| 35 Views

Banjir Melanda Di Sumatera, Isyarat Dibalik Keserakahan Manusia

Foto udara Pidie Jaya, Aceh, setelah banjir (27/11/2025) by Fachrul Reza

Oleh: Ummu Nayra

Aktivis Dakwah 

Dalam beberapa hari terakhir ini cuaca sangat ekstrim, hujan yang mengguyur seolah tak mau sudah, suhu yang tadinya panas kini berubah membuat manusia kedinginan, bahkan yang paling hebat lagi banjir dan longsor melanda diberbagai wilayah di Indonesia khususnya di pulau Sumatra.

Namun hal ini bukan kali pertama terjadi. seolah tamu yang selalu datang disetiap tahunnya, kasus banjir seakan sudah menjadi rutinitas yang harus disambut warga disetiap tahun.

Lalu mengapa hal ini kerap terjadi?
Apakah benar pengaruh dari cuaca ekstrim ataukah bentuk imbas daripada perbuatan manusia itu sendiri? 

Tercatat di daerah Sumatera, tersebar di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan kota Sibolga bahwa korban meninggal yang sudah dikonfirmasi sekitar berjumlah 19 orang.
Namun data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Basarnas bahwa bisa jadi ada penambahan korban seiring masih diberlakukannya evakuasi para korban. 

Bahkan 50 orang terpaksa mengungsi kehutan yang berada di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Terekam dalam video yang sempat diambil salah satu korban bahwa mereka memohon agar bupati setempat segera mengerahkan bantuan kepada mereka dikarenakan dikiri dan kanan sudah longsor, sehingga sudah tidak ada jalan keluar lagi. (BBC News Indonesia)

Tak dapat dipungkiri, bencana banjir dan longsor yang terjadi khususnya didaerah Sumatra bukan hanya akibat dari cuaca ekstrim semata, tidak lain mungkin hasil daripada keserakahan para penguasa dalam melakukan aksi oligarki untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa berfikir lagi dampak akibatnya bagi warga sekitar.

Penebangan kayu secara masif yang dilakukan mengakibatkan kerusakan hutan serta banyak hewan yang kehilangan habitatnya, dan tentu saja hal ini memicu terjadinya banjir. Hal ini dimungkinkan bahwa terdapat gelondongan kayu yang ikut terbawa arus banjir, serta didapati banyak gajah yang kehilangan tempat tinggalnya.

Ditambah lagi diketahui bahwa terdapat pertambangan emas yang beroperasi serta perataan hutan yang kini menjadi kebun sawit ilegal. Lalu kemana para penguasa itu saat banjir melanda daerah tersebut? Dengan santainya pemerintah daerah mengatakan bahwa ini adalah musibah, sembari memberi bantuan kemanusiaan berupa mie instan agar terlihat seperti Super Hero tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Padahal tidak mungkin para pembabat itu melakukan aksinya kalau bukan atas persetujuan para pejabat yang terdapat keuntungan dari sebuah tandatangan diatas kertas.
Ya, mereka bisa tertidur pulas dirumah mereka dengan berselimut, sementara warga yang terdampak banjir harus Kehilangan rumah bahkan keluarga mereka.

Inilah buah daripada sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini, dimana para penguasa sudah tidak lagi menggunakan hati nuraninya serta memikirkan pentingnya sebuah amanah demi keuntungan materi semata. Alhasil rakyatlah yang merasakan musibah sambil menunggu musibah selanjutnya demi keserakahan yang mereka lakukan.

Firman Allah dalam surah Ar-Rum:41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Begitulah Allah berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41, bahwa sesungguhnya manusia adalah salah satu penyebab terjadinya kerusakan alam.

Lalu langkah apa yang seharusnya diambil sebagai pembelajaran serta pembenahan atas hal ini? Tentu saja penerapan Islam secara kaffah sebagai solusinya. Karena hanya dengan sistem Islamlah segala kebaikan akan tertuai. Karena Islam mempunyai konsep bahwa manusia adalah (Khalifah ) penjaga dibumi, bukan sebagai perusak.

Islam juga melindungi kelestarian alam semesta demi kemaslahatan bersama, menyeimbangkan keberdampingan hidup antara manusia, hewan dan alam semesta.
Segala kekayaan alam dikelola oleh negara secara baik tanpa merusak, serta melibatkan umat dalam pengelolaannya. Artinya tidak akan ada peran pihak asing didalamnya.

Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan sumber daya alam. Hal ini tentu saja dapat menghindarkan manusia dari keserakahan dan ketamakan. Sehingga keberlangsungan hidup manusia dapat berjalan seiring kebutuhan bukan hasrat birahi kepuasan semata.

Pemimpin dalam Islam tahu betul akan tugasnya sebagai pelayan bagi umatnya, sehingga tidak akan ada unsur meraup keuntungan pribadi dalam setiap upaya yang dilakukan. Artinya apapun yang dilakukan oleh penguasa semata-mata adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan umat.

Masyaallah, begitu indahnya hidup didalam Daulah Islam. Segala hukum yang diberlakukan oleh penguasa kepada umat semata karena aturan Allah saja, bukan hukum yang dibuat oleh manusia. Sehingga yang tercipta adalah keindahan dan kenyamanan, karena sesungguhnya apapun yang Allah perintahkan adalah baik untuk hambanya.

Wallahu'alam bisshawab.


Share this article via

14 Shares

0 Comment