| 67 Views
15,9 Juta Anak Indonesia Alami Fatherless, Bukti Luka dari Sistem Kapitalisme
Ilustrasi anak sedih mengalami fatherless (freepik)
Oleh: Siti Zulaikha, S.Pd
Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi
Peran seorang ayah dalam mendidik anak sama pentingnya dengan peran Ibu, karena keduanya memiliki kontribusi untuk saling melengkapi dalam perkembangan anak, namun anak-anak Indonesia nyatanya banyak yang tumbuh dalam kondisi fatherless.
Fatherless adalah sebuah fenomena ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan, baik secara fisik maupun secara psikologis. Isu fatherless sempat menjadi trending di media sosial, hal ini ditunjang oleh hasil penelitian yang menyebut Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan angka fatherless tertinggi di dunia.
Berdasarkan Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah ( fatherless). Angka ini setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Temuan ini merujuk pada olahan data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik Maret 2024.
Dari 15,9 juta itu, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari. Artinya, seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah daripada bertemu anak di rumah. Kompas.com, 8/10/2025
Isu fatherless yang terjadi di Indonesia sebagian disebabkan karena faktor ekonomi, meskipun tak bisa dipungkiri fenomena ini bisa terjadi juga karena kurangnya kesadaran bahwa pengasuhan anak adalah kewajiban orang tua dan bukan hanya Ibu. Namun, sulit dimukiri bahwa desakan kebutuhan ekonomi kerap kali memaksa orang tua bekerja lebih keras hingga menyita waktu. Apalagi tekanan ekonomi seringkali membuat para laki-laki luput untuk mempelajari posisinya sebagai qawwam.
Kondisi yang demikian memang sebuah fakta yang memperihatinkan. Hanya saja, solusinya bukanlah sekedar memaksa para ayah untuk menyediakan waktu atau adanya kelas parenting dan solusi praktis lainnya. Ada masalah yang jauh lebih serius yang membutuhkan pandangan yang lebih mendalam.
Fenomena fatherless tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem ekonomi kapitalis hari ini. Fenomena ini erat kaitannya dengan support sistem yang dibentuk oleh sistem ekonomi kapitalis yang telah melahirkan kesenjangan ekstrem, hingga membuat orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Kesenjangan ini memaksa waktu para ayah tersita untuk bekerja lebih lama, sehingga waktu untuk membersamai anak minim, akhirnya fungsi qawwam hilang dalam diri para Ayah.
Allah subhanahu wa ta'ala sebagai pencipta dan pengatur kehidupan manusia tidak akan mungkin tidak memberikan aturan sampai-sampai anak-anak harus mengalami fatherless. Allah telah memberikan seperangkat aturan agar ayah dapat optimal menjalankan perannya dalam keluarga, termasuk ikut serta dalam mendidik anak.
Seperangkat Aturan itu, berupa penetapan bahwa kepemimpinan berada di tangan laki-laki sebagaimana yang dijelaskan dalam Quran Surah an-nisa Ayat 34. Peran ayah sebagai qowwam mencakup tanggung jawab spiritual atau pendidikan agama, emosional atau membimbing keluarga dan material berupa menafkahi .
Rasulullah Shallallahu alahiwasalam bersabda;
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (HR. Bukhari dan Muslim no. 1829)
Memang kunci pendidikan anak berada di tangan Ibu, namun di tangan seorang ayahlah letak keberhasilan pendidikan tersebut. Peran ayah dalam pengasuhan anak ada pada proses pembentukan kepribadian anak, yakni kasih sayang, perhatian dan keteladanan. Disinilah peran ayah sebagai qawwam dalam mendidik anak. Allah ta'ala pun memerintahkan agar para ayah menjaga keluarganya dari api neraka seperti yang dijelaskan dalam Quran surah At-Tahrim ayat 6.
Gambaran keterlibatan sosok ayah dalam mendidik anak juga sudah dicontohkan dalam Alquran Surat Luqman ayat 13.
"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya; "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."" (QS Luqman: 13)
Jadi hadirnya sosok ayah dalam pengasuhan akan membentuk kepribadian anak. Dari sosok ayah, anak mendapatkan teladan keimanan, kepemimpinan, daya tahan, daya tarung, hingga mampu untuk membuat keputusan-keputusan hidup, sebagaimana yang Allah perintahkan. Dari sosok ayah pula anak laki-laki akan siap menjadi qawwam dan anak perempuan juga siap menjadi al-Umm wa Rabbatul Bayt dan Madrasatul Ula.
Inilah peran ayah dalam mendidik anak, peran ini tentu tidak mudah. Apalagi Allah juga menetapkan laki-laki wajib mencari nafkah, jihad fisabilillah dan kewajiban lainnya yang menuntut mereka harus keluar rumah. Oleh karena itu Allah Ta'ala memerintahkan negara sebagai pihak yang memang berfungsi sebagai pelayan umat untuk menopang kewajiban para ayah ini agar bisa terealisasi dengan optimal. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;
"Imam (khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR.Muslim dan Ahmad)
Negara yang menerapkan sistem Islam, yaitu Daulah Khilafah akan mensupport peran ayah dalam membuka lapangan kerja dengan upah layak, memberikan jaminan kehidupan, sehingga ayah bisa memiliki waktu yang cukup bersama anak. Daulah khilafah akan memastikan ekonomi negara berjalan sebagaimana mestinya, sehingga harga kebutuhan pokok bisa dijangkau oleh gaji para Ayah.
Daulah Khilafah juga menjamin secara langsung kebutuhan dasar publik, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis untuk masyarakat. sehingga para ayah tidak perlu sampai harus mengambil side job untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan seandainya sosok ayah telah tiada, Islam memiliki sistem perwalian yang akan menjamin setiap anak akan tetap memiliki figur Ayah.
Perwalian itu diserahkan kepada kakek dan paman dari jalur ayah. Islam tidak akan membiarkan anak-anak tanpa pengasuhan sosok ayah. Hari ini negara kapitalisme absen dari ra'in (pengurus). Faktor ini pula yang menjadi penyumbang anak-anak harus mengalami fatherless. Dan ini akibat manusia tidak menaati aturan Allah dalam segala aspek baik secara individu hingga negara.
Wallahualam bissawab