| 8 Views

Gonjang-ganjing BBM Sebagai Imbas Gejolak Global

Harga Pertamax naik pada 1 Januari 2025. (Antara/Andika Wahyu)

Oleh: Asih Lestiani

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026—meski rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100/barel di tengah perang antara AS-Israel dan Iran. (BBC News Indonesia, 3/4/2026.

Di beberapa tempat masyarakat harus antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM, atau membeli secara eceran dengan harga tinggi. Kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz. 

APBN menambal subsidi BBM karena harga minyak global naik, tapi tidak mampu bertahan lama, maksimal beberapa minggu saja. Langkah penghematan lainnya yang pemerintah lakukan di antaranya seperti WFH, pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda 4, pengurangan jumlah hari untuk MBG, dan lain-lain.

Pemerintah dalam hal ini tentu sangat dilema. Jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan meningkat dan terjadi gejolak sosial. Belum naik saja, antrean sudah terjadi di beberapa tempat. Tetapi jika tidak dinaikkan, maka defisit APBN akan makin besar. Selain itu, Indonesia sendiri merupakan net importir minyak sehingga tergantung pada pasokan BBM dari luar. 

Kondisi gonjang-ganjing minyak ini sangat menyulitkan masyarakat, baik untuk mendapatkan BBM maupun menjangkau harga BBM yang naik. Kenaikan inflasi juga makin menjadi ancaman. Inilah gambaran negeri yang tergantung pada impor komoditas strategis (BBM). Ekonomi dan politiknya kerap terguncang ketika ada sentimen global. 

Hal ini mustahil terjadi dalam sistem Islam. Karena dalam sistem Islam, kemandirian BBM niscaya akan terwujud. Ya, kemandirian BBM hanya akan terwujud ketika Indonesia tergabung dalam Khilafah dengan negeri-negeri muslim lain. Minyak yang melimpah di wilayah Arab, termasuk Iran, akan didistribusikan untuk seluruh negeri di wilayah Khilafah. Dengan kemandirian BBM ini, Khilafah akan menjadi negara independen, bahkan adidaya, sehingga politik dan ekonominya tidak mudah terguncang akibat gejolak global. 

Walaupun memiliki kemandirian BBM, Khilafah tetap menggunakan BBM dengan bertanggung jawab sesuai kebutuhan berdasarkan syariat. Penghematan dilakukan pada hal-hal yang perlu dihemat, bukan pada pelayanan publik atau kewajiban seperti jihad. Khilafah juga tetap mengembangkan sumber energi selain minyak, seperti nuklir dan lain-lain, sehingga menjamin pemenuhan kebutuhan energi sebagai negara adidaya.

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment