| 8 Views

Anggaran Operasional Piala Dunia 2026 Dipangkas Lebih dari US$100 Juta: Efisiensi FIFA, Alarm untuk Kota Tuan Rumah

CendekiaPos - NYON/MIAMI — Di balik gemerlap trofi dan jargon “turnamen terbesar sepanjang sejarah”, ada realitas yang jarang terlihat kamera: rapat anggaran, angka-angka yang disisir ulang, dan kalimat yang selalu bikin tegang semua panitia lapangan—“hemat.”

Menjelang Piala Dunia 2026, FIFA disebut memangkas anggaran operasional lebih dari 100 juta dolar AS. Instruksi efisiensi itu datang dari markas FIFA di Swiss dan dikirim ke kantor FIFA di Miami, membuat sejumlah departemen diminta menekan pengeluaran demi menjaga arus kas organisasi.

Kebijakan ini jadi sorotan karena menyentuh sektor yang bukan sekadar “kosmetik acara”, melainkan urat nadi penyelenggaraan: keamanan, transportasi, hingga aksesibilitas suporter.

“Katanya bisa cuan US$11 miliar, kok malah dipangkas?”

Yang membuat publik bertanya-tanya, pemangkasan ini muncul tak lama setelah Presiden FIFA Gianni Infantinosebelumnya menyebut Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan pendapatan sampai US$11 miliar. Namun yang justru terasa pertama di lapangan adalah tekanan di sektor operasional—bagian yang paling menentukan pengalaman jutaan penonton.

FIFA sendiri menyatakan evaluasi anggaran merupakan hal wajar jelang turnamen besar, dan efisiensi dilakukan agar dana bisa lebih banyak dialokasikan untuk pengembangan sepak bola global. Seorang juru bicara FIFA menyebut peninjauan efisiensi dilakukan untuk memastikan biaya tetap terkendali dan hal itu “tidak seharusnya mengejutkan” karena evaluasi anggaran selalu dilakukan sebelum tiap turnamen.

Kota tuan rumah mengeluh: “Pendapatan diambil FIFA, biaya keamanan kami yang tanggung”

Masalahnya, di sisi lain, kota-kota tuan rumah justru menanggung beban yang membengkak—terutama untuk biaya keamanan. Dalam skema yang digambarkan laporan tersebut, FIFA memegang penuh pemasukan utama seperti tiket, hak siar, hingga parkir stadion. Sementara pemerintah lokal wajib menjamin keamanan pengunjung menggunakan dana publik.

Ketegangan menguat ketika FIFA disebut tidak mau bertanggung jawab atas keamanan di luar perimeter stadion. Bagi kota-kota penyelenggara, ini bukan detail kecil: jutaan suporter tidak hanya “hidup” di dalam stadion, tapi juga di jalan, transportasi, fan zone, hotel, dan ruang publik.

Situasi makin rumit karena dukungan dana dari pemerintah federal juga disebut belum pasti. Kota seperti Boston bahkan masih mencari tambahan anggaran untuk menutup kebutuhan keamanan.

Fans juga kena imbas: tiket dan parkir disebut makin mahal

Jika anggaran operasional dipangkas, sementara tanggung jawab keamanan banyak jatuh ke pemerintah lokal, sisi lain yang ikut jadi perbincangan adalah biaya yang harus dibayar fans.

Dalam laporan itu, harga tiket Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah. Tiket standar fase grup disebut bisa menyentuh sekitar US$700 (sekitar Rp11 juta), sedangkan tiket kategori bawah untuk final diperkirakan bisa menembus kisaran Rp140 juta.

Keluhan juga muncul soal biaya parkir stadion. Di area MetLife Stadium, tarif parkir disebut bisa mencapai US$225, termasuk bagi penyandang disabilitas. Ditambah lagi penerapan kebijakan harga dinamis, yang dinilai sebagian pihak terlalu agresif dalam memaksimalkan keuntungan di pasar sepak bola Amerika Utara.

Kenapa ini terasa genting?

Piala Dunia 2026 bukan turnamen biasa: skala lebih besar, pertandingan lebih banyak, dan lintas negara tuan rumah (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko). Dalam format sebesar itu, logistik dan keamanan bukan “pos biaya”, melainkan “pos kepercayaan”. Satu celah kecil bisa berubah jadi problem besar.

Itulah sebabnya pemangkasan anggaran operasional menimbulkan pertanyaan publik: apakah efisiensi ini benar-benar sekadar penataan, atau sinyal bahwa beban turnamen makin ditumpukan ke kota-kota tuan rumah dan penonton?

Di permukaan, Piala Dunia 2026 tetap dipromosikan sebagai pesta terbesar sepak bola. Tetapi di balik layar, pemangkasan anggaran ini membuat satu hal jadi jelas: pesta raksasa butuh biaya raksasa—dan kini semua pihak sedang bernegosiasi siapa yang harus menanggungnya.


Share this article via

2 Shares

0 Comment