| 11 Views

Demo "No Kings", Kehancuran Amerika Serikat, dan Urgensi Kepemimpinan Islam

Oleh : Shafa

Ciparay Kab. Bandung

Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah ironi besar di jantung kekuatan kapitalisme global. Amerika Serikat (AS), yang selama ini memposisikan dirinya sebagai polisi dunia dan eksportir demokrasi, justru sedang diguncang oleh rakyatnya sendiri. Pada Sabtu, 28 Maret 2026, demonstrasi dengan mengangkat seruan "No Kings" meledak di seluruh penjuru negeri, melibatkan jutaan warga yang turun ke jalan untuk memprotes kebijakan otoriter dan kegagalan ekonomi di bawah kepemimpinan Donald Trump. Fenomena ini bukan sekadar protes biasa, melainkan cerminan dari keroposnya fondasi sistem kapitalisme dan demokrasi yang selama ini diagungkan.

Laporan dari berbagai media internasional menunjukkan skala krisis yang luar biasa. Utang nasional AS secara resmi menembus angka fantastis, yakni US$ 39 triliun atau setara dengan Rp. 661.440 triliun pada Maret 2026. Angka ini melonjak tajam akibat pengeluaran militer yang tidak terkendali untuk membiayai konflik di Timur Tengah, khususnya keterlibatan AS dalam perang Israel-Iran. Dampaknya terasa langsung kepada warga; setiap penduduk AS kini secara teknis menanggung beban utang sebesar Rp1,93 miliar, termasuk bayi yang baru lahir (CNBC Indonesia, 2026).

Gejolak ekonomi ini memicu gerakan demonstrasi "No Kings" yang masif. Diperkirakan sekitar 7 hingga 8 juta orang berpartisipasi dalam aksi yang tersebar di 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian (CNN Indonesia, 2026; Warta Ekonomi, 2026). Nama "No Kings" sendiri merupakan sindiran tajam terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap berperilaku layaknya raja di atas hukum, mengabaikan penderitaan rakyat demi ambisi hegemoni militer.

Ambisi Trump untuk mempertahankan supremasi AS melalui kebijakan militer agresif telah menjadi bumerang. Dukungan tanpa syarat kepada Israel untuk menguasai Palestina, serta upaya menjalin persekutuan dengan negara-negara Teluk dan Eropa untuk memerangi Iran, telah membuka mata publik dunia. Rakyat AS mulai menyadari bahwa pajak yang mereka bayarkan tidak kembali dalam bentuk layanan publik atau kesejahteraan, melainkan habis menjadi mesiu yang merusak perdamaian dunia.

Kebijakan ini juga menyingkap tabir gelap sistem kapitalisme. Sistem ini meniscayakan adanya penindasan demi akumulasi kekayaan segelintir elite (korporasi senjata dan minyak). Di sisi lain, kita melihat sebuah realitas yang menyakitkan: para penguasa di negeri-negeri Muslim sering kali justru terjebak dalam aliansi strategis dengan AS. Alih-alih membela kepentingan umat atau rakyat Palestina, mereka kerap menjadi pion dalam permainan geopolitik AS untuk menjaga stabilitas kekuasaan mereka sendiri. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan yang harus segera diakhiri.

Krisis di AS adalah momentum bagi umat Islam untuk melakukan refleksi mendalam. Umat harus terus disadarkan bahwa demokrasi dan kapitalisme bukanlah jawaban bagi keadilan global, melainkan sumber kerusakan tatanan kehidupan antarbangsa. Selama dunia masih dipimpin oleh ideologi yang memuja materi dan hegemoni, konflik dan eksploitasi akan terus terjadi.

Langkah strategis yang harus diambil meliputi:

Pertama, menderaskan edukasi politik Islam. Umat perlu memahami bahwa Islam bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah ideologi yang memiliki sistem politik dan kepemimpinan yang khas. Kepemimpinan Islam (khilafah) didasarkan pada kedaulatan syariat yang menjunjung tinggi keadilan, bukan atas dasar kepentingan oligarki atau ambisi pribadi pemimpinnya.

Kedua, penyatuan negeri-negeri Muslim. Para penguasa di dunia Islam harus berhenti membebek pada kepentingan AS. Kekuatan ekonomi dan militer negeri-negeri Muslim seharusnya digunakan untuk memerdekakan wilayah yang terjajah, seperti Palestina, serta melepaskan diri dari ketergantungan utang berbasis riba yang mencekik, dan bersatu menjadi satu kesatuan di bawah naungan daulah khilafah.

Peristiwa "No Kings" dan ambang kebangkrutan AS adalah sinyal jelas bagi keruntuhan sebuah peradaban yang dibangun di atas ketidakadilan. Ini adalah peluang bagi umat Islam untuk bangkit, menawarkan Islam sebagai alternatif solusi bagi dunia yang sedang sakit. Perjuangan untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang berlandaskan wahyu menjadi sebuah keniscayaan agar rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) dapat terwujud, menggantikan hegemoni kapitalisme yang kini sedang menuju kehancurannya.

Wallahu a'lam bish shawwab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment