| 319 Views

80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Kehidupan Semakin Jauh Dari Sejahtera

Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Serba-serbi peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 tahun ini, diliputi dengan berbagai ironi. Banyaknya persoalan yang menimpa rakyat negeri ini, dimulai dari adanya ancaman gelombang PHK besar-besaran di berbagai sektor usaha, berdasarkan dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat statistik (BPS), terdapat 939 038, bekerja yang terkena PHK di 14 sektor usaha berdasarkan klasifikasi KBLI,  pada periode yang sama penyerapan tenaga kerja tercatat tumbuh sebanyak 523 383 orang, dengan demikian secara total terjadi pengurangan tenaga kerja sebanyak 415 655 orang, hal itu diungkap oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara kspn Ristadi kepada media Indonesia Jumat 8 Agustus 2025.

Mengutip dari Tirto.id-- Kondisi ekonomi kelas menengah di Indonesia memasuki pertengahan tahun ini masih pontang-panting, daya beli mereka masih lesu dan cenderung habis untuk sekedar urusan sandang dan operasional harian, narasi pemerintah yang menyebut perekonomian Indonesia terus melejit, seolah sama dengan menyebut kelas menengah kita macam terjadi bonsai, terus tumbuh namun tak mampu berkembang lebih dari itu. Sementara itu menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), mencatatkan penurunan simpanan nasabah perorangan di perbankan pada triwulan 1-2025, bahwasanya simpanan individu turun 1,09% secara tahunan. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat mulai menggunakan tabungan mereka untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini telah membuktikan bahwa saat ini masyarakat Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Penurunan daya beli masyarakat adalah jurang yang semakin menganga antara laju kenaikan biaya hidup real dengan pertumbuhan pendapatan mereka. Biaya hidup semakin menjulang sementara upah masih stagnan.Penghasilan atau upah yang stagnan ini atau bahkan ada yang turun menyebabkan masyarakat terpaksa menguras habis tabungannya dikarenakan pengeluaran yang semakin besar karena harga-harga yang melambung tinggi, ditambah lagi banyak pungutan dari negara yang harus dibayar, kondisi ini rawan menjatuhkan warga kelas menengah ke jurang kemiskinan. Di tengah carut marutnya persoalan yang menimpa masyarakat secara bertubi-tubi, muncul pula persoalan lain yaitu pembajakan potensi generasi untuk mengokohkan kapitalisme dan juga penanaman berbagai pemikiran rusak seperti deradikalisasi, Islam moderat, dialog antar agama, dan lain-lain yang menjadikan umat Islam semakin jauh dari pemikiran Islam.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) yang memiliki peran yang penting untuk melawan narasi radikal terorisme yang semakin marak di dunia digital, oleh karenanya penting kolaborasi damai antara media dan pemuda dalam upaya deradikalisasi terorisme. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadapi tantangan di dunia maya yang kerap digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi mereka. Oleh karena itu perlu ada sosialisasi yang masif dan kreatif sesuai dengan karakter Gen Z, guna membentengi mereka dari pengaruh paham radikal, selain itu pentingnya kesadaran semua pihak dalam menciptakan lingkungan yang damai, toleran dan bebas dari kekerasan dan menangkal gerakan radikalisme dan terorisme. Namun mirisnya pemahaman yang disampaikan ini menyasar kepada ajaran Islam dan simbol-simbol Islam, serta menyasar kepada orang-orang yang ingin menyebarkan Islam secara kaffah, pemikiran inilah yang menjajah umat hari ini sehingga umat tidak bisa berpikir yang shahih, dijauhkan dari ajaran Islam yang sebenarnya, menjauhkan agama dari kehidupan.

Nampaklah di sini bahwa sejatinya Indonesia meski sudah merdeka selama 80 tahun dari penjajahan fisik, namun sejatinya masih terjajah secara hakiki, kemerdekaan yang seharusnya tampak pada kesejahteraan yaitu dengan terpenuhinya semua kebutuhan dasar tiap rakyat, namun dari tahun ke tahun kebutuhan itu semakin sulit untuk didapat, dari sulitnya terpenuhi kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa esensinya Indonesia masih belum merdeka secara hakiki. Kemerdekaan juga tidak tampak ketika umat Islam berpikir, karena pemikiran mereka dijauhkan daripada pemikiran yang sesuai dengan Islam, ditakut-takuti dengan ajaran agamanya sendiri, serta tidak bebas dalam menyampaikan Islam Kaffah, karena siapapun atau lembaga apapun yang menyampaikan ajaran Islam secara Kaffah maka akan diberi label radikal dan teroris.

Umat saat ini memiliki pemikiran yang jauh dari Islam, kondisi ini merupakan akibat dari diterapkannya sistem sekuler kapitalisme, menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam secara Kaffah serta jauhnya umat dari kesejahteraan dikarenakan sistem yang diterapkan sejatinya hanya berpihak kepada kepentingan kapitalis, penerapan sistem ekonomi kapitalis hari ini telah menyebabkan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin semakin dalam, para kapitalis semakin kaya sedangkan rakyat semakin miskin.

Kemerdekaan itu bukan sekedar mengibarkan bendera, melakukan upacara ataupun mengikuti perayaan-perayaan nyeleneh seperti panjat pinang atau laki-laki yang main bola pakai daster, permainan itu semua bukan berasal dari Islam melainkan warisan penjajah, begitu juga ideologi negara ini adalah ideologi warisan penjajah, kemerdekaan hari ini sejatinya hanya secara fisik namun hakekatnya Indonesia masih terjajah secara hakiki. Kesejahteraan rakyat bukan hanya slogan yang digaungkan pada saat perayaan kemerdekaan, kesejahteraan itu bukan hanya mimpi dan untuk itu dibutuhkan solusi yang hakiki.

Penerapan sistem Islam kaffah adalah kebutuhan dan solusi hakiki atas kondisi saat ini, hanya sistem Islam yang mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat, Negara Islam menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Tidak hanya itu negara Islam juga melakukan industrialisasi sehingga membuka lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, dengan terpenuhinya lapangan pekerjaan maka setiap kepala keluarga akan mampu memenuhi kebutuhan negara juga akan memberikan tanah bagi yang mau menghidupkan, menghidupkan tanah mati artinya menanaminya, mengurusi ataupun memagarinya. Kemudian bagi fakir miskin juga negara akan memberikan santunan dari Baitul mal. Dengan pengelolaan sumber daya alam yang melimpah di negeri kaum muslim maka Baitul mal negara tidak akan mengalami kekosongan.

Sistem Islam Kaffah juga akan menjaga pemikiran umat Islam agar tetap bersih, tidak dikotori dengan pemikiran asing agar tetap selaras dengan aturan syariat Islam dan hidup dalam ketaatan kepada Allah subhanahu Wa ta'ala. Untuk meraih kemerdekaan hakiki membutuhkan aktivitas perubahan yang hakiki juga, saat ini sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat seperti fenomena One Piece dan lain-lain, namun belum menyentuh agar permasalahan yaitu keberadaan sistem kapitalisme sekuler, untuk itu yang diperlukan umat saat ini adalah perubahan yang hakiki yang dipimpin oleh jemaah dakwah islam ideologis, yang melakukan perubahan yang hakiki dari sistem kufur menuju sistem Islam dengan mengikuti fikrah dan thoriqoh seperti yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena hanya ini yang akan mampu mengantarkan umat Islam kepada kemerdekaan yang hakiki.

Wallahu a'lam bishowab.


Share this article via

47 Shares

0 Comment