| 164 Views

Persatuan Umat dan Kesadaran Akidah: Pelajaran dari Sudan dan Palestina

Oleh: Rina Apriliani 

​Di bawah langit Afrika, di tepi Sungai Nil yang dahulu menjadi saksi kejayaan peradaban Islam, kini Sudan tenggelam dalam nestapa. Ledakan senjata, teriakan, dan tangisan anak-anak menjadi irama sehari-hari.

 Sementara itu, jauh di timur, Palestina tanah para nabi dan tempat suci ketiga umat Islam terus berjuang untuk mempertahankan hidup. Dua negeri yang terpisah ribuan kilometer ini kini terhubung oleh satu penderitaan yang sama: bayang-bayang perpecahan.

​Sudan dahulu dikenal sebagai negeri yang beriman dan bersahaja. Rakyatnya hangat, para ulama dan penghafal Al-Qur'an tersebar di setiap sudut. Namun kini, negeri itu berubah menjadi ladang perang saudara seiman. Peluru yang seharusnya diarahkan kepada musuh, justru menembus dada sesama Muslim. Rumah-rumah terbakar, masjid runtuh, dan anak-anak berlarian tanpa arah mencari perlindungan. Inilah potret nyata fitnah akhir zaman, ketika persaudaraan retak oleh ambisi kekuasaan.

​Sementara di belahan bumi lain, Palestina terus menjerit di bawah penjajahan. Gaza telah menjadi simbol keteguhan iman yang luar biasa. Setiap hari, darah mengalir dan rumah-rumah hancur, tetapi azan tetap berkumandang. Anak-anak membaca Al-Qur’an di antara puing-puing, dan para ibu tetap mengucap "Alhamdulillah" meski kehilangan segalanya.

Palestina adalah sekolah ketabahan, tempat dunia belajar arti kesabaran sejati dan tawakal yang tulus.

​Kedua negeri ini, Sudan dan Palestina, seolah dihadirkan Allah untuk menyadarkan umat Islam: selama kita terpecah, selama kita lupa hakikat diri kita, selama kita menomorsatukan bendera dan batas buatan kolonial di atas ukhuwah Islamiah, maka luka-luka ini akan terus menganga.

​Rasulullah pernah bersabda:
​“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan kepedulian mereka, seperti satu tubuh; bila satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

​Namun hari ini, tubuh umat Islam seolah telah mati rasa. Luka di Gaza tidak membuat tangan di Jakarta, Khartoum, atau Kairo bergerak. Tangisan di Darfur tidak mengguncang hati di Istanbul atau Kuala Lumpur. Kita adalah tubuh besar yang telah kehilangan ruh persaudaraan. Bukan karena kita tidak beriman, tetapi karena iman kita telah terkikis oleh cinta dunia dan ketakutan akan kematian.

​Padahal Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:
​“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

​Dahulu, ketika Islam masih bersatu, setiap seruan dari Muslim di belahan dunia mana pun akan disambut oleh seluruh umat. Saat terjadi penindasan, Khalifah mengirim pasukan. Saat terjadi kelaparan, negeri-negeri Muslim lain mengirim bantuan tanpa pamrih. Ini bukan didasari hubungan politik, melainkan kesadaran: kita adalah satu umat di bawah satu Rabb.

​Kini, keadaan berbalik. Negeri-negeri Islam saling mencurigai, bersaing, bahkan saling menghancurkan. Sementara itu, musuh-musuh Islam tertawa menyaksikan perpecahan ini. Mereka tidak perlu menyerang dari luar; cukup dengan membiarkan umat ini saling memerangi dari dalam, kehancuran pun datang dengan sendirinya.

​Namun, di tengah kegelapan situasi ini, masih ada cahaya kecil yang bersinar. Di setiap reruntuhan Gaza, suara azan tetap menggema. Di tenda-tenda pengungsi Sudan, masih terdengar lantunan Al-Qur’an dari anak-anak yang belum mengerti apa itu politik dan perang. Mereka mungkin tidak memiliki harta, tetapi mereka memiliki iman. Dan inilah kekuatan sejati yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.

​Mungkin, ujian ini bukan sekadar penderitaan. Ini adalah panggilan Allah kepada umat Islam untuk segera bangkit dari tidur panjang. Panggilan untuk menyadari bahwa kekuatan Islam bukanlah pada senjata atau ekonomi, tetapi pada persatuan hati di atas dasar iman dan ketaatan kepada Allah.

​Sudan dan Palestina bukan sekadar berita. Mereka adalah cermin, yang memperlihatkan seberapa jauh kita telah meninggalkan ajaran Rasulullah, dan seberapa dalam kita terjebak dalam cinta dunia yang memecah-belah.

​Jika hari ini kita benar-benar mencintai mereka, cinta itu tidak cukup hanya dengan doa atau kemarahan di media sosial. Cinta itu harus tumbuh menjadi kesadaran—bahwa kita tidak akan mulia kecuali bila kembali kepada Islam secara kaffah.

 Selama umat ini masih tercerai-berai dan hukum Allah belum menjadi pedoman dalam kehidupan, darah kaum Muslim akan terus mengalir dan bumi akan terus basah oleh air mata.
​“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

​Maka, ubahlah diri kita, ubahlah arah hidup kita. Kembalilah kepada Allah, kepada Islam yang menyatukan, bukan yang memisahkan. Sebab, selama Sudan dan Palestina masih menangis, sejatinya seluruh umat Islam belum bisa tidur dengan tenang.

​Semoga Allah merahmati saudara-saudara kita di Sudan dan Palestina, meneguhkan hati mereka, memberi kemenangan kepada yang tertindas, dan membangunkan kesadaran umat ini untuk bersatu kembali di bawah satu naungan Daulah Islamiah.


Share this article via

50 Shares

0 Comment