| 4 Views
Child Grooming: Bahaya Yang Sering Dianggap "Cuma Dekat Biasa"
Freepik
Oleh: Danesha
Pelajar SMA
Akhir-akhir ini, isu child grooming lagi cukup rame dibahas. Tapi jujur aja, masih banyak yang belum tau kalau ini tuh bahaya. Soalnya dari luar kelihatannya “baik-baik aja”, kayak cuma perhatian, nemenin chat, atau jadi tempat curhat. Padahal, itu bisa jadi awal dari manipulasi.
Pelaku biasanya nggak langsung keliatan jahat. Mereka pelan-pelan bikin anak nyaman, ngerasa dimengerti, bahkan lebih dekat ke dia daripada ke orang tua sendiri. Nah, dari situ anak bisa jadi ketergantungan secara emosional, dan itu yang bahaya banget.
Apalagi sekarang semuanya serba online DM, chat, game jadi makin gampang buat pelaku masuk tanpa disadari. Makanya banyak kasus yang lowkey kejadian tapi nggak ketahuan.
Akar Masalah: Lingkungan yang “Terlalu Bebas”
Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal pelaku aja. Ada faktor yang lebih dalam, yaitu dari lingkungan sekitar.
Di keluarga, nggak sedikit anak yang ngerasa kurang ditemenin. Orang tua sibuk, anak jadi kesepian. Akhirnya pas ada orang lain yang kasih perhatian lebih, langsung ngerasa “wah, ini orang baik banget”.
Padahal… belum tentu.
Di masyarakat juga sama. Sekarang banyak hal yang dulunya dianggap “nggak wajar”, malah jadi biasa aja. Pergaulan bebas, deket tanpa batas, bahkan yang red flag pun kadang dianggap normal. Kalau semuanya dibiarkan kayak gini, ya nggak heran kalau kasus kayak grooming makin banyak.
Sebenarnya, Islam tuh udah kasih “guidelines” biar kita aman dari hal-hal kayak gini. Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.”(QS. Al-Isra: 32)
Ini bukan cuma soal zina aja, tapi juga semua hal yang bisa ngarah ke sana—termasuk hubungan yang manipulatif kayak grooming.
Semua itu bukan buat ngebatesin doang, tapi buat ngejaga kita dari hal-hal yang berbahaya.
Biar masalah ini nggak makin parah, perlu perubahan dari berbagai sisi.
Pertama, keluarga harus lebih hadir. Anak tuh bukan cuma butuh materi, tapi juga perhatian. Jangan sampai anak cari “validasi” dari orang asing. Orang tua juga hadir menanamkan akidah pada anak, bahwa Allah swt, Maha melihat atas segala tindakan manusia. Setiap perbuatan memiliki konsekuensi dari Allah swt berupa pahala atau pun dosa.
Kedua, lingkungan juga harus lebih peduli. Jangan semua hal dianggap “ya udah biarin aja”. Kadang kita harus berani bilang, “ini nggak bener”.
Ketiga, perlu aturan yang jelas dalam pergaulan. Biar ada batas mana yang boleh dan tidak boleh menurut standar ajaran Islam.
Keempat, perlu ada sanksi yang tegas agar bisa memberikan efek jera pada para pelaku. Sanksi yang diberikan haruslah sesuai dengan hukum-hukum Islam.
Child grooming itu bukan hal yang bisa diremehin. Soalnya sering banget kelihatannya harmless, padahal ujungnya bisa nya nyakitin banget. Jadi, jangan gampang percaya, jangan gampang baper sama orang asing, dan tetap punya batas dalam pergaulan.