| 3 Views

Siprus Menggema “British Bases Out”: Drone Hantam RAF Akrotiri, Warga Takut Pulau Terseret Perang AS–Israel vs Iran

CendekiaPos - LIMASSOL/AKROTIRI — Di Limassol, beberapa hari terakhir, satu kalimat yang sama berulang-ulang memantul dari mulut ke mulut, dari spanduk ke spanduk, dari jalanan ke tepi laut Siprus bagian selatan: “British bases out.” Seruan itu bukan sekadar slogan lama anti-kolonial. Kali ini, ia terdengar seperti alarm—karena perang AS–Israel melawan Iran mulai terasa “menyentuh” pulau yang selama ini dikenal tenang dan cerah, bukan sebagai garis depan konflik.

Gelombang demonstrasi membesar setelah sebuah drone yang diduga buatan Iran menghantam RAF Akrotiri—pangkalan udara Inggris—pada awal pekan ini, hanya dua hari setelah serangan awal AS–Israel ke Iran dimulai. Serangan itu memicu ketakutan baru: Siprus sedang diseret menjadi papan peluncur sekaligus sasaran dalam konflik regional yang kian melebar.

Pangkalan Inggris, Pulau Siprus, dan rasa “kedaulatan yang tidak utuh”

Inggris mempertahankan dua Sovereign Base Areas di Siprus—Akrotiri dan Dhekelia—sejak negara itu merdeka pada 1960. Bagi banyak warga, keberadaan pangkalan itu adalah sisa sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai: Siprus merdeka, tetapi sebagian wilayahnya tetap berada dalam kontrol Inggris.

Seorang warga yang tinggal dekat Akrotiri menggambarkannya sebagai “sisa kolonialisme” dan merasa Siprus tak pernah sepenuhnya didekolonisasi. Keluhan lain yang muncul: pangkalan itu tidak berdiri atas skema sewa yang memberi keuntungan ekonomi langsung bagi negara tuan rumah; manfaat yang terasa lebih banyak hanya berupa pendapatan bagi warga yang bekerja di area pangkalan.

Bagi kelompok aktivis, pangkalan Inggris adalah “landasan peluncur yang tak tenggelam”—semacam kapal induk permanen—yang memudahkan operasi militer Inggris (dan sekutunya) di Timur Tengah. Karena itulah, ketika perang meledak, rasa takut masyarakat juga meledak: jika pangkalan dipakai untuk operasi, maka Siprus ikut menanggung risikonya.

“Defensive strikes” dan ketegangan yang naik level

Kemarahan publik makin menjadi setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengizinkan AS memakai pangkalan Inggris untuk “defensive strikes” terhadap situs rudal Iran. Bagi banyak warga Siprus, frasa “defensive” terdengar terlalu abstrak—karena yang tampak di lapangan adalah konsekuensi: serangan drone, sirene, pembatalan penerbangan, dan ketidakpastian.

Pemerintah Siprus menegaskan negaranya tidak ikut operasi militer. Namun, serangan ke RAF Akrotiri mengubah psikologi publik: warga yang sebelumnya menganggap perang “jauh” mendadak merasa perang berada di ambang pagar rumah.

Di sekitar Akrotiri, suasana kampung berubah. Dalam laporan lapangan, warga digambarkan panik, sebagian mengemasi barang, dan menghindar dari area sekitar pangkalan setelah serangan drone—sebuah reaksi yang menandai perubahan besar: dulu orang mencari perlindungan ke area pangkalan saat krisis, kini justru ingin menjauh dari pangkalan karena takut menjadi target.

Dampak ekonomi: penerbangan kacau, pariwisata waswas

Kecemasan itu tak berhenti pada isu keamanan. Banyak penerbangan ke/dari Siprus dibatalkan atau terganggu. Di negara yang sektor pariwisatanya berkontribusi besar (sekitar 14 persen PDB menurut laporan), gangguan transportasi berarti potensi pukulan ekonomi—mulai dari hotel, restoran, hingga pekerja musiman.

Di titik ini, protes menjadi lebih mudah membesar: kekhawatiran bukan lagi milik aktivis lama saja, tetapi juga orang tua, pekerja, dan warga biasa yang takut “pulau liburan” mereka berubah menjadi titik konflik.

Inggris kirim kapal perang dan helikopter: perlindungan atau sinyal eskalasi?

Pada Selasa, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan akan mengirim kapal perang dan dua helikopter Wildcatuntuk memperkuat pertahanan drone bagi “mitra Siprus”. Bagi sebagian warga, tambahan aset militer ini bukan hanya pengamanan—tetapi juga tanda bahwa Siprus akan tetap diposisikan strategis, sehingga risiko diserang belum hilang.

Di tengah kegaduhan, muncul pertanyaan yang terdengar sederhana tapi tajam—sebagaimana dilontarkan seorang aktivis dalam laporan: “Semua ini untuk apa? Hanya untuk mendukung serangan yang dianggap tak beralasan?”

Ketika slogan lama berubah jadi ketakutan baru

“British bases out” sebenarnya bukan teriakan baru di Siprus. Tetapi setelah drone menghantam Akrotiri, slogan itu memperoleh “tubuh” yang nyata: rasa takut bahwa pulau mereka sedang ditarik menjadi bagian dari perang yang tidak mereka pilih.

Dan di situlah feature ini berakhir—bukan dengan kepastian, melainkan dengan suasana: sebuah pulau kecil di Mediterania yang mendadak merasa menjadi bayangan konflik besar. Satu drone jatuh, dan pertanyaan warga pun muncul keras: siapa yang berhak menjadikan Siprus garis depan?


Share this article via

0 Shares

0 Comment