| 5 Views
Beirut Kembali Diguncang: Hari Kedua Serangan Israel, Drone Hezbollah Menyasar Pangkalan Israel—Warga Mengungsi, Sekolah Jadi Penampungan
Al Jazeera - BEIRUT — Pagi di Beirut pada Selasa itu tidak dimulai dengan bunyi bel sekolah, melainkan dengan dengung pesawat dan suara ledakan dari arah selatan kota. Di Dahiyeh, kawasan pinggiran selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai kantong padat penduduk, warga kembali menenteng tas seadanya: dokumen, pakaian tipis, sedikit makanan, dan satu hal yang paling berat—rasa takut.
Untuk hari kedua berturut-turut, Israel kembali menggempur Beirut. Serangan terbaru menghantam Haret Hreik di Dahiyeh, setelah sebelumnya rentetan serangan mengenai pinggiran kota. Israel menyebut targetnya adalah pusat komando dan fasilitas penyimpanan senjata Hezbollah di Beirut.
Di saat yang sama, Hezbollah mengumumkan telah meluncurkan “swarm of drones” (serangan drone berkelompok) ke pangkalan udara Ramat David di Israel utara, menyasar situs radar dan ruang kendali—yang diklaim sebagai balasan atas serangan Israel di sejumlah wilayah Lebanon.
“Gelombang Pengungsian”: Ketika Warga Pergi Sejak Detik Pertama Serangan
Koresponden Al Jazeera di Beirut menggambarkan situasi yang berubah dalam hitungan menit: begitu serangan dimulai, orang-orang langsung bergerak keluar dari zona yang ditandai sebagai target. Arus itu cepat—seperti gelombang—karena sebagian warga sudah pernah mengalami pola serupa pada konflik sebelumnya.
Pemandangan paling menyentak datang dari pusat kota: sekolah-sekolah di Beirut ditutup, bukan karena libur, melainkan karena banyak gedung sekolah dialihfungsikan untuk menampung ribuan warga yang terusir dari pinggiran selatan.
“Sekolah bukan lagi tempat belajar hari ini,” ujar seorang warga kepada media lokal (narasi yang berulang dalam banyak liputan). “Sekolah jadi tempat bertahan.”
Israel: “Bukan Operasi Darat,” Tetapi “Tindakan Taktis” di Perbatasan
Israel juga menyatakan pasukannya “beroperasi” di Lebanon selatan sebagai langkah “pertahanan ke depan” di wilayah perbatasan. Juru bicara militer Israel, Letkol Nadav Shoshani, menekankan bahwa ini bukan operasi darat, melainkan penempatan taktis di titik-titik tambahan untuk mencegah serangan Hezbollah ke warga Israel.
Di sisi Lebanon, kantor berita pemerintah melaporkan militer Lebanon meninggalkan sejumlah “posisi maju” di sepanjang perbatasan—tanda bahwa situasi di garis depan semakin rawan dan cepat berubah.
59 Titik Diperingatkan: Perintah Pengosongan Paksa Memperluas Ketakutan
Selain serangan udara, faktor yang mempercepat kepanikan adalah perintah pengosongan paksa. Israel mengeluarkan pemberitahuan pengungsian bagi sekitar 59 area di Lebanon, termasuk beberapa lingkungan di Dahiyeh. Dalam unggahan resmi, Israel menyebut sedang menargetkan “pusat komando” dan gudang senjata Hezbollah.
Bagi warga sipil, daftar titik itu terdengar seperti peta bahaya yang bergerak: hari ini satu ruas, besok bisa meluas ke ruas lain.
Korban Bertambah dan Pemerintah Lebanon “Membalik Arah”
Sehari sebelumnya, serangan Israel ke pinggiran Beirut dan wilayah selatan Lebanon dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya, memicu ketakutan gelombang baru konflik besar.
Di tengah tekanan, pemerintah Lebanon mengambil langkah politik yang paling keras dalam beberapa waktu terakhir: Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan Lebanon akan melarang aktivitas militer Hezbollah, menyebut aktivitas bersenjata itu ilegal, dan meminta aparat keamanan mencegah serangan yang berasal dari wilayah Lebanon.
Langkah ini memperlihatkan retakan di dalam negeri: di satu sisi, Lebanon tidak ingin terseret menjadi arena perang regional; di sisi lain, Hezbollah menilai pelarangan itu tidak adil dan menegaskan bahwa urusan “perang dan damai” semestinya diputuskan negara—namun mereka juga menilai negara lemah menghadapi serangan Israel.
Perang Regional Membuka Front Baru
Eskalasi di Lebanon kini tidak berdiri sendiri. Peristiwa ini terkait dengan konflik regional yang meluas setelah serangan AS–Israel terhadap Iran memicu rangkaian respons dan pembukaan “front-front” baru di kawasan. Beirut, lagi-lagi, berada di persimpangan: menjadi kota yang menanggung konsekuensi dari pertarungan geopolitik yang lebih besar dari dirinya.
Penutup: Ketika Kota Bertahan, dan Rumah Menjadi Kenangan Sementara
Di Dahiyeh, di Haret Hreik, di jalan-jalan yang tiba-tiba macet oleh orang-orang yang pergi, Beirut mengulang satu adegan yang terlalu sering terjadi dalam sejarahnya: warga sipil menanggung rasa takut paling awal, sebelum diplomasi menemukan kata-kata yang cukup kuat untuk menghentikan ledakan.