| 56 Views
#Escape Keluar Negri Akibat Negara Abai Terhadap Rakyatnya
Oleh : Umu Aqilla
Aktivis Dakwah
Akhir-akhir ini tagar #KaburAjaDulu menggema di media sosial. Tagar ini dimaksudkan sebagai ajakan untuk "kabur" dari Indonesia akibat kekesalan publik terhadap kondisi tanah air. Menurut Drone Emprit, tagar ini pertama kali muncul di X (Twitter) pada September 2023, tetapi baru benar-benar viral pada 14 Januari 2025.
Tren kabur aja dulu muncul dari frustrasi kaum muda terhadap berbagai masalah yang terus berlanjut di Indonesia. Mereka menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak, tingginya biaya pendidikan, ketimpangan pembangunan, dan minimnya kesempatan untuk menyuarakan aspirasi.
Mayoritas penggunanya adalah anak muda berusia 19–29 tahun, yang mencapai 50,81% dari total percakapan. Fenomena ini lahir dari rasa kekecewaan terhadap kondisi ekonomi dan kualitas hidup di Indonesia. Sulitnya mencari pekerjaan, rendahnya upah, dan ketimpangan sosial menjadi pemicu utama (Suara.com, 12-02-2025)
Tagar #KaburAjaDulu dipakai sebagai ungkapan keinginan untuk "pergi" atau "melarikan diri" ke tempat yang menawarkan lebih banyak peluang dan kehidupan lebih baik. Ironisnya, ini bukan tentang benar-benar meninggalkan negara atau pindah ke kota besar, tetapi lebih ke bentuk protes karena mereka merasa tanah air tidak memenuhi kebutuhan mereka. Sadarkah mereka bahwa ketidakadilan hidup saat ini, bukan semata ketidakmampuan penguasa mengelola negara, tapi juga akibat penerapan kapitalisme sekuler yang memang tak berpihak pada rakyat?
Dalam berita lain yang tak kalah menghebohkan, dilansir dari TribunJabar.id (13/2/2025), seorang kepala desa bernama Dodi Romdani di Ciamis rela mengundurkan diri dari jabatannya. Dodi Romdani memilih resign (mengundurkan diri) demi bekerja di Jepang. Padahal, jabatan pemerintahan tersebut merupakan impian dan dianggap sejahtera bagi sebagian orang.
Bagaimana tidak? Ternyata gaji yang diterimanya sebagai kepala desa 10 kali lipat lebih kecil dibandingkan dengan bekerja di Jepang. Diketahui, Dodi Romdani mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Desa Sukamulya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada 2024 lalu, sebagaimana disebutkan dalam unggahan @kerjadijepang.
Apalagi saat ini pemerintah sendiri yang mengabaikan pelayanan kepada publik khususnya pada gen Z. Ada 10 juta penduduk gen Z yang mereka tidak punya pekerjaan. Kemudian setiap tahun ada 1,9 juta anak SMA tidak bisa kuliah. Kemudian ada sekitar jutaan, generasi sandwich yang merekam harus menanggung beban diri mereka dan keluarga mereka.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari fenomen brain drain yang menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi atau liberalisasi ekonomi yang semakin menguat, memperlebar kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang, menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan. Hal ini menunjukkan kegagalan negara kapitalis dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Akar masalah dari semua ini adalah karena kapitalisme dijadikan sebagai asas dalam mengatur negara. Orientasi kapitalisme hanya menjadikan negara berperan sebagai regulator dan fasilitator bagi para pemodal, melupakan perhatiannyan pada kesejahteraan rakyat.
Hal ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri dalam memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sistem kapitalisme yang menjadi dasar negara adalah sumber dari kerusakan yang terjadi. Bagaimana tidak? Peluang yang seharusnya ditawarkan oleh negeri sendiri justru diberikan oleh negara lain. Kesenjangan ekonomi yang semakin lebar memperkuat persaingan antara negara maju dan berkembang. Kegagalan sistem ini seharusnya menyadarkan masyarakat dan penguasa akan rusaknya kebijakan politik yang diterapkan. Kehidupan ini bukan hanya milik para oligarki, tetapi rakyat pun ingin merasakan keamanan dan kenyamanan.
Fakta-fakta di atas dirasa cocok dengan fenomena yang saat ini viral. Bisa kita analisis bahwa kehidupan di negara lain mungkin dianggap lebih menjanjikan. Maka, tak heran jika tagar #KaburAjaDulu mengemuka dan dianggap sebagai solusi praktis sementara bagi kaum yang mendukung tagar tersebut.
Kapitalisme Sekuler Bikin Anak Muda Frustasi
Fenomena #KaburAjaDulu menguat seiring polemik tentang kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, serta tantangan sosial yang dihadapi generasi muda. Banyak warganet yang mengaitkan tren ini dengan keinginan mereka untuk meninggalkan Indonesia dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Berbeda dengan kapitalisme, sistem ekonomi Islam ketika dahulu diterapkan dalam naungan khilafah islamiyah, terbukti menyejahterakan. Mengapa? Karena berlandaskan pada aturan Allah SWT, Sang Maha Pencipta dan paling mengerti akan kebutuhan manusia.
Islam bukan sekadar teori, tetapi telah terbukti mampu menciptakan kesejahteraan. Jika diterapkan, tidak ada lagi generasi yang kecewa dan "kabur", justru orang-orang dari luar negeri akan ingin hidup di dalam sistem Islam Kaffah.