| 176 Views

Derita Sudan Akibat Sistem Kapitalis yang Membebaskan Penjajahan

Oleh: Umi Silvi

Sudan kembali dilanda krisis kemanusiaan. Ribuan rakyatnya mengungsi, pembunuhan massal dan pemerkosaan terjadi tanpa henti. Negeri Muslim terbesar ketiga di Afrika ini sejatinya sangat kaya—memiliki Sungai Nil yang subur, emas melimpah, dan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, di balik potensi besar itu, Sudan justru terjerumus dalam penderitaan panjang yang tak kunjung berakhir.

Konflik di Sudan sejatinya bukan sekadar bentrok etnis atau perebutan kekuasaan lokal. Di balik layar, negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris memainkan peran besar. Mereka mengatur skenario geopolitik dengan melibatkan sekutu-sekutu bonekanya seperti entitas Zionis dan Uni Emirat Arab. Semua dilakukan demi mempertahankan pengaruh dan menjarah sumber daya alam Sudan dalam rangka proyek “Timur Tengah Baru” yang berlandaskan kepentingan ekonomi dan ideologi kapitalistik.

Sudan kian mencekam. Dikutip dari Republika.id (31/10/2025), dalam tiga hari terakhir tercatat 1.500 warga Sudan tewas akibat perang antara pasukan Rapid Support Force (RSF) dan Militer Sudan (SAF) yang berebut kekuasaan atas negara tersebut. Humanitarian Research Lab (HRL) Yale melaporkan bahwa citra satelit El-Fasher menunjukkan adanya serangan pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja serta sistematis terhadap warga sipil yang berusaha melarikan diri dari wilayah yang dikuasai RSF pada Minggu (26/10/2025).

Kondisinya benar-benar mengerikan. Penembakan membabi buta terjadi di masjid dan Rumah Sakit Saudi, tempat pasien dan petugas kesehatan menjadi korban. Jatuhnya wilayah El-Fasher menjadikan RSF hampir menguasai seluruh wilayah Darfur Barat. Sejak 2023, RSF telah terlibat perang saudara dengan tentara Sudan yang menewaskan puluhan ribu orang akibat kelaparan, pemboman, kekerasan seksual, dan eksekusi di luar hukum. Lebih dari 12 juta orang terpaksa mengungsi.

Ironisnya, perang saudara di Sudan bukanlah hal baru. Konflik serupa telah berlangsung sejak 1983 hingga 2005, dan kini terulang kembali. Saat ini Sudan menjadi ajang perebutan kekuasaan dua jenderal: Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin militer Sudan (SAF), dan Muhammad Hamdan Dagalo alias Hemedti, pemimpin RSF. Perang yang memasuki tahun ketiga ini telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Namun, konflik Sudan bukan semata perang internal atau etnis. Di baliknya ada keterlibatan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris bersama sekutunya—Zionis Israel dan UEA—yang memperebutkan pengaruh politik dalam proyek “Timur Tengah Baru” serta sumber daya alam Sudan yang melimpah. Ironisnya, negara-negara imperialis kapitalis yang kerap mengeklaim diri sebagai juru damai justru berlomba menjarah kekayaan Sudan tanpa memedulikan penderitaan rakyatnya.

Data WHO menyebutkan 460 pasien dan keluarga mereka tewas dalam pembunuhan massal di Rumah Sakit Bersalin Saudi serta bangunan lain yang dijadikan pusat medis. PBB melaporkan sedikitnya 60.000 orang mengungsi dari El-Fasher, sementara 100.000–150.000 warga masih terperangkap tanpa akses makanan, air, dan layanan medis.

Pernyataan senada disampaikan juru bicara kelompok dakwah ideologis internasional wilayah Sudan (28/10/2025). Ia menuding adanya keterlibatan Amerika Serikat di balik pembantaian di Sudan. “AS-lah yang memulai perang di Sudan dan menggerakkan para agen agar bara perang tetap menyala selama dua setengah tahun, hingga akhirnya mereka bisa mengusir semua pihak dan memegang kendali penuh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Amerika berusaha menutupi kejahatan negara-negara sekutunya seperti Chad, Kenya, Libya, dan Uni Emirat Arab. “Amerika menjadi pihak pertama yang menutup mata, diikuti negara lain, terhadap genosida dan pembunuhan berbasis ras yang dilakukan RSF—kejahatan yang jauh dari nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Sudan merupakan salah satu negara terbesar di Afrika dengan mayoritas penduduknya Muslim dan berbahasa Arab. Negara ini menempati peringkat ke-10 dunia dari segi luas wilayah, yakni 1.886.000 kilometer persegi. Sudan juga memiliki jumlah piramida terbanyak dan Sungai Nil yang membentang lebih panjang dibanding wilayah Mesir.

Selain itu, Sudan kaya akan sumber daya mineral seperti emas, krom, besi, mangan, tembaga, perak, asbes, mika, talk, gipsum, garam, dan marmer. Emas menjadi komoditas utama dengan kadar tinggi yang mencapai lebih dari 100 gram per ton di beberapa lokasi.

Ironisnya, di balik kekayaan melimpah itu, Sudan justru terjerat krisis kemanusiaan berkepanjangan. Konflik di Sudan bukan sekadar pertikaian etnis, tetapi sarat dengan campur tangan Amerika Serikat, Inggris, serta negara boneka seperti Zionis Israel dan UEA. Semua itu tak lepas dari perebutan pengaruh politik dan perampokan sumber daya alam yang strategis.

Lembaga-lembaga internasional sejatinya menjadi alat untuk melanggengkan hegemoni negara-negara adidaya penjajah di negeri-negeri Muslim. Sudan yang kaya SDA kini hanya menjadi objek permainan politik global. Karena itu, umat harus meningkatkan kesadaran ideologis agar mampu membaca problem dunia melalui kacamata peradaban: pertarungan antara ideologi Islam dan ideologi non-Islam.

Saatnya umat Islam menyadari dan meningkatkan level berpikirnya agar mampu membaca konflik ini secara ideologis. Belum tuntas penderitaan saudara kita di Palestina, Uyghur, dan Rohingya, kini Sudan pun porak-poranda. Rakyat menjadi korban di antara peluru dan kelaparan. Anak-anak dan perempuan terlunta-lunta tanpa rumah, keluarga, maupun harapan, hidup dalam ketakutan menanti bantuan yang tak kunjung datang.

Perang peradaban antara Islam dan ideologi non-Islam adalah keniscayaan. Simpati umat tidak cukup hanya dengan memboikot produk yang berafiliasi dengan Zionis, tetapi juga harus menyadari adanya peran negara-negara seperti UEA dan sekutunya yang turut menindas negeri-negeri Muslim. Persatuan umat dalam sistem Islam—Khilafah—adalah satu-satunya solusi hakiki untuk menuntaskan krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan hingga ke akarnya.

Krisis Sudan seharusnya menjadi cermin bagi seluruh dunia Islam. Kita tidak boleh lagi melihatnya sebagai konflik lokal, tetapi sebagai bukti nyata bahwa selama umat Islam tunduk pada sistem selain Islam, penderitaan akan terus berulang. Saatnya setiap individu Muslim membangun kesadaran politik dan ideologis.

Perubahan besar tidak akan datang dari lembaga dunia atau elite politik yang tunduk pada asing, tetapi dari umat yang beriman dan sadar akan tanggung jawabnya kepada Allah Swt. Ketika kesadaran ini menyebar luas, maka kebangkitan Islam yang sejati akan lahir—bukan sekadar mengganti wajah penguasa, tetapi mengganti sistem kehidupan secara menyeluruh.

Sudan, Palestina, Suriah, dan negeri-negeri Muslim lainnya hanya akan bebas dari penjajahan jika umat bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Inilah janji Allah bagi kaum beriman yang menegakkan agamanya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (QS an-Nur: 55).

Kini, tugas kita bukan hanya bersedih atas nasib Sudan, tetapi menjadikannya panggilan kebangkitan. Sudah saatnya dunia Islam bangkit dari tidur panjang, menolak dominasi asing, dan kembali pada sistem Ilahi yang menjamin keadilan, kemuliaan, serta kesejahteraan sejati bagi seluruh umat manusia. 

Wallahu’alam bissawab.


Share this article via

30 Shares

0 Comment