| 70 Views

Ada Apa Dengan Sistem Pendidikan Yang Berlaku Saat Ini ?

Oleh : Nining

Kasus bullying disertai kekerasan dalam dunia pendidikan masih kerap terjadi, kasusnya terus mengalami peningkatan secara signifikan. Beberapa kasus yang baru dan lagi viral terjadi adalah santri yang membakar asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah di Aceh Besar pada 31 Oktober. Polisi mengungkapkan bahwa ternyata, “Pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya,”. (dilansir dari kumparanNEWS, 7 Nopember 2025)

Kasus selanjutnya ledakan bom di SMAN 72 di Jalan Prihatin Nomor 87, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat siang, 7 Nopember lalu. (dilansir dari CNN Indonesia, 7 Nopember 2025).

Mengamati dua kasus tersebut, bahwa pelakunya adalah anak remaja usia sekolah. Permasalahan yang dihadapi pun sama, keduanya mengaku telah menjadi korban perundungan (bullying). Pelaku mengalami beban mental karena ejekan, dikucilkan, dilecehkan oleh teman-temannya. Maka dengan cara itulah mereka berniat melampiaskan dendam. 

Faktor Penyebab Bullying

Kasus bullying ini sudah menggejala di berbagai daerah, hal ini menunjukkan bukti problem sistemik dalam dunia pendidikan. Jumlah kasusnya yang terus meningkat signifikan, kadar kekerasan makin beragam, dampaknya pun kian mengerikan. Telah nampak bahwa kejahatan yang dilakukan kedua pelaku tidak bisa diremehkan karena dampaknya begitu besar bagi keselamatan umum, baik berupa korban jiwa maupun fasilitas yang ada. 

Setiap adanya kejadian pasti ada sebab dan akibat. Banyak faktor yang menjadi penyebab kasus bullying dalam sistem pendidikan saat ini, diantaranya yaitu :
1. Salah satu yang berkontribusi besar adalah pengaruh dari media sosial. Dengan segala kecanggihannya, luasnya medan jangkauan,  media sosial telah menjadi alat efektif bagi penyebaran berbagai konten negatif yang dapat memengaruhi akal dan jiwa para penggunanya, terutama para remaja dengan kepribadian yang masih labil. Dari media sosial menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain sebagai pelampiasan kemarahan atau dendam.
2. Disfungsi peran orang tua, serta kian rapuhnya struktur keluarga dan masyarakat, termasuk disorientasi lembaga pendidikan, media sosial seolah sudah berganti peran menjadi guru dan teman bagi para remaja yang bermasalah secara sosial. 
3. Pendidikan saat ini tegak di atas asas yang rusak, yakni paham sekularisme yang menihilkan peran agama dalam kehidupan. Kurikulum pendidikan yang makin menyingkirkan aspek agama dan justru mendorong para pembelajar untuk hanya siap menjadi robot para kapitalis sekaligus menjadi manusia-manusia yang sekuler, liberal, individualistis, dan materialistis. Pendidikan saat ini telah gagal dalam membentuk kepribadian Islam.

Islam Adalah Solusinya

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna dengan seperangkat aturan yang datangnya langsung dari Allah SWT. Aturan-aturannya berfungsi sebagai solusi  tuntas bagi seluruh aspek kehidupan. Begitu pula sistem pendidikan dalam Islam memiliki tujuan yang demikian mulia, yakni melahirkan SDM berkepribadian Islam dan memiliki skill mumpuni di berbagai aspek kehidupan. 

Proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif, membentuk pola pikir dan pola sikap islami, tidak hanya fokus pada pencapaian nilai materi, tapi juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah.

Dalam pengamalannya kurikulum pendidikan diterapkan atas asas akidah Islam. Menjadikan adab sebagai dasar pendidikan. Sehingga keberadaan risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dan profil generasi khairu ummah benar-benar bisa diwujudkan.

Negara (khilafah) wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial. Dengan adanya fungsi negara dalam memberikan jaminan dan perlindungan khususnya dalam dunia pendidikan, maka dengan sendirinya semua keburukan akan menjauh. Hampir mustahil ditemukan kasus perundungan, kebebasan pergaulan, dan berbagai aktivitas rendah dan hina lainnya pada satuan pendidikan Khilafah.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.


Share this article via

15 Shares

0 Comment