| 5 Views

PPPk di Korbankan Demi Menghemat Anggara Negara

Oleh : Ermawati 
Aktivis Dakwah

Negara kembali mengeluarkan keputusan mengenai pegawai PPPK untuk diberhentikan demi menghemat anggaran belanja negara 

Selain bakal mengorbankan kualitas pelayanan dasar publik, pemberhentian tersebut juga akan menambah angka pengangguran di daerah, yang ujungnya bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah akibat lesunya daya beli masyarakat setempat.

Sebelumnya, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengatakan pihaknya harus menghemat anggaran daerah sekitar Rp540 miliar yang artinya memberhentikan 9.000 PPPK.

Adapun Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, juga menyatakan 2.000 PPPK terancam dipecat pada 2027 demi mematuhi aturan maksimal belanja pegawai 30% dalam APBD—seperti yang tertuang dalam UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.(26/3/26 bbc.com)

Cara pemerintah dalam menghemat anggaran keuangan negara justru malah sebaliknya membuat rakyat semakin sulit karena dengan adanya pemutusan pekerjaan pegawai PPPK sebayak 9.000 bukankah ini justru akan menambah pengangguran itu berarti akan menambah rakyat miskin karena tidak punya pekerjaan dan akan semakin banyak menambah beban negara karena akan bertambah jumlah keluarga miskin. 

Sepertinya keputusan yang diambil pemerintah tidak tepat karena demi menghemat anggaran akan tetapi mengabaikan nasib para pegawai PPPK dalam menjalankan kehidupan selanjutnya, berarti sama saja menambah beban negara, karena dampak dari pengangguran sangat besar sekali, jumlah keluarga miskin meningkat dan akan banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak punya penghasilan.

Berarti hidup rakyat akan semakin sulit dan tercekik serta kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda harus segera terpenuhi apakah negara benar-benar memikirkan semua nasib rakyatnya. Bukankah masih banyak jalan dan cara yang bisa diambil dalam menghemat anggaran negara tidak harus melakukan PHK untuk seluruh pegawai PPPK, masih bisa kan melakukan penghematan uang negara dengan memotong gaji para pejabat.
  
Bukankah uang pajak yang seharusnya untuk kebutuhan rakyat saja dikorupsi oleh para pejabat yang rakus dan tamak yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan nasib rakyatnya yang sengsara, Tapi mengapa giliran ada penghematan uang negara rakyat yang harus menanggung beban seharusnya semua ini adalah tugas negara dan bukan tugas rakyat dalam menghemat anggaran negara karena untuk memenuhi kebutuhan hidup saja rakyat harus bating tulang dan mengapa harus di suruh hemat lagi.

Inilah sistem kapitalis sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem buatan manusia, sistem yang rusak dan bobrok, tapi anehnya mengapa kita sebagai negara mayoritas muslim masih percaya dan mau menggunakannya, padahal ada sistem yang shahih yang tidak diragukan lagi kebenarannya yaitu sistem Islam tetapi anehnya mengapa kita ragu dan takut menggunakannya.

Inilah akhir zaman tanda-tanda makin terlihat jelas telah banyak lahir para pemimpin yang tidak amanah, tamak dan rakus, sukanya membuat rakyat sengsara. Pemimpin yang abai terhadap nasib rakyatnya serta zolim, bersikap semuanya bagi mereka yang memiliki modal bisa hidup sejahtera namun bagi rakyat biasa menderita, inilah sistem kapitalis sistem yang diadopsi dari barat sistem yang rusak dan bobrok sehingga wajar saja kalau menimbulkan kerusakan di berbagai aspek kehidupan.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:

الإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Muslim).

Jika dalam Islam semua keputusan yang diambil oleh negara tidak merugikan rakyat dan juga bersikap adil pada semua rakyatnya termasuk pada para pejabat, tidak seperti hari ini pejabat diberi semua fasilitas mewah rakyat dibiarkan sengsara dan kelaparan, rakyat yang bekerja keras memeras keringat pejabat yang menikmati semua hasilnya serta tidak memperjualbelikan kekayaan alam haram hukumnya bagi negara.

Maka dari itu umat harus cerdas dalam memilih sistem dan pemimpin serta berani berahlih dari sistem yang rusak menuju sistem yang shahih dan benar, untuk menjalankan kembali kehidupan Islam secara kafah dan menegakkan kembali syariat Islam didalam kehidupan sehari-hari umat juga harus bersatu untuk melawan ketidakadilan dan menghancurkan kezaliman diatas muka bumi, maka dari itu kehidupan yang aman, damai dan sejahtera dapat terwujud dan mendakwahkan Islam hingga penjuru dunia.

Allahu a'lam bish-shawab


Share this article via

0 Shares

0 Comment