| 199 Views
Gedung Ponpes Ambruk, Cermin Jaminan Fasilitas Pendidikan Buruk
Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
Duka tengah menyelimuti tanah air, sebuah bencana telah menimpa pondok pesantren Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Senin 29/9/2025, bangunan mushola 3 lantai ambruk saat santri sedang melaksanakan salat asar berjamaah. Sebagian santri sempat berlarian keluar namun sebagian besar tertimpa material bangunan. Diperkirakan lebih dari 100 santri berada di mushola saat bangunannya runtuh.
Upaya pencarian korban yang tertimbun reruntuhan dilakukan dengan cara manual serta mengerahkan alat-alat berat ke lokasi, ambruknya bangunan mushola diduga karena pondasi yang tidak kuat menahan beban pengecoran lantai atas. Dibutuhkan waktu sepekan lebih untuk mengevakuasi para korban dari reruntuhan, Ratusan personel dari beberapa institusi, seperti Basarnas, TNI, Polri, BPBD Provinsi Jatim, dan tim SAR serta para sukarelawan berjibaku menyisir lokasi guna mengevakuasi para korban.
Badan Pencarian dan Penyelamatan Nasional (Basarnas) menyatakan bahwa jumlah total ambruknya bangunan mushola pondok pesantren Al Khoziny Sidoarjo mencapai 171 orang. "Tim penyelamat gabungan berhasil mengevakuasi 171 korban, dengan korban selamat 104 orang, sementara 67 korban dinyatakan meninggal dunia dengan 8 di antaranya merupakan bagian tubuh korban yang tidak lengkap"ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syafi'i di Sidoarjo, Selasa 7/10 2025. Syafi'i menyebutkan dengan ditemukannya seluruh korban dari lokasi reruntuhan maka seluruh rangkaian misi pencarian dan penyelamatan dinyatakan selesai.( Kutip sumber, Antara News).
Peristiwa ambruknya pondok pesantren ini merupakan cermin buruknya jaminan fasilitas pendidikan di sistem kapitalisme, pondok pesantren merupakan tempat untuk menimba ilmu bagi generasi penerus bangsa, sama seperti sekolah lainnya yang merupakan fasilitas umum yang harusnya menjadi tanggung jawab negara untuk pengadaannya, disinyalir bangunan pondok pesantren yang ambruk memiliki konstruksi bangunan yang tidak kuat serta pengawasan yang buruk, dan dana untuk pembangunan Ponpes sendiri umumnya diambil dari wali santri dan donatur yang terbatas, hal ini terjadi karena pemerintah berlepas tangan akan tanggung jawabnya dalam menyediakan fasilitas pendidikan sehingga membebankannya kepada masyarakat. Beginilah negara yang menerapkan sistem sekulerisme kapitalisme, yang kehilangan visinya untuk meri'ayah rakyatnya. Negara berlepas tangan akan tanggung jawabnya atas urusan rakyatnya.
Islam menempatkan pendidikan sebagai komponen penting dalam membangun sebuah negara. Pendidikan adalah modal dasar negara untuk membangun peradaban Islam yang tangguh, oleh karenanya generasi dan pendidikannya juga harus setangguh peradaban Islam yang akan ditegakkan, Salah satu keunggulan sistem pendidikan Islam yang menyeluruh ialah terbentuknya generasi yang bersaksiyah Islam, negara Islam memiliki kewajiban untuk menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar agar pembelajaran dapat berlangsung kondusif dan nyaman.
Negara Islam bertanggung jawab penuh terhadap fasilitas pendidikan tanpa membedakan sekolah negeri atau pun swasta, adapun fasilitas tersebut adalah berupa bangunan infrastruktur seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai balai penelitian, buku-buku pelajaran, mushola dan lain-lain. Semua infrastruktur pendidikan akan ditanggung sepenuhnya oleh negara melalui pembiayaan pendidikan yang diambil dari pos-pos pendapatan Baitul mal, seperti pos fa'i, Kharaj, dan kepemilikan umum.
Hanya negara yang memiliki visi riayah, yang bertanggung jawab atas urusan rakyatnya, itulah negara yang menerapkan syariat Islam secara Kaffah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, "Pemimpin (Khalifah) itu laksana penggembala dan hanya ia yang bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya" . Dengan visi ini negara Islam tidak akan membiarkan rakyatnya dalam bahaya ataupun membahayakan dirinya apalagi membahayakan orang lain. Hanya Islam yang mampu memberikan jaminan fasilitas pendidikan yang terbaik.
Wallahu a'lam bishowab.