifahnya disebut: Khulafaur Rasyidin), Khilafah Umayyah, Khilafah Abbasiyah, hingga Khilafah Utsmaniyah,” bebernya.
Selain itu, Idulfitri, kata Om Joy, juga mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu umat global. Namun, ia menyesalkan realitas dunia yang menunjukkan bahwa tidak semua Muslim merayakan hari raya dengan aman.
Di Gaza, Palestina, umat Islam hidup di bawah penjajahan militer. Di Arakan, Myanmar, Muslim Rohingya terusir dari tanah kelahirannya. Di Kashmir, Jammu, dan Xinjiang, kaum Muslim menghadapi berbagai bentuk penindasan dan pembatasan. Ini menunjukkan bahwa penderitaan umat Islam bukan sekadar persoalan lokal, tetapi persoalan umat secara global,” sedihnya.
Dalam ajaran Islam, jelasnya, membela kaum tertindas dan melawan penjajahan merupakan bagian dari nilai keadilan yang agung.
Karena itu, setelah Idulfitri ini, ada satu renungan yang tidak boleh kita lupakan. Ketika manusia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat, yang diperhitungkan bukanlah apakah kita dikenal sebagai nasionalis, Pancasilais, pejabat, atau tokoh masyarakat. Yang diperhitungkan adalah apakah kehidupan kita benar-benar selaras dengan ajaran Islam atau tidak,” tegasnya.
Om Joy lalu menekankan bahwa pembahasan khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah, namun merupakan refleksi atas kondisi umat yang terpecah dan sering menjadi korban ketidakadilan global.
Ia meyakini, Islam adalah pedoman hidup yang sempurna dan satu-satunya yang diridai Allah. Ini sebagaimana firman Allah Swt., “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu” (QS Al-Maidah [5]: 3).
Terakhir, Om Joy menyampaikan bahwa umat membutuhkan ketakwaan pribadi yang lahir dari Ramadan.
“Sekaligus keberanian untuk membela kaum tertindas melalui jihad, serta menghadirkan kepemimpinan yang melindungi umat dan menegakkan syariat Allah, yaitu Khilafah Islam ala Minhaj an-Nubuwwah,” tutupnya.
Wallahu a‘lam bissawab.