| 226 Views

Dinkes Medan Mencatat Penyakit Cacingan Disebabkan Sanitasi Buruk, Benarkah?

Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Penyakit cacingan belakangan ini ramai di perbincangkan, apalagi setelah viralnya kasus bocah yang bernama Raya yang yang di tubuh kecilnya bersarang hampir 1 kg cacing yang merenggut kesehatannya, hingga keluar dari hidung dan anusnya, Raya dinyatakan meninggal beberapa waktu setelah mendapatkan perawatan ala kadarnya dikarenakan ketidakmampuan biaya dan juga karena tidak memiliki kartu Keluarga dan BPJS. Diketahui lingkungan tempat tinggal Raya berkategori jauh dari sehat, ia kerap berlarian di kolong rumah bersama ayam dengan lantai tanah basah dan bau kotoran yang menjadi sarang penyakit.

Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Medan mencatat bahwasanya penyakit cacingan masih menjadi saat salah satu masalah kesehatan di Indonesia, khususnya yang ditularkan melalui tanah. Tercatat dari bulan Januari hingga Juni 2025 ada 114 kasus cacingan, 62 dialami laki-laki dan 52 perempuan, hal ini diambil berdasarkan dari laporan di 41 Puskesmas kota Medan, kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ( P2P ) Dinkes Medan, Dr Pocut Fatimah Fitri, Senin ( 28/8/2025). Penyakit cacingan juga dapat menurunkan kesehatan gizi, kecerdasan, hingga produktivitas penderita serta berdampak pada kerugian ekonomi. Cacingan juga menyebabkan kehilangan karbohidrat protein dan darah sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Prevalensinya tinggi terutama pada masyarakat kurang mampu dengan kondisi sanitasi yang buruk, ungkapnya.(m.gosumut.com)

Badan kesehatan dunia (WHO) menyebut selain malaria lebih dari separuh penyakit di negara berkembang disebabkan oleh infeksi parasit cacing. Sementara itu Bank Dunia menilai pemberian obat cacing pada anak sekolah merupakan langkah kesehatan yang paling efektif dari sisi biaya. Pemerintah juga telah menetapkan Surat Keputusan Bersama SKB 4 Menteri yakni Kementerian Kesehatan,, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan Nasional melalui program Usaha Kesehatan Sekolah ( UKS), untuk mendukung pengendalian kecacingan.(m.gosumut.com)

Betapa ironisnya keadaan negeri ini, di tengah kemajuan teknologi dan di abad yang serba modern saat ini ketika semuanya serba canggih namun sayangnya anak-anak masih harus berjibaku meregang nyawa dengan penyakit klasik yang bisa dicegah dengan sabun dan air bersih, nyawa anak-anak terancam dengan penyakit yang terkategori sebenarnya adalah merupakan penyakit yang sepele.

Sesungguhnya bila ini semua ditelusuri dapat dilihat kesenjangan sosial yang sangat menganga, dan hal ini tidak lain adalah disebabkan karena diterapkannya sistem hari ini yakni sistem kapitalisme sekuler, di mana dalam sistem ini untuk mendapatkan makanan bergizi, air bersih dan lingkungan yang sehat tidaklah mudah, kemiskinan yang melanda negeri ini menjadikan jutaan anak-anak tumbuh dengan kekurangan asupan makanan yang bergizi. Anak-anak dari keluarga miskin sangat rentan terjebak stunting, penderita gizi buruk dan penyakit akibat dari sanitasi yang kotor. Penerapan sistem ekonomi kapitalis menyebabkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin menganga lebar, sehingga untuk memiliki tempat tinggal yang layak pun menjadi sangat mustahil.

Kemudian di sistem kapitalis juga lemah dalam sistem kesehatan dan jaminan sosial, birokrasi kependudukan dalam sistem kapitalis juga sangat bertele-tele, bahkan harganya lebih mahal dari nyawa seorang anak, sistem kapitalisme telah menjadikan pelayanan Kesehatan sebagai barang dagangan atau komoditas bukannya kewajiban. Orientasi dari rumah sakit saat ini adalah untung rugi bukan lagi pada penyelamatan jiwa manusia. Padahal kesehatan adalah hak paling dasar yang seharusnya diberikan tanpa syarat dan tanpa diskriminasi.

Hilangnya peran negara dalam mengurusi urusan umatnya dapat kita lihat dari kegagalannya dalam menyediakan lingkungan hidup yang sehat bagi warganya, sanitasi hanya milik sebagian kecil orang yang berduit, itu orang miskin sanitasi sangatlah mahal, ditambah edukasi tentang Kesehatan tidak mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama rakyat miskin, akibatnya penyakit yang harusnya mudah untuk diberantas terus memakan korban.

Dari sini dapat kita lihat dengan jelas bahwa sistem kesehatan tidak bisa dipisahkan dari sistem ekonomi, jika keduanya tidak sejalan maka akan timpang pelaksanaannya, dalam ekonomi kapitalis, negara memberikan kebebasan kepada segelintir orang berduit dan asing untuk mengeruk sumber daya alam semuanya, sementara rakyat kecil dibiarkan terlunta-lunta. Tidak heran jika kemudian yang terjadi adalah gizi buruk dari anak rakyat miskin, sanitasi juga buruk dan terjadilah kemiskinan terstruktural. Pengobatan yang mahal karena kesehatan yang dijadikan komoditas menjadi bukti konkret yang nyata tentang ketidakadilan yang diberikan oleh sistem kapitalis terhadap pelayanan kesehatan bagi rakyat dan anak-anak.

Berbeda dengan Islam yang menempatkan negara sebagai pelindung dan penanggung jawab penuh atas kemaslahatan rakyat. Islam juga telah menetapkan bahwa negara wajib menyediakan pelayanan kesehatan yang gratis dan berkualitas, serta menjamin distribusi pangan yang bergizi dan mengelola sumber daya alam untuk sepenuhnya demi kepentingan rakyat bukan diberikan kepada segelintir elit ataupun investor asing.

Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam mampu menanggulangi berbagai macam penyakit dengan kebijakan yang tegas, distribusi layanan yang adil dan juga pelayanan kesehatan yang prima. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Imam, (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus (HR Bukhari Muslim). 

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

45 Shares

0 Comment