| 7 Views
Urbanisaai Untuk Hidup Lebih Baik
Oleh: Rara Al-Haqqi
Kesenjangan kehidupan di kota dan di desa menjadi pilihan bagi masyarakat. Kehidupan kota dengan kemegahan gedung, keramaian 24 jam dan segala fasilitasnya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Sedangkan kebidupan di desa yang sering dipandang kehidupan yang sederhana bahkan serba sulit dan fasilitas terbatas seakan-akan membuat orang enggan tinggal di desa. Hal ini, menjadi salah satu pemicu meningkatnya jumlah urbanisasi pada tahun 2026.
Dilansir dari metrotvnews.com, pada tanggal 27 Maret 2026. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementrian Kependudukan dan Pembanguan Keluarga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyampaikan "Masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur di desa, tetapi juga membawa serta saudara, teman, bahkan keluarga besarnya untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan."
Oleh sebab itu, momen Mudik Lebaran 2026 angka arus balik lebih besar dari pada arus mudik. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi masih banyak diminati masyarakat pedesaan. Kemudian berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Net Recent Migration (Migrasi Risen Neto) Indonesia tahun 2025, secara nasional, migrasi risen neto tercatat sekitar 1.2 juta jiwa, menandakan arus masuk ke kota lebih besar daripada arus keluar. BPS juga mencatata, dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287.6 juta jiwa pada tahun 2025, sekitar 54.8 persen penduduk tinggal di perkotaan, sementara 45.2 persen sisanya tinggal di pedesaan.
Anggapan yang Keliru
Ketimpangan yang semakin nyata mengakibatkan jumlah kependudukan tidak merata. Di kota semakin padat sedangkan di desa semakin kehilangan SDM yang muda dan produktif. Maka tidak heran, kehidupan di desa hanya ada rakyat yang sudah berusia lanjut sedangkan anak mudanya jarang ditemui. Tidak hanya itu, dalam pandangan masyarakat kehidupan di kota akan merubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik, bahkan penghasilan yang di dapat lebih menjanjikan. Kemudian kehidupan di desa hanya seputar sawah, ladang dan pertenakan yang penghasilannya pun tidak menentu bahkan bisa mengalami kerugian jika harga hasil panennya anjlok. Apalagi petani lokal harus bersaing dengan barang-barang impor yang lebih terjangkau harganya.
Meskipun di beberapa pedesaan mengalami pembangunan agar menjadi kota metropolitan, tetapi kenyataannya tidak memberikan perubahan yang signifikan bagi kehidupan masyarakatnya. Sebab program tersebut hanyalah sebagai proyek saja, tidak sepenuhnya untuk membangun desa untuk lebih baik. Begitu pula adanya pembangunan pabrik-pabrik di daerah pedesaan seperti Kabupaten Boyolali. Pembangunan ini tidak bertujuan untuk membangun kehidupan desa agar lebih maju melainkan ada faktor-faktor yang menguntungkan pengusaha. Seperti lahan yang digunakan untuk pembangunan pabrik harganya murah, UMR di daerah pedesaan lebih rendah dari pada di perkotaan dan banyaknya peminat dari kalangan muda dan wanita.
Kenyataannya kehidupan di kota tidaklah menjamin kehidupan yang lebih baik. Meski UMR di kota lebih tinggi dari pada di desa, tetapi biaya kehidupan di kota juga lebih mahal dari pada di desa. Maka anggapan di kota lebih baik bisa jadi keliru jika mereka memahami dan mengetahui kehidupan sekarang. Dimana semua biaya kehidupan mengalami kenaikan harga, baik kebutuhan poko maupun tersier.
Sebab negara telah gagal dalam melayani rakyatnya. Baik di kota maupun di desa tidak diberikan kemudahan dan kesejahteraan. Meskipun negara mebiarkan kesenjangan kehidupan di desa dan kota sampai berlarut-larut. Ditambah lagi negara lebih fokus untuk pembangunan diperkotaan dengan anggaran besar-besaran agar nampak kemegahannya seperti kota Jakarta sentris dari pada dipedesaan yang sering diabaikan. Bahkan program untuk perekonomian di desa seperti kopdes dan bumdes hanya berhenti ditengah jalan, tanpa ada kelanjutan yang jelas. Alhasil program ini hanya bersifat pencitraan, tanpa ada niat betul-betul untuk memajukkan perekonomian di desa.
Inilah, proyek dalam sistem Kapitalis. Negara akan mempertimbangkan mana proyek yang menguntungkan dan mendatangkan cuan. Sedangkan kesejahteraan rakyat bukanlah yang diprioritaskan termasuk kensenjangan kehidupan di kota dan desa merupakan hal yang wajar. Maka hanya orang yang memiliki modal dan kekuasaan yang akan menguasai jalannya kehidupan. Mereka akan membuat sekenario kehidupan sesuai kepentingan mereka. Sehingga kehidupan masyarakat baik di desa dan kota sama-sama sulit.
Tidak Ada Kesenjangan dalam Islam
Berbeda jika sistem Islam yang digunakan. Sistem yang berasal dari Allah Swt. dengan segala aturan yang sesuai dengan fitranya manusia. Di dalam sistem Islam negara memiliki adil untuk memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Mereka tidak akan membeda-bedakan antara desa dan kota. Semua daerah sama, akan mendapatkan pelayanan yang terbaik. Oleh sebab itu, negara akan memeratakan penduduk dan pembangunan. Agar rakyatnya yang di kota atau desa sama-sama merasakan. Kemudian kehidupan di desa dengan mayoritas perekonomiannya petani dan peternak akan dikelola dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Hasil panenannya pun akan didistribusikan dengan optimal sehingga harga jualnya pun juga maksimal dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Sehingga negara tidak hanya fokus pembangunan dan kehidupan rakyatnya yang di kita, tetapi juga di desa. Sebab mereka juga melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan rakyatnya. Jadi, hanya dengan menerapkan sisten Islam lah tidak ada kesenjangan kehidupan baik di kota atau desa.
Wallahu 'alam bissowab.