| 65 Views
Bukti Kegagalan Kapitalisme Tidak Membawa Kebahagiaan Hakiki
Oleh : Dewi yuliani
Berita saat ini khususnya pada generasi z dan milenial yang kini rata-rata sudah berusia di atas 20 tahun keatas terdapat fenomena yang ternyata dikenal dengan nama kidulting sebuah panduan dari kata merujuk pada orang-orang dewasa yang masih memanjakan diri dengan hal-hal yang biasanya membahagiakan anak-anak.
Apalagi belumnya nama ini salah satu pejabat tinggi negeri ini juga menjadi sorotan setelah ruang kerjanya terlihat dipenuhi berbagai mainan, ia mengaku koleksi tersebut menjadi sumber semangat dalam bekerja psikologi klinis dari Tabula rasa Arnold Lukito menjelaskan bahwa kidalting ini bukan sekedar trend melainkan bentuk respon psikologis terhadap tekanan hidup modern.
Bisa kita lihat bersama di tengah tekanan hidup yang kian menyesatkan sebagian orang dewasa kususnya generasi Z memang merasa menemukan ketenangan melalui hal-hal sederhana termasuk bermain atau mengoleksi mainan yang identik. Sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari akar persoalan yang lebih mendalam yaitu cara pandang hidup dalam sistem kapitalisme sekulerisme dalam sistem ini manusia dibentuk untuk mengejar kebahagiaan melalui kepemilikan materi dan pemenuhan hawa nafsu semata.
Akibatnya dari dampak kidulting ketika tekanan hidup meningkat baik karena tuntutan ekonomi yang diciptakan kapitalisme kondisi karir maupun ekspektasi sosial banyak orang mencari pelarian dalam hal-hal yang memberi sensasi kebahagiaan instan termasuk bermain atau mengoleksi mainan layaknya anak-anak.
Mirisnya lagi fenomena ini juga yang menjangkiti para pemimpin dan pejabat publik saat ini yang seharusnya mereka berpikir strategis visioner dan tangguh dalam menghadapi persoalan bangsa sistem sekuler liberal yang diterapkan negara telah menjadikan negara abai terhadap pembentukan generasi.
Pendidikan hari ini juga tidak lagi diarahkan untuk membangun kepribadian Islam kepada generasi muda hari ini melainkan sekedar mencetak individu-individu yang siap bekerja dan konsumtif terhadap produk kapitalistik akibatnya lahirlah generasi yang rapuh secara mental dan haus validasi dan lebih sibuk membangun citra daripada menunaikan amanah, jika mental seperti ini dibiarkan menjalankan tata kelola negara ke arah kepemimpinan akan kabur negara pun kehilangan orientasi dalam menyelesaikan problem rakyat karena pemimpinnya lebih sibuk mencari pelarian emosional daripada memikul tanggung jawab dengan kesembuhan dalam kehidupan.
Berbeda halnya didalam sistem Islam standarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada harta jabatan ataupun kenikmatan dunia yang fana melainkan pada tercapainya ridho Allah subhanahu wa ta'ala Allah ta'ala Allah SWT telah berfirman: sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik Quran surah ar-ra'du ayat 29.
Karena itu Islam memandang bahwa kebahagiaan tidak sebatas perasaan senang atau bebas dari masalah tetapi kondisi batin yang tenang karena hidup sesuai dengan syariat. Didalam sistem Islam seluruh aspek kehidupan baik politik ekonomi pendidikan sosial dan budaya diatur berdasarkan hukum Allah bukan hawa nafsu manusia.
Dengan penerapan sistem ini kesejahteraan masyarakat bukan hanya mimpi melainkan kenyataan yang terbukti sepanjang sejarah peradaban Islam dalam sejarah panjang khilafah islamiyah masyarakat hidup dalam keseimbangan antara kemakmuran lahir dan ketenangan batin. Bisa kita lihat bersama pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz misalnya kesejahteraan mencapai tingkat yang luar biasa hingga hampir tidak ditemukan lagi orang miskin yang mau menerima zakat yang melimpah karena pengelolaan ekonomi Islam dijalankan dengan prinsip keadilan dan amanah tanpa korupsi dan penindasan rakyat.
Rakyat juga merasa terlindungi oleh negara Islam sementara itu pemimpin Islam atau Kholifah juga hidupnya begitu sederhana takut akan hisab Allah dan memandang jabatannya bukan sebagai kehormatan melainkan sebagai beban tanggung jawab yang berat dihadapannya.
Tak hanya itu Islam juga mencetak generasi melalui pendidikan yang berbasis Islam tidak hanya mencetak tenaga kerja tetapi juga membentuk manusia yang beriman berakhlak mulia dan bertakwa juga telah memiliki visi dakwah global.
Karena itulah lahir ilmuwan seperti Al khawarizmi dan Al Farabi yang keilmuannya tidak sekedar untuk kemajuan dunia tetapi juga untuk kemaslahatan umat semua itu lahir dari masyarakat yang dibangun di atas pondasi akidah Islam yang kuat dan kokoh bukan seperti sekulerisme yang memisahkan iman dari kehidupan. Pemimpin dalam Islam juga memiliki karakter khas India adalah pengurus umat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : imam ataupun pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang dipimpinnya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Seorang pemimpin yang berkepribadian Islam akan senantiasa bertakwa adil dan memiliki sifat lembut serta penuh kasih kepada rakyatnya lihatlah contoh Umar bin Khattab radhiyallahu Anhu yang rela memanggul sendiri karung gandum di malam hari untuk memberi makan rakyatnya yang kelaparan dengan penerapan sistem Islam dalam bingkai khilafah lahirlah masyarakat yang beriman, adil, dan sejahtera tidak ada ketimpangan sosial ekstrem tidak ada pemimpin yang hidup mewah sementara rakyatnya sengsara semua tunduk patuh kepada hukum Allah inilah sistem yang bukan hanya menentramkan jiwa tetapi juga mengangkat derajat manusia di dunia dan akhirat sebab kebahagiaan sejati hanya akan terwujud jika manusia hidup dalam ketaatan kepada sang pencipta dan negara berdiri di atas landasan syariatnya
Wallahu allam bishawab