| 590 Views

Gen Z Dalam Jeratan Pengangguran

Oleh : Sofi Kamelia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir 10 juta penduduk usia 15-24 tahun (Generation Z/Gen Z) tidak sekolah, tidak bekerja atau tidak mengikuti pelatihan (NEET) alias pengangguran. Secara rinci, dari 44,4 juta penduduk berusia 15-24 tahun pada Agustus 2023, sekitar 22,5 persen atau 9,98 juta masuk dalam kategori NEET. Meski terhitung masih tinggi, namun angka ini turun sebesar 0,97 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Bila dilihat berdasarkan tempat tinggalnya, jumlat NEET di perkotaan lebih tinggi yakni 5,23 juta orang dibandingkan di pedesaan sebanyak 4,65 juta orang. Sementara berdasarkan jenis kelamin paling banyak perempuan sebanyak 5,72 juta orang dan laki-laki sebanyak 4,16 juta orang.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah pun buka suara terkait persoalan ini. Menurutnya, penyebab utama tingginya angka pengangguran pada kelompok tersebut adalah mereka yang masih mencari dan belum kunjung mendapat pekerjaan. Secara rinci, ia menyebut pengangguran berusia 18 tahun adalah lulusan SMA/SMK, sementara yang berusia 24 tahun adalah lulusan S1/D4 dari perguruan tinggi.

"Dilihat dari data, memang pengangguran kita ini terbanyak adalah mereka yang statusnya mencari pekerjaan, mereka yang sudah lepas dari pendidikannya," jelas dia saat ditemui di Istana Presiden, Jakarta. Kamis (30/5/2024) dilansir dari CNBC Indonesia.

Miris memang, penyebab gelombang pengangguran yang tidak pernah surut menunjukan bahwa banyaknya keterbatasan lapangan pekerjaan yang tersedia. Pertumbuhan ekonomi yang rendah menyebabkan perusahaan menghentikan rekrutmen karyawan baru atau bahkan mengurangi tenaga kerjanya.

Juga karena adanya ketidaksesuaian antara lapangan pekerjaan yang tersedia dengan pendidikan yang dimiliki gen z serta pelatihan dan kebutuhan pasar kerja. Meskipun pemerintah sudah memiliki program Kartu Prakerja yang salah satu tujuannya untuk meningkatkan skill dari angkatan kerja di Indonesia.

Tetapi program tersebut perlu diimbangi dengan upaya pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja. Jadi, ketika mereka sudah diberikan pelatihan yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia kerja, maka pekerjaan itu sendiri sudah harus tersedia. Dan faktanya itu tidak bisa direalisasikan. 

Akhirnya yang selalu dijadikan solusi praktis oleh pemerintah adalah dengan mendorong adanya realisasi investasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar. Padahal dengan masuknya para investor asing dan para pekerjanya menyebabkan tergerusnya para pekerja lokal termasuk semakin banyaknya privatisasi SDA ( Sumber Daya Alam).

Inilah salah satu dampak dari penerapan sistem sekuler kapitalisme di negara ini. Sistem ekonomi liberal telah menjadi akar masalah pengangguran. Sehingga menimbulkan permasalahan lain yang lebih besar. Berkurangnya Perekonomian keluarga menyebabkan banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya, kasus stunting yang terus bertambah, terjadinya KDRT, smpai kasus pembunuhan ataupun bunuh diri gara gara faktor ekonomi. 

Negara sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyatnya seolah berlepas tangan dalam mengatasi persoalan ini. Yang jadi fokus utama negara adalah kepentingan para investor bukan kepentingan rakyatnya. Sehingga rakyat harus berusaha mencari solusi sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berbeda jauh dengan Islam ketika dijadikan sebagai asas dalam kehidupan. Negara Islam memiliki cara untuk mengatasi pengangguran diantaranya adalah :

  1. Departemen pendidikan menyelanggarakan pendidikan yang mampu menghasilkan para teknokrat dan saintis yang bersyaksiyah Islam dan mampu mengelola sumber daya alam dengan baik. Biaya pendidikan dijamin oleh negara.
  2. Mendirikan sejumlah industri yang berhubungan dengan harta kekayaan milik umum. Banyak masyarakat termasuk pemuda yang diserap untuk bekerja di sejumlah industri tersebut.
  3. Mencetak generasi sebagai pemimpin atau negarawan bukan pengangguran. Departemen pendidikan akan menyelenggarakan pendidikan di perguruan tinggi yang mampu mencetak para ulama, mujtahid, pemikir, pakar, pemimpin, hakim, dan fukaha.

Negara akan selalu memastikan kebutuhan rakyatnya terpenuhi. Karena didalam Islam negara berperan sebagai pengurus dan pelayan bagi rakyatnya. Rosulullah bersabda "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Wallahu a'lam bish shawwab.


Share this article via

119 Shares

0 Comment