| 28 Views
Bullying Butuh Solusi Tuntas
Oleh : Deby Lelyana
Nyaris setiap hari kita disuguhi berita-berita tentang bullying (perundungan) melalui media massa . Lalu muncul dalam benak penikmat berita berbagai pertanyaan seiring kasus demi kasus bullying yang terjadi tiada henti. Solusi apakah yang bisa diambil? Salah siapakah ini? Apa efek bagi korban? Hukuman apa yang bisa memberi efek jera? Pengaruh dari manakah tindakan menyimpang ini?
Talkshow dan podcast di sosial media berlomba- lomba menghadirkan narasumber yang dianggap kompeten. Mulai dari psikolog, KPAI , hingga Menteri Pendidikan. Kemudian apakah muncul solusi hakiki yang kemudian bisa diaplikasikan dan memberi dampak positif atau minimal mengurangi bullying?
Nyatanya jumlah kasus semakin bertambah. Bullying pun saat ini telah menjelma menjadi beraneka wajah seiring dengan perkembangan zaman. Mulai dari bullying fisik, verbal, cyber, dan psikologis. Perlu adanya perhatian terhadap akar masalah problematika ini sehingga semua pihak harus memaksimalkan perannya.
Keluarga
Bagaimana sebuah keluarga bisa menumbuhkan anak dengan karakter luhur jika kedua orang tuanya gagal memberikan contoh sikap yang patut ditiru. Orang tua yang enggan menimba ilmu berkaitan dengan tumbuh kembang anak maka pengasuhan pun tidak bisa maksimal. Belum lagi jika anak hanya diasuh oleh orang tua tunggal, atau karena kondisi tertentu anak dititipkan ke kakek dan neneknya.
Lingkungan
Tetangga atau teman sepermainan di sekitar rumah juga sedikit banyak memberi warna kepribadian seorang anak. Interaksi yang intens terlebih jika anak sudah baligh, maka akan ada kecenderungan bahwa teman lebih memahami perasaannya. Disinilah penting memilih lingkungan rumah yang positif.
Sekolah
Sebuah Institusi yang paling disorot terkait tindak bullying adalah sekolah. Hari ini sekolah mengambil porsi waktu yang cukup banyak dalam keseharian seorang anak. Mulai dari SD,SMP, SMA sudah jamak kita lihat anak pulang sore atau bahkan menjelang waktu Maghrib. Jika lingkungan sekolah tidak kondusif, teman atau guru ada yang berperilaku negatif, kurikulum abai terhadap pentingnya adab dan akhlak, minimnya literasi dalam memilih role model yang baik, maka potensi bullying hanya tinggal menunggu waktu untuk muncul.
Media Sosial
Variabel ini meskipun pendatang baru namun pengaruhnya luar biasa terhadap perilaku anak. Hampir setiap anak mulai usia SD sudah dapat mengakses media sosial. Baik aktif maupun pasif. Anak sebagai penonton saja atau ikut berinteraksi. Dua- duanya sama terkena dampak dari media sosial. Menjad sebuah bahaya jika tidak diimbangi dengan kemampuan memilah dan memilih apa yang layak dilihat.
Negara
Institusi yang berpengaruh besar namun keberadaannya dalam sering terabaikan dalam bullying ini adalah peran negara. Negara seharusnya memiliki kewenangan dalam membuat peraturan, mengantisipasi potensi perundungan, juga menyediakan penanganan dampak berkelanjutan terhadap korban dan pelaku. Faktor penyebab bullying baik dalam dunia nyata maupun dunia maya ada di tangan negara. Bagaimana arah perbaikan generasi jika sebuah negara abai terhadap hal ini?
Kita lihat betapa kompleks masalah ini. Ketika satu variabel sudah memaksimalkan ikhtiarnya untuk membentuk generasi dengan karakter yang baik, tetapi di sisi lain masih ada kemungkinan untuk
terpapar pengaruh negatif dari variabel lain.
Fenomena bullying ini sebenarnya bukan hal baru, hanya cara dan media saja yang berubah. Sejatinya para utusan Allah pun tidak luput dari dari tindakan bullying. Salah satunya yang paling tragis adalah kisah Nabi Yusuf yang dibully oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. Dimasukkan sumur tanpa baju dan makanan dengan harapan Yusuf kecil perlahan akan wafat karena kedinginan atau kelaparan. Sosok mulia Rasulullah saw. juga berkali-kali mengalami perundungan yang dilakukan baik oleh kaumnya sendiri maupun orang asing yang belum mengenal beliau.
Kerap kita dengar korban bullying rentan menjadi pelaku di kemudian hari. Sungguh miris. Tampaknya kita harus kembali ke dua sosok mulia yang pernah menjadi korban namun tidak lantas terpuruk dan kemudian menjadikan dendam sebagai bahan bakar untuk membalas di kemudian hari.
Nabi Yusuf dan Rasulullah saw. merupakan dua dari sekian banyak sosok hebat yang telah dihadirkan Allah dalam kehidupan kita. Kajian tentang kehidupan dan akhlak para utusan Allah dan para sahabat masih sangat relevan dalam permasalahan bullying. Tentu hal ini akan terwujud dengan sinergi dari beberapa variabel di atas. Hal terpenting adalah adanya rujukan atau referensi peraturan seperti apa yg harus ditegakkan oleh negara terkait bullying. Cara mendidik seperti apa yang harus diterapkan oleh orang tua dan kurikulum seperti apa yang harus diajarkan di sekolah.
Islam memiliki jawaban atas semua pertanyaan ini. Sudah saatnya kita memahami Islam sebagai “way of life”. Menerapkan islam secara kaffah (keseluruhan) dalam kehidupan. Islam harus menjadi referensi kita dalam menimbang, berpikir, kemudian mengambil keputusan karena hanya Allah sebagai pencipta kita yang mengetahui dengan pasti apa yang terbaik untuk seluruh alam semesta dan segala isinya.