| 67 Views

Guru Dilema Murid Merokok di Sekolah, Moral Remaja Kian Rusak dalam Sistem Kapitalisme! Hanya Sistem Islam Solusinya

Gubernur Banten Andra Soni memediasi Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Cimarga Dini Pitria dengan siswa Indra. (Foto: Biro Adpim Pemprov Banten)

Oleh : Kiki Puspita

Masyarakat digeger kan dengan 630 siswa SMAN 1 Cimarga yang melakukan aksi mogok Sekolah sebagai bentuk protes siswa terhadap pihak sekolah. Masalah ini diakibatkan oleh aksi penamparan seorang siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Insiden ini bermula ketika siswa bernama Indra ketahuan merokok oleh Dini Fitri sang kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. Sang ibu kepala sekolah pun menegur Indra, sang siswa yang ketahuan merokok.  Namun Indra mala berbohong jika dirinya merokok.(dilansir dari detiknews.com,16-10-2025).

Orang tua siswa tersebut tidak terima anaknya di tampar dan melaporkan hal tersebut kepada polisi. Bukannya dukungan atas upaya penegakan kedisiplinan, yang di terima bu Dini justru penonaktifan dari jabatannya oleh Gubernur Banten, Android Soni, sebagaimana di beritakan Kompas.com (15/10/2025).

Belum  pun selesai kasus tersebut, lagi-lagi masyarakat juga di hebohkan dengan Foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok dan mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo. (dilansir dari suara.com/news). Sang guru pun dilema untuk menegur siswa yang merokok, karena takut dianggap melanggar HAM.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta remaja berusia 13 hingga 15 tahun di seluruh dunia menggunakan rokok elektrik atau vape. WHO menyebutkan remaja memiliki kemungkinan sembilan kali lebih besar untuk menggunakan vape di bandingkan orang dewasa.

Sungguh ironis dunia pendidikan saat ini. Sistem Kapitalisme yang diterapkan ternyata terbukti tidak bisa memberikan jaminan kepada para peserta didik. Dalam sistem Kapitalisme siswa justru bertindak bebas diluar batas etika, sementara guru yang ingin menegakkan kedisiplinan justru mala dianggap sebagai penjahat yang melakukan kesalahan. Bahkan tak banyak guru mala dilaporkan ke polisi sampai ada yang di non aktifkan dari jabatannya.

Inilah saatnya kita campakan sistem kufur Kapitalisme ini, dan menggantinya dengan sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. Karena pendidikan dalam sistem Islam memiliki tujuan untuk membentuk kepribadian Islam pada anak didik. Kurikulum yang disusun berorientasi pada upaya mencapai tujuan pendidikan ini yang dimulai dari sebelum mumayiz hingga mumayiz. Pada fase ini, keluargalah yang berperan besar.

Saat memasuki fase pendidikan formal, seorang anak akan dididik sesuai tujuan pendidikan, yakni membentuk kepribadian Islam. Kurikulum yang ada sejalan dengan tujuan ini. Penanaman akidah menjadi yang utama. Sistem pendidikan Islam memahamkah bahwa kesadaran hubungan manusia dengan Allah merupakan kontrol terbaik atas seluruh perbuatan manusia.

Rasa takut kepada Sang Khalik akan mendorong ketakwaan individu anak didik. Keimanan inilah yang akan menjadi landasan kuat dalam menuntut ilmu hingga ia mencapai usia balig. Menginjak usia balig, fondasi keimanan akan menguatkan pemahaman mereka tentang ilmu agama maupun ilmu umum.

Inilah rahasia kegemilangan peradaban Islam hingga menjadi mercusuar pendidikan global pada masanya. Pada saat itu, siapa pun memandang Ilmu dengan lensa akidah. Pemahaman inilah yang memantik semangat menuntut ilmu pada generasi. Mereka mencintai ilmu dan merasakan manfaat ilmu karena ada begitu banyak ayat maupun hadis yang menggambarkan keutamaan seorang ahli ilmu atas manusia lainnya.

Mereka menjadi sosok terpelajar yang berkarakter Islam. Fondasi keimanan yang mereka miliki menjadikan mereka sosok yang khas. Hasratnya terhadap ilmu sangat besar. Pada saat yang sama, besar pula ketakutan mereka pada Sang Pencipta. Ini menunjukkan bahwa dimensi akhirat itu hadir dalam penyelenggaraan pendidikan.

Sistem pendidikan inilah yang seharusnya menjadi alternatif untuk merevisi penyelenggaraan pendidikan hari ini. Tentu saja, sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan tidak boleh menjadi pilihan sebab hanya sistem pendidikan Islam yang mampu menghadirkan output pendidikan yang berkarakter takwa dalam berbagai ilmu.

Di sisi lain, adab dan akhlak adalah perkara mendasar yang menyertai peserta didik. Adab merupakan perkara utama sebelum ilmu. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, engkau jadi mudah memahami ilmu.” Inilah sebab Ibnu al-Mubarok berkata, “Kami mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” 

Maka, mengingat krisis adab yang terjadi hari ini, penting bagi kita kembali mendiskusikan sistem pendidikan Islam. Ini karena hanya Islam yang memiliki visi utuh dalam pembentukan karakter ahli ilmu, bukan yang lain.

Wallahualam bissawab.


Share this article via

61 Shares

0 Comment