| 77 Views

Jihad dan Khilafah yang Dapat Membebaskan Palestina

Oleh: Rosmi 

Aktivis Muslimah

Kebengisan Israel sudah di luar ambang batas kemanusiaan. Perbuatan yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina adalah tindakan kebiadaban manusia yang belum pernah dilakukan makhluk paling sempurna sepanjang sejarah peradaban manusia. Kebiadaban yang tidak pernah terbayangkan akan dilakukan oleh manusia, makhluk yang diberi akal untuk membedakan perbuatan baik dan buruk oleh Sang Pencipta Allah Swt. Apakah Zionis adalah bangsa binatang yang tidak memiliki akal dan hati, yang hanya berwajah manusia sehingga mereka tega melakukan penyiksaan di luar nalar manusia?

Ketegangan diplomatik antara Ankara dan Tel Aviv kembali terjadi setelah pemerintah Turki mengeluarkan surat penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan pejabat senior lainnya atas genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Menanggapi hal ini, Israel melalui Menteri Luar Negeri Gideon Saar menolak tuduhan tersebut dan menuduh tindakan Turki sebagai propaganda politik (tvOnenews.com, 9/11/2025). Sementara itu, kelompok perjuangan Hamas menilai tindakan Turki sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina.

Pengkhianatan nyata saudara Muslim terhadap Palestina ditunjukkan Kazakhstan dengan menjalin hubungan bersama entitas Zionis melalui bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Tindakan Kazakhstan ini sama dengan dukungan dan pembenaran tindakan penjajah Zionis terhadap warga Palestina sejak 7 Oktober 2023 lalu. Selain Kazakhstan, sejumlah negara Arab juga telah tergabung dalam perjanjian Abraham ini, di antaranya Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko (antaranews.com, 8/11/2025). Inilah alasan bungkamnya negara-negara Arab atas pembantaian warga Palestina.

Negara-negara Muslim yang menjalin kerja sama dengan Israel melalui perantara Amerika Serikat, dengan dalil menjaga perdamaian dan stabilitas Timur Tengah serta membuka hubungan diplomatik dan ekonomi, sejatinya terperangkap dalam jebakan Amerika. Amerika dengan tipu daya melalui bantuan dan dukungan semu, sebenarnya sedang menyusun strategi untuk menguasai negara-negara di Timur Tengah menjadi Israel Raya serta menjaga posisi dan stabilitas negaranya bersama Israel karena ketakutan mereka terhadap persatuan kaum Muslim.

Negeri-negeri Muslim yang saat ini menormalisasi kerja sama dengan penjajah atau entitas Israel telah menunjukkan pengkhianatan nyata terhadap Palestina, khususnya kaum Muslim. Kerja sama yang terjadi, berdasarkan tipu muslihat dan pengkhianatan kepada saudara seiman, akan berujung pada pengkhianatan terhadap mereka sendiri. Karena sejatinya tabiat kafir itu adalah pengkhianat. Amerika sebagai pelindung dan pendukung Israel akan berupaya dengan segala kekuatan untuk melindungi Israel.

Turki di bawah kepemimpinan Tayyip Erdogan dengan taktik terbarunya mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel dengan tuduhan lembut “Israel diduga melakukan genosida terhadap warga Palestina.” Karena sejatinya Turki masih menjalin kerja sama dengan Israel dalam bidang perdagangan. Selama genosida terjadi, Turki masih menyuplai listrik ke pangkalan IDF, dan baru dihentikan setelah dikritik keras oleh warga pada Maret 2025. Tindakan Turki yang hanya bisa mengecam perbuatan brutal Israel tanpa tindakan tegas seperti mengirim pasukan untuk pembebasan rakyat Palestina adalah bukti nyata bahwa pemimpin-pemimpin Muslim hanya bisa mengecam tindakan biadab Israel, tidak lebih dari itu.

Selama masalah Palestina masih diserahkan kepada keputusan internasional dan politik negara-negara Barat, serta negara-negara tersebut masih tunduk pada keputusan Amerika sebagai pelindung utama Israel, maka masalah Palestina tidak akan terselesaikan secara adil. Selama Palestina dan negeri-negeri Muslim masih disekat oleh batas-batas nasionalisme dan kemerdekaan yang semu, penderitaan dan penjajahan atas Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya akan terus berlanjut.

Baitul Maqdis adalah wilayah kaum Muslim yang dibebaskan pertama kali pada masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Pembebasan tahap awal maupun pembebasan kedua dari pasukan Salibis Romawi pada kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi dilakukan dengan seruan jihad fi sabilillah untuk menegakkan kalimatullah. Palestina adalah tanah wakaf kaum Muslim yang didapatkan dengan pengorbanan harta dan nyawa. Sudah sepantasnya membebaskannya serta mengembalikan kemuliaannya adalah kewajiban bersama seluruh umat Islam dengan jihad fi sabilillah.

Sejarah pembebasan Baitul Maqdis tercatat jelas. Hanya dengan perintah jihad dari sang khalifah atau sultan, negeri itu terbebaskan dengan kemenangan mutlak yang diraih pasukan jihad. Khalifah sebagai pemimpin tertinggi berhak mengeluarkan perintah jihad untuk seluruh kaum Muslim, terutama kaum lelaki yang akan bertempur di medan perang. Dengan semangat jihad dan kerinduan terhadap syahid yang merupakan cita-cita tertinggi umat Islam, telah terbukti kekuatan dan kemuliaan jihad dalam pembebasan Baitul Maqdis dan negeri-negeri lainnya dari penghambaan terhadap makhluk Allah.

Persatuan umat Islam dengan satu kepemimpinan yang mulia, selain dapat membebaskan Baitul Maqdis, juga akan mengembalikan kejayaan Islam, menghapus seluruh penjajahan, dan mengakhiri penghambaan terhadap sesama manusia. Sejarah telah membuktikan ketika Islam memimpin hingga 13,5 abad dengan wilayah kekuasaan hampir sepertiga bumi, negeri-negeri Eropa banyak yang terbebaskan dari penjajahan dan bergabung dengan Kekhilafahan Islamiyah. Jika kejayaan Islam itu dapat diwujudkan kembali, Palestina akan dibebaskan dengan seruan jihad, dan sang khalifah akan mengusir para penjajah serta perampok tanah Palestina dan kembali ke tanah nenek moyangnya yang tidak pernah diterima di negeri mana pun di muka bumi.

Palestina hanya bisa dibebaskan dengan persatuan seluruh kaum Muslim dan perintah jihad dari sang khalifah. Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah pembebasannya. Tidak pernah dalam sejarah Baitul Maqdis dibebaskan oleh pasukan suatu negeri saja, tetapi dibebaskan dengan seruan jihad yang balasannya adalah surga firdaus bagi para syuhada. Seharusnya umat Islam sadar bahwa tanpa persatuan seluruh kaum Muslim dan seruan jihad dari pemimpin tertinggi, baik itu khalifah, amirul mukminin, atau imamah, Baitul Maqdis dan negeri lainnya akan terus ditindas, rakyatnya digenosida, diusir dari tanah kelahirannya, dan seterusnya.

Pembebasan Palestina hanya akan terwujud dengan jihad fi sabilillah. Jihad hanya diperintahkan oleh pemimpin tertinggi umat Islam, yaitu khalifah. Khalifah adalah sebutan untuk kepala pemerintahan tertinggi dalam sistem Islam. Untuk itu umat harusnya sadar untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah sistem pemerintahan Islam. Dengan sistem pemerintahan Islam, selain pembebasan Palestina dapat terwujud, kemuliaan Islam dapat dirasakan oleh seluruh umat di muka bumi. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, dan rahmatan lil ‘alamin itu hanya dapat dirasakan jika Islam diterapkan secara kaffah dalam setiap lini kehidupan.

Wallahu a’lam bish shawab.


Share this article via

32 Shares

0 Comment