| 88 Views
Filisida Maternal : Ketika Peran Ibu Terasa Membunuh
Oleh: Ni’matul Khusna, S.E.
Aktivis Dakwah Remaja
Dilansir dari MetroTV (9/9/2025), Kasus seorang ibu EN (34) di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ditemukan bunuh diri setelah meracuni anaknya 9 tahun dan 11 bulan. Ditemukan pula surat wasiat yang berisi ungkapan penderitaan dan kekesalan terhadap suaminya karena tekanan ekonomi dan utang.
Kasus serupa juga terjadi di Batang, Jawa Tengah, dua anak perempuan berusia 6 dan 3 tahun ditemukan tewas di Pantai Sigandu, ditenggelamkan ibunya akibat gangguan psikologis yang memicu keinginan untuk bunuh diri yang melibatkan anaknya. (detikjateng, 15/09/2025).
Menurut psikologi forensik, kasus ini disebut filisida maternal. filisida adalah tindakan sengaja orang tua membunuh anaknya. Sedangkan maternal adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ibu atau peran sebagai ibu. Jadi, filisida maternal adalah tindakan sengaja yang dilakukan orangtuanya, yakni ibu untuk membunuh anaknya. (Wikipedia).
Seorang ibu harusnya yang paling besar kasih sayangnya pada anak, mengingat dialah yang mengandung, melahirkan, hingga menyusui anaknya. Jika ibu membunuh anaknya, pasti ada hal yang mengganggu kejiwaannya. Bisa berupa beban berat akibat persoalan ekonomi keluarga dan lain sebagainya. Kasus ini tidak bisa hanya dilihat dari aspek ibu yang kehilangan nalurinya maupun persoalan keluarga saja. Tapi ada banyak faktor yang melatarbelakanginya, yang kompleks dan berhubungan erat sebagai suatu problematika sistemis, mulai dari segi psikologis, sosial, ekonomi, hingga minimnya dukungan kesehatan mental.
Penyebab Terjadinya Filisida Maternal
Lemah iman menjadi awal penyebab terjadinya kasus ini. Ketika lemah iman, kurang mengingat Allah SWT, tidak responsif terhadap ayat Al-Qur’an, kurangnya pemahaman bahwa hidup tempatnya ujian, tidak memiliki pendirian yang kuat, mudah goyah ketika menghadapi kesulitan, kehilangan arah dan tujuan hidup, merasa tertekan juga putus asa. Ketika ujian datang tidak kunjung ada solusi, bunuh diri menjadi solusi terakhirnya.
Faktor penyebab selanjutnya adalah ekonomi. Yang mana ekonomi sebagai penggerak roda kehidupan. Jika ekonomi macet, maka hidup tidak akan berjalan lancar, sedangkan setiap hari kebutuhan akan terus ada. Seperti kebutuhan primer misalnya, kebutuhan utama yang wajib dipenuhi berupa pangan, sandang, papan, ditambah kesehatan dan pendidikan. Ini adalah prioritas utama karena jika tidak terpenuhi, maka kehidupan manusia akan terganggu.
Psikologis juga termasuk salah satu penyebab terjadinya filisida maternal. Stres yang berlebihan setelah menjadi peran baru sebagai ibu. Kurang berjalannya fungsi keluarga, khususnya suami. Ibu merasa tertekan dengan peran barunya, jam tidur yang terganggu karena anak, akibat emosi yang berubah-ubah dalam waktu cepat, ditambah peran suami yang tidak berjalan. Namun, tuntutan menjadi ibu harus sempurna.
Selain itu, minimnya dukungan kesehatan mental. Jika psikologis terganggu, perlunya ibu untuk konsultasi dengan ahlinya. Namun, layanan ini sangat terbatas di negeri ini. Jika pun ada, hanya bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki ekonomi menengah ke atas.
Islam sebagai Solusi Filisida Maternal
Perlunya iman yang kuat. Iman merupakan pondasi utama bagi kehidupan seorang Muslim. Dengan adanya iman, menjadikan kita paham bahwa hidup tempatnya ujian seperti yang dijelaskan dalam firman Allah ta'ala :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Artinya: "Dan sungguh, akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah:155)
Kemudian di ingatkan pula dalam firman Nya salah satu sifat Dunia yang sementara :
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌۖ وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ ٣٩
Artinya: "Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." (QS. Al-Ghafir: 39)
Begitupun tentang ujian adalah bekal untuk akhirat sebagaimana dalam firman Allah ta'ala :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr:18)
Namun perlu di ingat bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya :
لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya... " (QS Al-Baqarah:286)
Dan percaya bahwa setiap ujian pasti ada solusinya sebagaimana dalam firman Allah ta'ala :
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥
Artinya: "Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." (QS.Al-Insyirah: 5)
Dengan adanya iman sebagai pengingat diri ketika mendapatkan kesulitan, sehingga bisa menghindarkan kita dari perilaku tercela, salah satunya bunuh diri.
Selain itu dalam Islam, seorang pemimpin adalah pengurus urusan rakyat. Pemimpin bertanggungjawab dalam mensejahterakan rakyat. Kebutuhan primer (pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan) ditanggung oleh negara. Sumber dananya dari Baitul Maal (kas negara) yang salah satu pendapatannya dari hasil sumber daya alam. Jika kas negara habis, maka akan diberlakukan pajak yang hanya ditujukan kepada laki-laki Muslim kaya saja, namun sifatnya sementara hingga kas negara mulai stabil kembali. Berbeda dengan sistem kapitalisme sekarang ini, di mana pajak diperuntukkan untuk semua rakyat, tidak mengenal kaya atapun miskin.
Selain itu, pemerintah dalam negara Islam wajib menyediakan lapangan pekerjaan untuk para pencari nafkah yaitu laki-laki, jika dalam suatu keluarga tidak ada laki-laki, maka nafkah ditanggung oleh wali atau kerabat dekat, atau jika tidak ada wali, maka di tanggung negara. Sehingga seorang ibu bisa memaksimalkan perannya di rumah dengan tenang karena kebutuhan sudah terpenuhi. Ketika kebutuhan ekonomi terpenuhi, maka psikologis ibu menjadi lebih sehat sehingga memiliki mental yang sehat dan bisa fokus membersamai keluarga, mendidik anak menjadi pejuang peradaban.
Islam menjamin seorang ibu bahagia menjalankan perannya. Selain nafkahnya yang dijamin melalui jalur suami, para wali, hingga negara, kesehatan fisik dan psikis seorang ibu pun dijaga. Bahkan ketika ia sedang hamil atau menyusui ada keringanan boleh tidak berpuasa jika berdampak pada kesehatan dirinya dan bayinya. Perempuan juga dimuliakan dalam kapasitasnya sebagai seorang ibu. Penguasa wajib untuk memastikan para ayah dan suami bisa bekerja mencari nafkah. Kebutuhan pendidikan dan kesehatan akan gratis sehingga beban kehidupan ibu akan menjadi ringan. Naluri keibuannya bisa berkembang sempurna dan ia jalankan juga secara sempurna. Dengan demikian, seorang perempuan untuk menjadi ibu yang sempurna membutuhkan adanya sistem kehidupan yang mendukungnya. Sistem seperti ini hanya ada dalam Islam.
Wallahu a'lam bish shawab