| 25 Views

Generasi Muda dalam Cengkeraman Algoritma Kapitalis: Judol & Pinjol Jadi Instrumen Jebakan yang Disiapkan Sistem

Oleh: Yeni Ummu Fahmi

Di zaman yang penuh serba-serbi modern, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola hidup manusia dengan sangat cepat. Di satu sisi, teknologi telah membuka akses yang luas terhadap informasi, peluang ekonomi, dan jaringan sosial. Namun, di sisi lain, ia juga melahirkan lanskap baru yang memuat berbagai risiko tersembunyi. Risiko ini merupakan ancaman yang tak kasat mata, bekerja diam-diam hanya melalui layar ponsel. Salah satu ancaman nyata adalah kondisi rapuh yang kini menjerat generasi muda. Dalam konteks inilah, fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) tidak dapat dipahami sebagai perilaku devian individual semata, tetapi sebagai hasil interaksi kompleks antara tekanan struktural, logika pasar, serta kerentanan psikologis generasi.

Generasi dalam Lingkaran Risiko Teknologi Digital

Data yang tersedia menunjukkan pergeseran pola konsumsi digital yang signifikan. Pertama, anak muda dari latar belakang ekonomi terbatas menjadi target utama iklan judol dan pinjol. Dikutip dari artikel Tim Kompas, 5 Desember 2025, berbagai studi menunjukkan bahwa kaum muda dengan sumber daya finansial terbatas—terutama laki-laki—paling sering menjadi target iklan berisiko, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform seperti TikTok dan Instagram.

Penelitian di Spanyol menemukan bahwa anak muda kelas bawah menerima hampir dua kali lebih banyak iklan produk keuangan berisiko dibandingkan rekan mereka dari kelas atas. Sebaliknya, kaum muda dari kelas sosial ekonomi lebih tinggi justru lebih sering melihat iklan perjalanan dan rekreasi.

Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku daring, lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Karena anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, mereka menjadi sasaran utama iklan yang menjanjikan penghasilan cepat, tetapi berisiko tinggi.

Hal ini merupakan konsekuensi logis dari algoritma komersial yang memprofilkan pengguna berdasarkan kebiasaan daring, lokasi, preferensi konten, dan aktivitas transaksi. User profiling membuat generasi muda dengan keterbatasan ekonomi dipetakan sebagai kelompok rentan yang berpotensi tinggi merespons iklan layanan keuangan cepat atau hiburan berisiko.

Adapun yang kedua, sebuah survei menunjukkan bahwa 58 persen Gen Z menggunakan pinjol bukan untuk kebutuhan darurat, tetapi untuk kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Fenomena ini menggambarkan pergeseran definisi “kebutuhan” serta perubahan struktur motivasi konsumsi yang lebih hedonistik, dipengaruhi budaya digital yang menormalisasi kecepatan, keinstanan, dan konformitas sosial.

Ketiga, data OJK memperlihatkan lonjakan drastis rekening pinjaman pada kelompok usia muda. Hal ini menggambarkan bahwa masalahnya bersifat sistemik dan terstruktur, bukan hanya individu yang tidak mampu mengelola finansial, melainkan sistem sosial-ekonomi yang membentuk pola ketergantungan pada fasilitas kredit berbasis aplikasi.

Antara Tekanan Ekonomi dan Logika Kapitalisme Digital

Sungguh, fenomena menjamurnya judol dan pinjol tidak bisa dilepaskan dari konteks ekonomi-politik yang lebih luas. Dalam pandangan ekonomi kapitalistik, kompetisi menjadi prinsip dasar. Himpitan ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, dan disparitas pendapatan mendorong sebagian anak muda mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan atau sekadar mempertahankan gaya hidup yang dianggap wajar dalam kultur digital.

Lebih jauh, sistem pendidikan modern nyatanya gagal menginternalisasikan nilai-nilai moral sebagai fondasi perilaku. Orientasi pendidikan yang cenderung berbasis manfaat material dan kesuksesan individual telah mendorong generasi muda menilai tindakan melalui kacamata keuntungan yang bersifat jangka pendek. Nilai sekuler-materialistik di ruang sosial turut memperkuat kecenderungan ini.

Di level digital, algoritma platform bekerja dengan logika dan perhitungan ala kapitalisme. Ia dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, mengidentifikasi kerentanan psikologis, serta mengoptimalkan promosi konten yang menjanjikan interaksi tinggi. Dalam kerangka ini, keselamatan pengguna bukanlah prioritas utama. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila konten judol dan iklan pinjol begitu mudah menyusup ke ruang digital, terutama pada pengguna muda yang secara psikologis lebih rentan terhadap impulsivitas dan tekanan sosial.

Islam Membangun Ketahanan Generasi dan Menjamin Kesejahteraan Seluruh Rakyat

Fenomena judi online dan pinjaman online yang menjangkiti generasi muda tidak dapat dilepaskan dari dominasi algoritma kapitalis yang menjadikan manusia sebagai objek pasar. Dalam sistem ini, perilaku, emosi, dan kerentanan generasi dimonetisasi melalui mekanisme digital yang berorientasi pada keuntungan. Karena itu, solusi terhadap persoalan ini tidak cukup berhenti pada pendekatan individual atau teknis, melainkan memerlukan kerangka sistemik yang menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola teknologi. Sungguh, Islam menawarkan paradigma alternatif yang menempatkan kesejahteraan rakyat dan ketahanan generasi sebagai tujuan utama sistem sosial.

Dalam pandangan Islam, kesejahteraan bukanlah hasil kompetisi bebas yang diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sebaliknya, ia merupakan tanggung jawab sistemik yang harus dijamin negara kepada setiap individu rakyatnya. Sistem ekonomi Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar—sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan—sebagai hak individu, bukan sebagai komoditas yang hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu bersaing secara ekonomi.

Jaminan kesejahteraan ini memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan generasi. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi dan distribusi ekonomi berjalan adil, tekanan struktural yang mendorong generasi muda mencari jalan pintas seperti judi online atau pinjaman berbunga tinggi dapat diminimalkan.

Selain aspek ekonomi, Islam menempatkan pendidikan sebagai pilar utama pembentukan generasi. Pendidikan Islam tidak semata berorientasi pada pencapaian materi, melainkan pada pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah islamiyyah). Dalam kerangka ini, standar perbuatan bukan ditentukan oleh untung–rugi materi, tetapi oleh halal dan haram.

Prinsip ini menjadi hal mendasar yang membedakan Islam dengan sistem pendidikan sekuler-materialistik yang cenderung menilai keberhasilan dari aspek pencapaian ekonomi semata. Ketika generasi dibentuk untuk menyandarkan pilihan hidupnya pada nilai moral, mereka memiliki ketahanan internal terhadap praktik spekulatif, konsumtif, dan berisiko tinggi.

Selain itu, teknologi dipahami sebagai sarana yang harus diarahkan untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu, pengelolaan infrastruktur digital tidak dilepaskan dari nilai dan tujuan sosial. Dalam kerangka tersebut, ruang digital idealnya dibangun di atas paradigma perlindungan, bukan eksploitasi. Infrastruktur digital yang berlandaskan nilai Islam diarahkan untuk membatasi konten merusak, mencegah normalisasi maksiat, serta menutup ruang bagi kriminalitas digital yang menargetkan generasi muda.

Sungguh, ketahanan generasi tidak hanya dibangun melalui kebijakan struktural, tetapi juga melalui kesadaran identitas. Islam memandang generasi muda sebagai subjek peradaban, bukan sekadar konsumen atau tenaga kerja masa depan. Pemahaman inilah yang nantinya membentuk orientasi hidup yang melampaui kepentingan individual jangka pendek.

Proses pembinaan Islam yang ditopang oleh lingkungan sosial yang sehat serta aktivitas dakwah yang bersifat intelektual dan ideologis akan senantiasa membangun kesadaran generasi dari kerapuhan. Dakwah dalam konteks ini dipahami sebagai aktivitas edukatif dan persuasif yang mengajak pada perubahan pemikiran dan perilaku secara rasional.

Penutup

Dalam menghadapi cengkeraman algoritma kapitalis yang menjadikan judi online dan pinjaman online sebagai instrumen eksploitasi generasi muda, Islam menawarkan pendekatan dan solusi yang komprehensif. Syariat Islam menyatukan jaminan kesejahteraan ekonomi, pendidikan, pengelolaan teknologi, serta pembinaan identitas generasi sebagai pembangun peradaban.

Dengan demikian, persoalan judol dan pinjol tidak dipandang sebagai kegagalan individu semata, melainkan sebagai konsekuensi dari sistem yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Islam memberikan alternatif dan solusi atas seluruh problematika hidup dari akarnya, bukan sekadar mengobati dampak yang ditimbulkan oleh logika pasar digital.

Wallahu a‘lam bish-shawab.


Share this article via

20 Shares

0 Comment