| 12 Views
Kemacetan dan Kecelakaan, Paket Tetap Mudik Lebaran
(Dok. Satlantas Polresta Bandar Lampung)
Oleh: Sri Setyowati
Aliansi Penulis Rindu Islam
Lebaran adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, mudik menjadi tradisi setiap tahun. Banyak perantau di luar daerah yang menjadikan mudik sebagai ritual tahunan yang terus dijalani dalam rangka bersilaturahmi kepada orang tua dan saudara di kampung.
Seperti biasa, dalam perjalanan menuju kampung selalu terjadi kendala. Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, di jalur selatan Nagreg, terutama di kawasan Cicalengka, terjadi kemacetan hingga mencapai lima kilometer karena peningkatan arus mudik. Banyaknya persimpangan menuju permukiman warga serta aktivitas keluar-masuk kendaraan di rest area membuat arus lalu lintas tersendat. Penyempitan jalur di beberapa titik turut menyumbang parahnya kemacetan.
Dari arah Bandung dan Jakarta, kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, mendominasi jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah. Pada puncak arus mudik tahun ini, menurut data dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg. (metronews.com, 19/03/2026)
Sementara itu, pada Kamis (19/03/2026) pagi, terjadi kecelakaan pada jalur one way arah Pemalang di Tol Pejagan–Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara bus dengan mobil LCGC Toyota Calya. Kecelakaan tersebut mengakibatkan empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka. (kumparan.com, 19/03/2026)
Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini menjadikan transportasi umum sebagai komoditas ekonomi untuk meraup keuntungan, apalagi menjelang Lebaran karena banyak pekerja di suatu daerah yang berasal dari daerah lain akan memanfaatkan transportasi untuk pulang kampung. Mudik tahunan ini seperti ritual tetap yang jarang dilewatkan. Karena itu, dimanfaatkan oleh para pengusaha transportasi untuk meraup keuntungan dari publik atas kebutuhan transportasi mudik.
Mahalnya tarif angkutan menjelang Lebaran memaksa orang untuk mencari alternatif lain untuk menekan biaya transportasi. Apalagi bagi mereka yang keluarganya banyak, tentu akan semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan. Keperluan lain juga cenderung meningkat menjelang Lebaran. Akhirnya, para pemudik memilih menggunakan transportasi pribadi, baik berupa kendaraan roda empat ataupun kendaraan roda dua.
Banyaknya pemakaian transportasi pribadi tentu menimbulkan persoalan baru. Kemacetan terjadi karena jalan yang ada tidak mampu menampung kapasitas kendaraan dari pemudik hingga rawan terjadinya kecelakaan. Hal ini terus terjadi setiap tahun.
Ada upaya dari pemerintah dalam mengatasi kemacetan dengan menerapkan sistem one way, tetapi upaya tersebut tidak dapat memberikan efek yang berarti dalam mengurai kemacetan. Hal yang terjadi justru kemacetan pada area lain. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang juga akan mengganggu keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan hingga rawan terjadinya kecelakaan.
Meskipun ada program mudik gratis yang diselenggarakan oleh pemerintah, tidak semua pemudik bisa mendapatkan fasilitas tersebut karena jumlah transportasinya terbatas dan bersifat sementara saja.
Itulah watak sistem yang diterapkan saat ini. Negara hanya sebagai regulator. Fasilitas pelayanan publik diserahkan kepada swasta atau para kapital sehingga layaknya hubungan pedagang dan pembeli.
Dalam sistem Islam, pemimpin adalah raa’in (pengurus) urusan rakyatnya. Infrastruktur jalan dan transportasi adalah fasilitas publik yang wajib dipenuhi dan disediakan oleh negara dengan harga murah bahkan gratis. Negara tidak akan kekurangan dana untuk membiayai fasilitas publik tersebut karena memiliki kas negara yang disebut baitulmal yang dananya berasal dari berbagai sumber seperti zakat, hibah, kekayaan negara, dan lainnya yang sudah terperinci peruntukannya.
Khusus untuk pembiayaan fasilitas umum, negara akan mengelola sumber daya alam yang merupakan harta milik umum. Hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat berupa fasilitas umum seperti pendidikan, rumah sakit, infrastruktur publik seperti jalan, transportasi, dan fasilitas publik lainnya.
Bahkan Khalifah Umar bin Khathab ra. khawatir terhadap seekor keledai jika terperosok di jalan, dan keledai tersebut akan menuntut pertanggungjawaban pada hari kiamat kelak. Para pemimpin dalam negara Khilafah sadar akan tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan dan kecelakaan, seperti memastikan jalan yang bagus dan tidak berlubang. Menyediakan mobil derek, posko fasilitas kesehatan, dan penyelamatan adalah upaya mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat selama mudik Lebaran dan hari-hari lainnya. Hanya dengan menerapkan sistem Islam, keselamatan dan kenyamanan mudik Lebaran dapat diwujudkan.
Wallahu a‘lam bishshawab.