| 22 Views

Pelajar Pengedar Narkoba, Gagalnya Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis

Oleh : Cokorda Dewi 

Berita terkait peredaran sabu oleh seorang pelajar, membuat prihatin dan was-was banyak pihak tentang pergaulan remaja saat ini.

Seorang Pelajar ditangkap oleh Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ditangkap saat hendak mengedarkan sabu dan tanpa perlawanan. Sabu tersebut disembunyikan di dalam tanah, di samping rumah. Sementara pemasok atau bandar narkoba tersebut masih dalam perburuan
(detik.com, 02-04-2026).

Di Kendari, seorang pelajar tertangkap oleh Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari, karena kasus peredaran narkotika jenis sabu. Menindaklanjuti laporan masyarakat tentang kecurigaan adanya aktivitas transaksi narkoba di kawasan BTN Permata Anawai, Kota Kendari, akhirnya polisi langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan pelaku. Dari keterangan pelaku, paket sabu disimpan di beberapa lokasi berbeda, yang dikemas dalam potongan pipet (rri.co.id, 30-03-2026).

Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jakarta Utara berhasil menemukan penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja sepanjang tahun 2025. Dari ratusan warga yang menjalani rehabilitasi, petugas mendeteksi adanya pelajar tingkat SMP yang sudah mengonsumsi narkotika jenis sabu (metrotvnews.com, 30-12-2025).

Sistem pendidikan sekuler kapitalis yang diterapkan, terbukti telah gagal memberikan pendidikan, bimbingan, dan arahan kepada generasi. Sehingga banyak generasi yang kehilangan arah, tanpa jati diri, krisis percaya diri, rapuh, kurang kreatif, berharap serba instan. Memunculkan gaya hidup hedon, budaya FOMO, bahkan terjerumus pada jerat narkoba. Sistem pendidikan sekuler kapitalis telah menjauhkan generasi muda dari urusan agama dengan urusan kehidupan.

Negara yang tak mampu mengontrol dan mengendalikan konten platform negatif yang beredar di ruang digital, sehingga mudah diakses anak-anak tanpa filter, tanpa memiliki pengetahuan tentang literasi digital yang benar. Sehingga mendorong anak-anak untuk berusaha mencari cara mendapatkan uang dengan cepat dan mudah versi mereka, tanpa paham bahaya yang mengintai dirinya. Ibaratnya demi cuan, halal-haram pun tak perduli. Dan parahnya, kurangnya pemahaman tentang agama, membuat tidak sedikit generasi yang tidak lagi mengenal mana yang halal, dan mana yang haram. Tak lagi menggunakan standar halal-haram sebagai tolak ukur perbuatannya. Semuanya karena kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup hedon, ambisi menjadi tren setter di media sosial, viral, budaya FOMO , dan flexing. Hal ini bagaikan virus yang menggerogoti anak bangsa saat ini, sebagai dampak dari penerapan sistem pendidikan sekuler kapitalis.

Sistem sekuler kapitalis yang diterapkan, mengajarkan bahwa uang adalah segalanya, segalanya memerlukan uang. Yang penting ada uang, semuanya bisa dimiliki. Bahkan ada yang tidak perduli lagi tentang akhirat, menjadikan akhirat sebagai hal lucu-lucuan, hingga ada yang ingin memesan kapling di neraka. Astaghfirullah. Sungguh mereka tak paham, bagaimana akhirat tersebut. Jika mereka mengetahuinya, tak mungkinlah mereka berani memesan kapling di neraka. Sistem sekuler kapitalis sudah terbukti rusak, dan gagal membentuk generasi yang amanah, jujur, dan taqwa. Hanya membentuk generasi strawberry, yang terlihat keren dari luar, namun sangat rapuh di dalam. 

Rapuhnya kondisi psikoligis generasi, jika tidak segera dilakukan pembinaan yang shahih sesuai dengan syari'at Islam, maka yang ada hanya akan menuju kehancuran suatu bangsa. 

Bukan revolusi akhlak yang dibutuhkan, sebab akhlak yang baik, tidak bisa menjamin menjadi pribadi yang beriman dan taqwa. Yang dibutuhkan adalah berada dalam sistem kehidupan yang sehat, yang berasal dari Sang Pencipta, Allah Swt. Sistem kehidupan paripurna yang telah disampaikan kepada Rosulullãh lebih dari 1400 tahun yang lalu. Bahkan pernah telah terbukti kejayaannya selama belasan abad ketika khilafah tegak di muka bumi ini.

Perlu adanya peran orang tua dalam hal pendampingan dan bimbingan pada anak-anaknya, tentang pemahaman dasar-dasar akidah Islam. Adanya peran masyarakat dan lingkungan yang mampu menciptakan kondisi yang kondusif, aman, nyaman, dan mengerjakan amar ma'ruf nahi munkar. Peran negara pun tak kalah penting untuk menjamin keselamatan generasi penerus bangsa dari kerusakan moral, menjaga akal tetap sehat, dan memberikan efek jera pada yang melanggar hukum. 

Sudah saatnya menerapkan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan, untuk menyelamatkan generasi bangsa. Berada dalam sistem Islam, akan membuat hidup lebih terarah, visi misi jelas sesuai dengan syari'at Allah, yaitu akhirat. Sebab kehidupan dunia adalah sementara, dan kehidupan akhirat adalah abadi. Sehingga orang akan berlomba-lomba untuk mengerjakan perintah Allah, menjauhkan diri dari larangan Allah (fastabiqul khoirot). Dengan kesadaran iman Islam, melakukan ihsanul amalan, hanya mengharapkan ridha Allah semata, demi kehidupan akhirat kelak. Akan menjadikan generasi penerus termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat kelak, dan mewujudkan peradaban gemilang.

Wallahu'alam bishshowab.


Share this article via

41 Shares

0 Comment