| 9 Views

Mimpi Trump di Iran: Mengapa Kalkulasi Gedung Putih Kembali Kandas?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (AP Photo/Julia Nikhinson)

Oleh: Winda Widiastuty

Penggiat Literasi Islam

Dunia kembali menahan napas. Sabtu pagi, 28 Februari 2026, menjadi titik balik yang mencekam ketika Donald Trump melalui platform Truth Social mengumumkan dimulainya operasi tempur besar-besaran di Iran. Skenarionya tampak klise namun mematikan: serangan cepat, pembunuhan para pemimpin puncak, dan harapan akan terjadinya "guncangan pertama" yang meruntuhkan rezim.

Namun, seiring berjalannya waktu, kita melihat sebuah realitas yang berbeda di lapangan. Washington, yang kali ini menggandeng erat Netanyahu, tampaknya terlalu percaya diri dengan catatan sejarah mereka di belahan dunia lain. Ada sebuah miskalkulasi besar yang sedang dipertontonkan oleh Gedung Putih di hadapan umat manusia.

Ilusi Negara Pengikut

Tujuan Amerika Serikat di bawah kendali Trump sebenarnya sangat transparan. Mereka tidak lagi sekadar ingin Iran berada dalam "orbit" pengaruhnya, melainkan ingin menurunkan derajat negeri itu menjadi negara "pengikut" atau vasal yang sepenuhnya tunduk. Strategi ini pernah berhasil di Venezuela, namun Iran terbukti memiliki struktur yang jauh lebih solid.

Trump dan para penasihatnya mengira bahwa dengan melenyapkan pimpinan tertinggi dan pejabat jajaran pertama, jajaran kedua akan segera mengibarkan bendera putih. Mereka menanti munculnya tokoh "pragmatis" yang siap menjual kedaulatan demi menghentikan dentuman bom. Namun, pasca syahidnya Ali Khamenei, Garda Revolusi (IRGC) justru menunjukkan kohesi yang luar biasa. Alih-alih menyerah, mereka membalas dengan keganasan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya—menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Teluk dan jantung entitas Zionis.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan terpaksa mengakui secara tersirat pada 10 Maret lalu bahwa respons keras Iran adalah sesuatu yang tidak mereka duga. Ini membuktikan bahwa intelejen Barat seringkali gagal memahami konsep izzah (kemuliaan) dan keteguhan ideologis sebuah bangsa yang sudah muak dengan penindasan.

Manuver Diplomatik

Ketika perang tak kunjung usai dalam hitungan hari seperti yang dijanjikan, Trump mulai bermanuver. Rencana 15 poin yang disodorkan melalui Pakistan bukannya sebuah tawaran perdamaian, melainkan "dokumen penyerahan diri" yang menghina akal sehat. Meminta Iran membongkar total kemampuan nuklir, menyerahkan kedaulatan atas Selat Hormuz, hingga meninggalkan doktrin pertahanannya adalah cara lain untuk mengatakan: "Jadilah budak kami."

Iran membalas dengan 5 poin yang menekankan kompensasi perang dan pengakuan kedaulatan. Jurang pemisah ini menunjukkan bahwa diplomasi bagi AS hanyalah kepanjangan tangan dari intimidasi militer. Trump sedang terjepit; ia ingin terlihat menang di mata konstituen domestiknya menjelang pemilihan paruh waktu, namun di medan tempur, ia justru sedang menggali lubang yang lebih dalam.

Melirik Lebanon dan Masa Depan Kawasan

Agresi ini pun merembet ke Lebanon selatan. Entitas Yahudi, dengan dukungan penuh AS, mencoba memanfaatkan situasi untuk menganeksasi wilayah hingga Sungai Litani. Namun, sejarah mencatat bahwa mereka bukanlah ahli berperang kecuali jika "tali" dukungan manusia (Amerika) tetap kuat. Tanpa itu, mereka hanyalah entitas yang rapuh.

Kita perlu bertanya: sampai kapan negeri-negeri Muslim akan menjadi papan catur bagi kepentingan kekuatan luar? Di tengah ambisi Trump untuk mengendalikan minyak dan gas, serta keteguhan Garda Revolusi untuk menjadi negara independen, umat Islam merindukan sebuah kepemimpinan yang lebih dari sekadar penjaga perbatasan nasional.

Menuju Solusi Hakiki

Realitas di Iran dan Lebanon hari ini adalah pengingat pahit bahwa kemuliaan tidak akan datang dari meja negosiasi yang didikte oleh Gedung Putih. Sejarah mencatat bahwa kemuliaan Islam pernah tegak ketika umat memiliki perisai, sebuah Negara yang menerapkan Islam secara sempurna, yang tidak hanya paham peta politik, tapi juga memiliki kemauan politik yang teguh.

Para penguasa hari ini seringkali terjebak di antara keinginan untuk tetap "aman" dalam orbit Amerika atau menjadi pengekor setia. Padahal, Allah SWT telah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS Muhammad: 7).

Kekalahan Amerika di Afghanistan tahun 2021 seharusnya menjadi pelajaran bagi Trump. Kekuatan material sebesar apa pun akan runtuh di hadapan bangsa yang memiliki akidah kuat. Agresi tahun 2026 ini mungkin akan menjadi babak terakhir bagi hegemoni AS di Timur Tengah, asalkan umat ini bangkit bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang ikhlas. Inilah saatnya untuk berhenti berharap pada "orang-orang yang tepat" versi Trump di dalam rezim, dan mulai membangun kekuatan umat yang mandiri dan bermartabat.

Skenario Trump mungkin sedang berjalan, namun skenario Allah-lah yang akan menentukan akhir dari segalanya.


Share this article via

0 Shares

0 Comment