| 4 Views

Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza

Oleh: Ummu Syathir

Salah satu upaya untuk mengakhiri perang di Gaza secara permanen adalah mengikuti keinginan dewan perdamaian bentukan AS, yakni Board of Peace (BoP), dengan mendesak Hamas menyelesaikan rancangan demiliterisasi. “New York Times, mengutip sumber, pada Senin menyampaikan bahwa Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza” (https://www.antaranews.com, 07/04/2026). Namun demikian, Hamas secara tegas menolak rencana pelucutan senjata yang diajukan tersebut yang terindikasi lebih kepada pemenuhan kepentingan AS dan Israel.

Sejak awal berdirinya, BoP ini tidak memiliki kerangka perdamaian yang jelas, justru memperkuat dominasi AS dan Israel atas bumi Palestina. Jika dahulu AS memasuki Irak dan Afganistan dengan kekuatan fisik, mengerahkan ratusan ribu tentara dan berbagai kekuatan senjata mutakhir, demikian pula dengan apa yang terjadi di Palestina selama ini. Israel yang dibantu oleh AS menghancurkan wilayah tersebut dengan keji, menghancurkan bangunan dan membunuh manusia dengan menggunakan senjata-senjata mutakhir yang bahkan terlarang untuk digunakan. Derita Palestina merupakan penyiksaan massal yang belum pernah terjadi pada zaman mana pun, membuat seluruh dunia, baik negeri Muslim maupun negeri-negeri non-Muslim, mengecam perbuatan tersebut. Lalu Trump datang dengan BoP seolah menjadi pahlawan perdamaian, padahal BoP merupakan bentuk penjajahan baru tanpa tentara, tanpa perang, dan tanpa bendera; penjajahan yang sah secara undang-undang antarbangsa dan lebih dikuatkan lagi dengan bergabungnya penguasa-penguasa Muslim. Ini hanya sebuah siasat untuk melegalkan penjajahan dan membuat dunia bungkam dengan menganggapnya bukan sebagai penjajahan.

Dengan demikian, BoP hanya akan terus mengekalkan keberadaan Israel sebagai penopang AS dalam menjalankan hegemoninya di Timur Tengah. Bahkan, solusi masalah Palestina akan berada di tangan Israel sebagai salah satu anggota BoP, sesuatu yang mustahil, yaitu menyerahkan solusi perdamaian bagi Gaza pada institusi yang selalu menginginkan kehancuran bagi Gaza dan Palestina. Seiring dengan kuasa penuh di tangan AS atas Gaza, maka sudah barang tentu penerapan hukum-hukum kufur yang datang dari tangan AS dan semua negara-negara Muslim akan tunduk di bawah kepemimpinan AS. Penjajahan gaya baru ini sepenuhnya akan menghancurkan sisa-sisa kedaulatan yang ada di bumi Palestina, menghancurkan segala perlawanan terhadap penjajahan Yahudi dan kekuatan yang mendukungnya.

Solusi Palestina adalah dengan jihad

Persoalan Palestina merupakan penjajahan Palestina oleh Israel. Solusi hakiki adalah mengusir penjajah. Penjajahan ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Selama puluhan tahun itu pula bangsa Palestina tidak henti mengalami penderitaan. Mereka terus mengalami penistaan, pemerkosaan, pengusiran, bahkan pembantaian yang keji oleh Zionis Israel yang tidak memiliki perasaan. Islam telah menetapkan metode dan tuntunan dalam menghadapi atau mengatasi berbagai persoalan. Metode itu merupakan bagian dari hukum syariah yang harus diikuti. Metode syar’i untuk menghadapi invasi musuh adalah dengan jihad. Metode mengatasi penjajahan adalah dengan mengusir penjajah juga dengan jihad.

Demikian pula dengan persoalan Palestina. Persoalan yang terjadi adalah adanya invasi dan penjajahan oleh Zionis Israel terhadap Palestina. Karena itu, metode syar’i untuk menghilangkan segala bentuk invasi dan penjajahan Israel adalah dengan jihad. Apa yang dilakukan oleh pejuang Islam Hamas, yakni melakukan serangan terhadap entitas Yahudi, adalah upaya membebaskan Palestina dari penjajah. Demiliterisasi dengan melucuti persenjataan Hamas merupakan tindakan menyerah atas penjajahan yang dilakukan AS dan Zionis serta menyerahkan tanah Palestina, tanah kaum Muslim, kepada kafir. Padahal Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian” (TQS al-Baqarah [2]: 190). Negeri-negeri kaum Muslim pun mesti menyadari hal tersebut, bukan menjadi pengkhianat yang berada pada barisan kaum yang menghendaki kehancuran Palestina. Caranya adalah dengan mengirimkan tentara-tentara dari negeri-negeri kaum Muslim untuk melakukan jihad fi sabilillah.

Di sinilah relevansi dan sekaligus pentingnya negara Islam, yakni Khilafah, yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Dengan semangat jihad fi sabilillah, negeri-negeri kaum Muslim kemudian mengerahkan tentaranya untuk mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina. Bersatunya tentara-tentara dari negeri kaum Muslim tersebut akan membuat gentar entitas Zionis Israel dan negara adidaya di belakangnya. Perang Iran melawan AS dan Israel merupakan bukti nyata bahwa hanya satu negeri Muslim dengan kekuatan militer mumpuni pun amat sulit dijatuhkan oleh negara adidaya meski dibantu Israel. Tanpa Khilafah, umat Islam akan tetap tercerai-berai, tersekat atas nama nation-state (negara bangsa). Akibatnya, mereka sulit untuk bersatu padu mengusir Israel.


Share this article via

0 Shares

0 Comment