| 9 Views

Iran Bergejolak, Begini Islam Menjaga Stabilitas Ekonomi Negara

Warga Iran melakukan unjuk rasa (foto : aa.com.tr)

Oleh : Al juju

Konflik besar di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel versus Iran memasuki fase paling genting sejak awal Maret 2026. Serangan udara Israel dengan dukungan AS, dikenal sebagai Operation Lion’s Roar, menargetkan Tehran dan instalasi militer strategis Iran. AS mengklaim operasi ini bertujuan menghentikan ambisi nuklir Iran dan mengganti rezim yang dianggap pro-Amerika dan Israel.

Di luar dugaan AS-Israel, Iran tetap solid meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei berhasil mereka bunuh. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi bakal terjadi kekosongan kekuasaan di Iran, dan faksi-faksi politik di dalam negeri Iran akan saling berebut kekuasaan, dan rakyat Iran akan menyambut perubahan rezim yang tunduk pada AS. 

Nyatanya, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, lebih garang lagi dalam perlawanannya terhadap penjajahan. Ia mengeluarkan ultimatum tegas: seluruh pasukan AS harus ditarik dari kawasan Timur Tengah, sanksi ekonomi dicabut, dan kompensasi dibayarkan atas kerugian puluhan tahun. Ia juga memperingatkan akan menutup atau mengontrol Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia, jika tuntutan ini diabaikan.

Isu nuklir menjadi pusat perhatian. AS menuntut Iran menghentikan program nuklir, sementara Khamenei menegaskan bahwa Iran berhak menempatkan kemampuan nuklir sebagai alat pencegah agresi, bukan untuk menyerang pihak lain. Cina dan Rusia segera memberikan dukungan diplomatik, mengakui hak Iran mempertahankan diri dan menyerukan negosiasi yang menghormati kedaulatan negara.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari isu kedaulatan dan ketahanan energi suatu negara. Faktanya, kedaulatan energi kini masih tergadai kepentingan politik dan ekonomi global. Semua kebijakan disetir pihak asing. Wajar saja saat negara kita mandul dalam menetapkan kebijakan. Walhasil, rakyat menjadi satu-satunya pihak yang terus terancam kepentingannya.

Sistem kapitalisme global telah berhasil mengeksploitasi sumber daya energi negara-negara lemah demi keuntungan ekonomi. Negara-negara adidaya pun telah berhasil mencaplok kemandirian negara-negara lemah dan menjadikannya sebagai alat imperialisme secara ekonomi.

Betapa buruknya tatanan sistem kehidupan yang terus-menerus menetapkan keuntungan materi sebagai satu-satunya asas pengaturan. Parahnya lagi, sistem ini pun berpijak pada konsep sekularisme yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Otomatis, nilai halal haram pun dilalaikan. Kepentingan rakyat terus diabaikan demi kepentingan oligarki yang menguatkan posisinya sebagai penguasa sekaligus pengusaha.

Pertanyaan strategis muncul: Bagaimana jika AS dan Israel menggunakan senjata nuklir terhadap Iran? Apakah Iran memiliki kemampuan nuklir untuk membalas? Jika tidak, dan bantuan nuklir dari Cina atau Rusia tidak tersedia, dugaan kuat Iran akan menghadapi kekalahan. Namun, jika Iran merubah haluan politiknya, dari sistem republik menjadi pemerintahan Islam global yakni khilafah, menggalang persatuan negara-negara Muslim yang kini terpecah dalam ±50 negara, maka potensi untuk menghadapi dominasi AS dan Israel meningkat.

Langkah semacam itu membuka peluang bagi Iran untuk mengulang sejarah kejayaan Islam, seperti era keemasan peradaban di bawah Khilafah Abbasiyah dan Umayyah (±750–1258 M). Pada masa itu, Baghdad dan Damaskus menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan ekonomi. Para ilmuwan menerjemahkan karya kuno dan menciptakan inovasi baru, menjadikan dunia Islam pusat intelektual dunia.

Sistem Islam memiliki strategi khas dalam mengelola sumber daya alam, termasuk tata kelola tambang minyak dan gas bumi. Islam menetapkan batas-batas status kepemilikan yang jelas. Sumber daya alam ditetapkan sebagai milik umat dan tata kelolanya diserahkan kepada negara agar mampu amanah mengelola demi kemaslahatan umat.

Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.“ (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dalam hadis tersebut, sumber energi identik dengan api. Seluruh kaum muslim berserikat atas segala bentuk sumber daya energi. Dan negara menjadi satu wadah yang wajib memfasilitasinya yakni melalui pengelolaan sumber daya energi menjadi energi yang siap guna untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan umat. Jika negara masih belum berdaya dalam hal teknologi yang tepat guna, maka diperbolehkan menggunakan jasa pihak swasta ataupun asing dengan kendali negara secara langsung. Terkait anggaran, sistem Islam memiliki sumber keuangan yang tangguh, mulai dari jizyah, kharaj, ganimah, fai, dan sumber lainnya yang ditetapkan hukum syarak.

Strategi Islam dalam hal tata kelola energi menjadikannya berdaulat dalam hal penyediaan energi tanpa perlu mengandalkan pasokan sumber energi dari pihak asing. Tak hanya itu, tata kelola yang amanah pun menjadikan sumber energi berlimpah dengan harga murah bahkan gratis karena semua disiapkan negara untuk melayani kemaslahatan umat.

Sebagai kaum muslim, mestinya kita menyadari, penjajahan kapitalisme telah mengeruk kekayaan alam negeri yang berlimpah. Konsep penjajahan ini pula yang menyelewengkan segala bentuk tata kelola. Segala bentuk jenis penjajahan harus dihentikan, yakni dengan menerapkan sistem amanah dan bijaksana yang mampu menjaga ketenangan umat. Inilah sistem Islam dalam wadah Khilafah. Satu-satunya wadah yang menjaga kedaulatan negara dan menebarkan rahmat bagi seluruh rakyat. Dengannya umat terjaga dalam perlindungan yang nyata.

Wallahu a’lam bish-shawa


Share this article via

0 Shares

0 Comment