| 13 Views

Dari Pendidikan Menuju Pembebasan Palestina: Ketika Kesadaran Menjadi Senjata

Oleh: Sumayyah Jauza Maulida

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Membahas solusi pembebasan Palestina bukan berarti merencanakan pembebasan tanpa perjuangan yang hanya mengandalkan solusi tak matang. Banyak aspek yang perlu ditata dengan rapi bukan hanya mengirimkan bantuan pasokan makanan dan pakaian pada rakyat Palestina, lalu berharap mereka bertahan dan mampu membebaskan diri dari konflik yang melanda. Bukan juga dengan solusi dua negara yang tentu saja ini tidak sempurna menyelesaikan masalah konflik Zionis Israel terhadap rakyat Palestina. 

Banyak pasokan bantuan yang terus datang silih berganti ke beberapa wilayah Palestina. Relawan terus berdatangan membantu warga Palestina agar tetap bisa menjalankan kesehariannya, banyak jurnalis dari negara luar datang memberikan berita baru terkait perkembangan kehidupan di sana. Tapi, apakah itu semua dapat merubah nasib warga Palestina? Akankah bisa mengembalikan tanah suci ke tangan mereka hanya dengan bantuan sandang pangan yang belum tentu akan terus sampai ke tangan mereka?

Generasi demi generasi Palestina telah datang dan pergi dari kehidupan ini. Mereka membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan pondasi utama dalam membebaskan Palestina. Oleh karena itu, membahas pembebasan Palestina dimulai dari aspek paling mudah dijangkau terlebih dahulu yaitu ‘pendidikan’. 

Prof. Dr. Abdul Fattah Muhammad El- Awaisi, seorang pakar hubungan internasioal dan studi Baitul Maqdis pernah menerangkan soal Triangel of Freedom (Segitiga Pembebasan). Dalam konsep ini, terdapat tiga komponen utama yang jadi pembahasan yaitu Knowledge/Academic Preparation, Political Preparation, Military Preparation. 

Pendidikan menjadi salah satu urgensi dalam membebaskan Palestina dari kekangan zionis Israel dan tangan-tangan di belakangnya. Mengapa demikian? Karena ini bukan sekadar pembebasan secara fisik, ada aspek non-fisik yang menjadi kunci utama pembebasan ini yaitu pemikiran. Seluruh umat Islam di dunia ini sedang dijajah pemahamannya, sehingga mereka mati rasa terhadap penderitan saudaranya di luar sana. Mereka enggan bergerak melakukan suatu hal besar yang justru berdampak pada pembebasan Palestina.

Seperti misalnya paham nasionalisme yang membuat orang-orang membatasi interaksi tolong menolong pada negara luar yang butuh bantuan besar. Di tambah dukungan yang kurang dari para petinggi di negaranya sehingga mereka hanya bisa diam di atas penderitaan saudara-saudaranya di luar sana. Efek dari penjajahan pemikiran ini sudah mencapai titik setiap Muslim tidak sadar dirinya seorang korban dari kejahatan liberalisme. 

Maka lewat proses pendidikan, umat Muslim akan ditanamkan kesadaran akan pentingnya memahami kehidupan ini dengan benar sebagaimana tujuan Allah menciptakan mereka. Pola pikir mereka disesuaikan dengan paham Islam yang pasti. Sehingga hal ini akan membuat mereka bangun dari keterpurukan dalam berpikir dan kembali sadar bahwa tak semestinya penjajahan itu terjadi. 

Alasan mengapa pendidikan menjadi pilar utama pembebasan Palestina karena kemerdekaan Palestina tidak mungkin terwujud hanya melalui bantuan berbagai komunitas semata. Palestina membutuhkan dukungan kekuatan besar, dan kekuatan semacam itu hanya dapat diwujudkan oleh sebuah negara. Namun, bagaimana mungkin sebuah negara akan hadir membela Palestina jika para pemimpinnya masih terlelap dalam penjajahan cara berpikir.

Seperti halnya yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat tatkala akan mendirikan daulah. Langkah pertama yang dilakukan adalah menguatkan pemahaman orang Islamnya terlebih dahulu, lalu setelah itu akan muncul kesadaran dan baru bisa membentuk kekuatan besar. Setelah terbentuk kekuatan itu, Rasulullah mulai membebaskan daerah-daerah lain dari kekuatan orang-orang kafir. Maka, tidak ada cara lain membebaskan Palestina sebelum pemahaman umat Muslim dibenahi terlebih dahulu. Dan cara untuk membenahi pemahaman itu lewat pendidikan.


Share this article via

18 Shares

0 Comment