| 23 Views

Algoritma Medsos Berhasil Menjebak Generasi Muda

Oleh: Rara Al-Haqqi

Praktis, menggiurkan, dan menguntungkan, tetapi berisiko menjadi alternatif bagi generasi muda untuk mendapatkan dana dari pinjol dan judol. Ya, dana untuk memenuhi keinginan mereka demi mencapai kebahagiaan dan terlihat terpandang di mata sosial, meskipun mereka tidak mengetahui bagaimana cara melunasinya.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr. Vera Intanie Dewi, hasil riset Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menemukan bahwa 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan gaya hidup serta hiburan (Kompas.com, 28 November 2025).

Kemudian, penelitian di Spanyol menemukan bahwa anak muda kelas bawah, terutama anak laki-laki, menerima hampir dua kali lebih banyak iklan produk keuangan berisiko dibandingkan rekan mereka dari kelas atas, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform seperti TikTok dan Instagram. Anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, sedangkan kaum muda dari kelas sosial ekonomi lebih tinggi justru lebih sering melihat iklan perjalanan dan rekreasi. Dari sinilah algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku daring, lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka (Kompas.id, 5 Desember 2025).

Generasi Muda Dirusak

Mengejutkan, demi gaya hidup, generasi muda rela menanggung segala risiko meskipun risiko tersebut merugikan diri mereka sendiri. Terutama ketika mereka mulai terjerat pinjol dan judol tanpa berpikir panjang mengenai akibatnya. Inilah permainan algoritma di media sosial yang senantiasa mengintai generasi muda agar mengikuti permainan mereka. Disadari atau tidak, mau atau tidak, ketika ada peluang iklan produk keuangan berisiko muncul, maka iklan tersebut akan terus hadir dan menawarkan iming-iming kemudahan. Dengan demikian, iklan semacam ini akan terus mencari mangsa baru setiap detiknya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka generasi muda yang diharapkan menjadi penerus peradaban akan musnah karena tidak dipersiapkan dengan baik. Wajar jika banyak generasi muda yang tidak mengenal jati dirinya, kemudian mengalami stres, bahkan menjadikan bunuh diri sebagai jalan keluar. Rapuhnya generasi muda hari ini tentu tidak lepas dari peran orang tua, lingkungan, dan negara. Mereka yang dipandang telah mampu ternyata belum siap menghadapi rumitnya kehidupan.

Hal ini terjadi karena mereka tidak dipersiapkan, dibekali, dan diarahkan dengan baik dan benar. Di sisi lain, banyak pihak justru abai terhadap kondisi generasi muda dengan alasan mereka sulit diatur, ingin bertindak sesuka hati, tidak mau menerima nasihat, tidak peduli, dan berbagai label negatif lainnya. Nilai-nilai inilah yang memperlebar jarak antargenerasi. Ditambah lagi, negara abai terhadap kerusakan yang terjadi di dunia generasi muda. Akibatnya, dunia mereka semakin gelap, seakan problematika generasi muda tidak dapat terselesaikan dan tidak memiliki solusi.

Kondisi ini diperparah oleh sistem yang diterapkan saat ini, yaitu sistem yang rusak, sehingga kerusakan generasi muda dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Inilah sistem kapitalisme liberalisme yang membebaskan rakyatnya melakukan apa saja, termasuk generasi muda. Dalam sistem ini, kenakalan dan kerusakan generasi muda dianggap lumrah karena dianggap sebagai fase mencoba hal baru dan kebebasan berekspresi, meskipun itu salah.

Islam Menjaga Fitrah

Berbeda halnya jika sistem Islam diterapkan. Sistem Islam memandang generasi muda sebagai aset yang harus dijaga dan dipersiapkan untuk masa depan. Mereka tidak boleh dibiarkan begitu saja, apalagi sampai dirusak oleh gaya hidup yang menyesatkan.

Untuk menghasilkan generasi yang unggul, di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Negara akan mempersiapkan dan memfasilitasi generasi muda secara maksimal dan sebaik-baiknya. Generasi muda akan ditanamkan akidah yang kuat serta kesadaran akan hubungannya dengan Allah Swt. Para pemuda juga akan dirangkul agar senantiasa berada dalam koridor ketaatan dan mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Dengan demikian, tidak ada celah atau dorongan untuk melanggar hukum syarak, karena mereka menyadari bahwa diri mereka berharga serta selalu mendapatkan perhatian, penjagaan, dan perlindungan.

Sebagaimana wasiat Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Aku wasiatkan kepada kalian, perlakukanlah para pemuda dengan baik. Sesungguhnya mereka tulus dan mudah disentuh perasaannya. Lihatlah, orang-orang yang berkumpul denganku adalah para pemuda, sedangkan para orang tua menentangku.” (Imam Asy-Sya’rani, Tanbihul Mughtariin).

Sejarah peradaban Islam pun menjadi bukti nyata keunggulan umat Islam selama lebih dari 13 abad. Rasulullah saw. memiliki barisan pemuda tangguh, seperti Ali bin Abi Thalib yang menyatakan keislamannya pada usia 10 tahun; Arqam bin Abi Arqam (15 tahun) yang menyediakan rumahnya sebagai pusat pengkaderan dakwah Islam; Talhah bin Ubaidillah (16 tahun) yang melindungi Nabi dengan tubuhnya dari belati dan anak panah; Zayd bin Tsabit (13 tahun) yang berkontribusi dalam pengumpulan lembaran Al-Qur’an sekaligus sebagai penghafalnya; serta Usamah bin Zaid (17 tahun) yang diangkat menjadi panglima perang oleh Nabi saw. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda, khususnya kaum muslim, dipersiapkan untuk menjadi pelopor perubahan dengan mengoptimalkan seluruh potensi terbaik yang mereka miliki. Hal ini hanya akan terwujud dalam sistem Islam yang memiliki aturan yang jelas dan menyeluruh, karena Islam senantiasa menjaga fitrah manusia.

Wallahu a’lam bisshawab.


Share this article via

51 Shares

0 Comment