| 32 Views
Hancurnya Mental Anak Karena Kekerasan Fisik dan Seksual Perlu Solusi Akar Sampai ke Daun
Oleh: dr. Erlian Fitri
Seorang ibu datang ke klinik kesehatan mengeluhkan pusing dan tidak bisa tidur karena anak gadisnya yang duduk di jenjang SMA tak kunjung mau sekolah dan selalu pulang diatas jam 12 malam, tak ayal kadang ketika pulang dalam kondisi tak sadarkan diri, dikarenakanmengkomsumsi miras. Si Ibu dengan tatapan kosong menanyakan kenapa ini terjadi padahal waktu SMP anak ini termasuk si penurut. Kisah ini adalah hanya satu dari ratusan kasus kerusakan mental anak yang terjadi di Indonesia.
Satu dari tiga anak usia 10 sd 17 tahun di Indonesia mengalami kesehatan mental, para psikolog menginfokan bahwasanya ini adalah alarm ”Darurat” bahwa anak di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dan mirisnya kasus anak dalam lingkungan keluarga dan pengasuhan masih mendominasi pengaduan yang diterima KPAI yaitu sebanyak 1097 kasus, sedangkan kekerasan seksual sebanyak 265 kasus. Berulangnya kasus kekerasan pada anak menjadi catatan gelap di negeri ini.
Lantas apa dampaknya pada si anak ? Ada beberapa efek negatif yang akan muncul, diantaranya :
Kunci terbesar penyebab kekerasan pada anak itu sebenarnya adalah sistem sekuler yang diterapkan saat ini. .Paradigma sekuler dengan tidak menjadikan Islam sebagai standar dan dasar dalam mendidik anak, mengakibatkan anak tumbuh menjadi orang tua yang jauh dari ketaqwaan dan ini menurun pada generasi selanjutnya . Selain itu budaya patriarki (dimana peran ibu dianggap harus mendominasi peran pengasuhan dari ayah) kerap menjadikan peran ayah yang hanya dimaknai sebagai pencari nafkah, sehingga alasan sibuk menjadi pembenar bagi para ayah tidak terlibat pada pengasuhan anak. Dalam Islam budaya ini tidak ada, Justru keduanya menjalankan peran yang seimbang sesuai porsinya masing-masing dalam ketentuan Islami tentunya.
Oleh karena itu butuh solusi komprehensif dari akar sampai kedaun untuk memutus tali rantai salah asuh ini.
Akarnya tentu saja menerapkan pola asuh sesuai Islam, seperti penanaman akidah Islam pada anak sejak dini, maka anak tidak akan mengalami lost identity sebagai hamba Allah yang taat. Ibarat rumah akidah ini adalah pondasi yang pembangunannya harus kuat agar rumah bisa kokoh berdiri. Seperti menyekolahkan anak pada sekolah yang memiliki program penguatan aqidah. Di sisi lain orangtua juga harus senantiasa belajar dan memantaskan dirinya untuk berproses menjadi parenting yang mumpuni untuk anak mereka, tidak menyerahkan semua hanya kepada sekolah. Lantas apakah Islam dapat melindungi anak di masyarakat ?
Perlindungan dalam Islam meliputi fisik, psikis, Intelektual , moral ekonomi dan lainnya. Hal ini dalam bentuk memenuhi semua hak-haknya, menjamin kebutuhan sandang dan pangannya, menjaga nama baik dan martabatnya, menjaga kesehatannya. Dalam Islam, terdapat 3 pihak yang berkewajiban menjada serta menjamin kebutuhan anak-anak .Pertama Keluarga sebagai madrasah pertama. Kedua Lingkungan. Masyarakat menjadi barier( pertahanan) kedua setelah keluarga yang berfungsi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tum-bang anak , tidak selvis dan abai dengan lingkungan sekitar, dan hanya dengan sistem sosial Islam, masyarakat akan terbiasa melakukan amar makruf nahi munkar kepada siapapun, dan inilah yang MINUS dalam lingkungan kapitalisme .
Ketiga, negara tentunya menjadi support system di semua lini , dengan ditegakkannya hukum Islam , maka sanksinya akan memberikan efek jera bagi pelaku sehingga meminimalkan bahkan meniadakan kasus kekerasan berulang. Inilah terapi dari akar sampai ke daun yang belum pernah disuntikkan untuk membangun Imunitas (benteng terbaik) di masyarakat.
Dengan Khilafah bukan hanya sebagai distributor utama akan tetapi menjadi PERISAI bagi masyarakat yang berfungsi sebagai Countering kendali layak atau tidaknya sesuatu itu menjadi komsumsi di publik masyarakat dan syariat Islam sebagai obatnya, niscaya akan menjadi imun booster dan solusi terbaik untuk menuntaskan segala permasalahan kekerasan dalam kehidupan, InsyaAllah.