Ada perubahan sejarah yang terjadi pelan—seperti air yang mengikis batu. Tetapi ada juga perubahan yang datang seperti pedang: cepat, keras, dan meninggalkan luka panjang. Dalam kisah Iran awal abad ke-16, banyak penulis menempatkan perubahan mazhab negeri itu ke dalam kategori kedua.
Selama hampir sembilan abad sejak penaklukan era Khulafaur Rasyidin—melewati masa Umayyah dan Abbasiyah—Iran disebut tetap sepenuhnya Sunni. Dalam narasi ini, keberadaan Syiah kala itu dikatakan hanya terkonsentrasi di empat kota: Aveh, Kashan, Sabzevar, dan Qom. Namun semua peta itu berubah ketika seorang pemimpin muda dari keluarga sufi naik ke panggung sejarah: Ismail Safawi.
Setelah pengukuhannya sebagai raja, ia mengumumkan Syiah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negara—dan menurut tulisan ini, pengumuman itu tidak datang melalui musyawarah, tetapi melalui kekuatan militer.
Sejarawan Sunni Qutb al-Din al-Nahrawali dikutip menilai Syah Ismail telah membunuh orang dalam jumlah yang “tak terhitung”, bahkan disebut mencapai “satu juta jiwa”. Angka ini menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam narasi kekerasan era Safawi.
Bukan Persia, datang dari Azerbaijan: siapa Ismail Safawi?
Syah Ismail, menurut tulisan ini, bukanlah orang Persia. Ia disebut seorang Kurdi dari Azerbaijan dari keluarga sufi. Ia mendirikan Dinasti Safawiyah berasaskan Syiah Dua Belas Imam di Azerbaijan Selatan, lalu bergerak menyerang Iran yang saat itu digambarkan sedang kacau.
Pada 1502 M, ia memasuki Tabriz—yang saat itu disebut sebagai ibu kota pemerintahan—lalu memproklamirkan diri sebagai raja dan menetapkan Syiah sebagai mazhab resmi bagi negara barunya. Langkah itu menjadi titik balik yang mengubah arah sejarah Iran.
“Aku akan hunus pedangku”: pemaksaan mazhab di Tabriz
Tabriz kala itu digambarkan sebagai kota Sunni. Masyarakat disebut menerima keputusan itu dengan ketidakpuasan—bahkan banyak wilayah Iran saat itu dikatakan tidak mengenal Syiah dengan baik.
Menjelang penobatan Ismail di Tabriz, para pendukungnya dari kalangan amir Qizilbash disebut khawatir penduduk Sunni akan menolak. Dalam kisah ini, Ismail menjawab dengan kalimat yang mengerikan:
“Aku tidak takut pada siapapun. Jika rakyat berani menentang, aku akan menghunuskan pedangku dan tidak akan membiarkan satu pun dari mereka hidup.”
Keesokan paginya, ia pergi ke masjid dengan pengawalan pasukan, lalu memaksa seorang ulama Syiah, Maulana Ahmad al-Ardabili, untuk berkhotbah di hadapan jamaah. Ketika jamaah Sunni hendak keluar sebagai bentuk protes, Ismail disebut memberi isyarat kepada Qizilbash untuk memaksa mereka menyatakan Tabarru’ (berlepas diri) dan Muwalat (kesetiaan): berlepas diri dari tiga Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman) dan menyatakan kesetiaan kepada Ali bin Abi Thalib ra.
Dalam narasi ini, perintahnya tegas: yang patuh selamat, yang menolak—kepalanya ditebas.
Pola meluas: pembantaian dari kota ke kota
Setelah Tabriz, pola itu disebut meluas seiring ekspansi Safawiyah. Penulis Ahsan al-Tawarikh (Hasan Beg Rumlu) disebut merujuk pembantaian Sunni di kota Shaki (Iran Barat), pembantaian penduduk Shirvan, pembakaran jenazah syekh mereka (Farrukh Yasar), hingga pembangunan menara dari tengkorak korban.
Rangkaian peristiwa yang dicatat dalam tulisan ini menyebut beberapa fase:
-
Tahun 914 H: Ismail menyerang wilayah Ahvaz dan menggulingkan negara Musha’sha’iyah setelah pembantaian berdarah.
-
Tahun 915 H: Disebut terjadi pembantaian di Shiraz dan Mazandaran yang menelan korban lebih dari 10.000 Sunni Persia. Selain itu, lebih dari 7.000 Sunni dibunuh di Yazd (Iran Tengah), hingga pembantaian di Isfahanyang kelak menjadi ibu kota Safawiyah.
-
Tahun 916 H: Disebut terjadi pembantaian Merv, lebih dari 11.000 Sunni Persia tewas setelah perang melawan “Shaybak Khan al-Turkmani”. Bahkan diceritakan tentara Qizilbash memutilasi jenazah Shaybak Khan dan memakannya di depan penduduk kota.
Kisah-kisah ini menguatkan gambaran bahwa perubahan mazhab di Iran, dalam tulisan ini, bukan sekadar kebijakan negara—tetapi juga kampanye pemaksaan yang diiringi kekerasan.
Ulama Sunni jadi sasaran: “ucapkan ini, atau mati”
Tulisan ini juga menggambarkan penindasan terhadap ulama Sunni. Syah Ismail disebut memaksa ulama mengucapkan kalimat: “Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah.” Siapa yang mengucapkannya dibebaskan, sementara yang menolak disebut dipenggal atau dilempar ke dalam api.
Dua nama ulama Persia yang disebut menjadi korban adalah Qadhi Mir Hussein Maybudi dan Amir Ghiyath al-Din Muhammad al-Isfahani, yang dikisahkan dibunuh dengan kejam karena menolak mencaci tiga khalifah.
Mengisi “kekosongan intelektual”: ulama Jabal Amil dari Lebanon
Di tengah proyek besar “Syiah-isasi”, tulisan ini menyorot satu langkah strategis: mendatangkan ulama Syiah dari luar Iran. Ismail disebut memandang Jabal Amil (Lebanon) sebagai benteng Syiah dengan banyak ulama, lalu mengundang mereka untuk mengisi kekosongan intelektual di Iran.
Para ulama ini datang—baik karena undangan maupun inisiatif sendiri—dan disebut diberi posisi tertinggi. Dari sini, tulisan tersebut menyimpulkan bahwa ulama Syiah Arab, khususnya dari Lebanon, memiliki pengaruh besar dalam proses “Syiah-isasi” bangsa Persia.
Reaksi Utsmaniyah: perang untuk “menyelamatkan Sunni”
Berbagai pembantaian dan kejahatan yang dikisahkan itu disebut menjadi salah satu pendorong bagi Kesultanan Utsmaniyah di bawah Sultan Selim I untuk menyerang Daulah Safawiyah—dengan tujuan menyelamatkan umat Sunni dari pemusnahan total di Irak dan Anatolia.
Di bagian akhir, tulisan ini menyebut Syah Ismail dikenal sebagai pecandu khamar. Namun kejahatan paling menonjol yang disorot bukan hanya pada dirinya, melainkan pada dampak politik jangka panjang Dinasti Safawi: memecah belah umat, memutus ikatan negeri-negeri Kekhalifahan Sunni, dan menguras energi Utsmaniyah dalam peperangan sampingan—yang disebut menghalangi penyebaran Islam ke wilayah lebih luas.
Bahkan dikutip pula sebuah pernyataan orientalis:
“Jika bukan karena kaum Safawiyah di Iran, niscaya hari ini kita di Belgia dan Prancis akan membaca Al-Qur’an seperti orang Aljazair.”
Kalimat ini dipakai untuk menegaskan pandangan bahwa Safawiyah menjadi faktor penghambat kemajuan Islam ke Barat.
Perubahan mazhab, luka sejarah, dan jejak yang masih terasa
Dalam narasi ini, transformasi Iran dari Sunni menjadi Syiah bukanlah proses damai yang gradual. Ia digambarkan sebagai proyek negara yang ditegakkan oleh militer, dipatrikan oleh kekerasan, dan diperkukuh oleh migrasi ulama—sebuah perubahan yang tidak hanya mengubah identitas Iran, tetapi juga membelah peta politik dan mazhab di Timur Tengah hingga hari ini.
Sumber :
-
Ahsan al-Tawarikh — Hasan Beg Rumlu
-
Habib al-Siyar — Khwandamir
-
Iran under the Safavids — Roger Savory
-
The Safavid Empire — Andrew J. Newman
-
The Cambridge History of Iran, Vol. 6 — Tim Penulis (Cambridge University)