| 82 Views
Fatherless Buah dari Sistem Kapitalis
Ilustrasi anak yang mengalami fatherless (freepik.com)
Oleh : Sri Setyowati
Aliansi Penulis Rindu Islam
Data yang dipublikasikan Kompas 8 Oktober 2025 menunjukkan fakta yang mencengangkan, sekitar seperlima anak Indonesia, atau 20,1 persen (15,9 juta anak), tumbuh tanpa pengasuhan ayah yang dikenal dengan istilah fatherless. (tagar.co, 08/10/2025)
Fatherless adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak yang tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran dan keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Fenomena inilah yang sedang menjangkiti masyarakat kita saat ini. Bukan karena tidak ada ayah, ayah hadir secara fisik, tetapi tidak memberikan kontribusi secara emosional dalam peran pengasuhan dan pendidikan anak. Namun, ada juga yang secara fisik memang tidak ada sosok ayah karena beberapa hal seperti meninggal dunia, perceraian dan lainnya.
Ketika anak tidak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan dari ayah, dia akan kehilangan bagaimana sosok ayah yang sebenarnya. Anak akan kehilangan identitas ayah sebagai pemimpin, menjadi anak yang sensitif, emosional, rasa percaya diri juga akan hilang karena merasa keluarganya tidak utuh. Anak dapat menjadi benci kepada sosok ayah dan rentan depresi. Anak pun cenderung akan mengidolakan sosok lain di luar rumah yang justru bisa menjerumuskan ke dalam hal-hal yang negatif, kenakalan bahkan tindak kriminalitas.
Budaya patrilineal menjadikan peran ayah hanya sebatas sebagai pencari nafkah sedangkan semua peran dalam rumah tangga menjadi tanggung jawab ibu. Memang benar, madrasah pertama bagi anak adalah ibu namun mendidik istri dan anak adalah tanggung jawab suami. Karena itu tidaklah benar hanya ibu yang menanggung beban atas pendidikan anak. Kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.
Dalam sistem kapitalis yang diterapkan saat ini, sumber daya alam hanya dikuasai oleh segelintir orang atau para kapitalis, pemilik modal sehingga menjadikan kehidupan serba sulit, kebutuhan pokok mahal, pendidikan mahal, layanan kesehatan mahal dan lainnya yang serba mahal. Kondisi ini mendorong ayah hanya fokus untuk mencari nafkah demi bisa memenuhi kebutuhan materi keluarganya sehingga tidak ada waktu untuk membersamai dan mendidik anak. Seluruh waktu yang ada hanya untuk pencapaian materi demi memenuhi kebutuhan hidup.
Anak adalah anugerah dan amanah yang dititipkan Allah kepada kita, sudah seharusnya kita merawat dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan dan memberikan contoh peran ayah dalam memberikan pendidikan pada anak, salah satu contohnya adalah seperti yang telah difirmankan oleh Allah Swt. yang artinya, "(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman [31]:13)
Dalam sistem Islam, ayah berperan sebagai pemimpin, pelindung, pendidik dan teladan utama dalam keluarga. Ia harus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak-anaknya sesuai dengan Islam sehingga anak memiliki kepribadian Islam yang akan berpikir dan bersikap sesuai dengan akidah Islam.
Peran ayah akan berjalan baik bila didukung oleh peran negara yaitu dengan mengembalikan sumber daya alam yang dikuasai para kapitalis menjadi kepemilikan umum sesuai syariat. Kemudian negara akan mengelola sumber daya alam tersebut yang hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat. Dengan demikian harga kebutuhan pokok dan layanan publik akan murah bahkan gratis. Hingga beban ayah tidak berat, tidak hanya untuk pencapaian materi semata demi memenuhi kebutuhan hidup. Waktu bersama keluarga pun akan banyak hingga kualitas bersama keluarga menjadi lebih baik. Tentu saja hal tersebut akan bisa dicapai ketika negara menerapkan Islam secara kafah.
Wallahu a'lam bishshawab