| 3 Views
Oposisi Kurdi, Pion Lama di Papan yang Baru: Isyarat Perang Proksi di Iran dan Luka Sejarah yang Berulang
CendekiaPos - Di pemberitaan CNN, NBC, dan Al Jazeera, muncul sebuah isyarat yang membuat banyak orang yang paham sejarah Timur Tengah menahan napas. Seperti ada kartu lama yang ditarik kembali dari laci gelap sejarah—debu-debunya ditiup—dan pola gambarnya masih sama seperti puluhan tahun lalu. Kartu itu bernama: oposisi Kurdi. Bedanya, kali ini papan permainannya disebut-sebut bergeser: Iran.
Dalam lanskap yang memanas, Donald Trump—presiden Amerika—dikabarkan siap mendorong para pejuang dari pegunungan itu masuk ke kobaran api perang yang dinyalakan Washington. Skemanya terdengar familiar: perang proksi. Skenario lama yang hanya berganti latar dan kostum, sementara naskahnya tetap utuh.
Mereka, orang-orang Kurdi yang selama ini menunggu pengakuan dan ruang bernapas, diminta menjadi proxy: tameng manusia, ujung tombak yang suatu saat pasti tumpul. Mereka diminta menanggung biaya sesungguhnya—biaya nyawa, biaya luka, biaya trauma antar-generasi—dalam konflik yang, jika ditilik jujur, bukan urusan mereka.
Dan di sinilah ironi sejarah hadir dengan caranya yang paling kejam. Karena jika pita ingatan diputar, adegan serupa pernah terjadi—hanya pemainnya yang berganti topeng.
Dulu, ketika Iran masih berada dalam orbit kepentingan Amerika, justru milisi-milisi pro-Iran yang dimanfaatkan dengan cara yang mirip. Di Suriah yang berdarah-darah, mereka dikerahkan sebagai benteng melawan kelompok Islamis, sekaligus penyangga bagi rezim Bashar al-Assad yang hampir runtuh. Hari ini, kartu itu seperti dibalik: yang dulu dimanfaatkan, kini diposisikan sebagai ancaman. Yang dulu “berguna”, kini “berlebihan”.
Begitulah cairnya kepentingan. Siapa yang disebut “baik” dan siapa yang dicap “jahat” bisa berubah dalam sekejap—tergantung dari arah mana angin berembus dari Gedung Putih. Kawan bisa menjadi lawan dalam satu malam. Lawan bisa dirangkul jadi kawan keesokan pagi. Yang tetap sama hanyalah mereka yang berada di lapangan: yang memegang senjata, yang mempertaruhkan segalanya.
Mereka yang di ruang rapat tidak pernah membayar harga perang
Dalam setiap babak, aktor lapangan bukan para jenderal di ruang rapat yang hangat dan ber-AC. Bukan pula politisi yang berbicara di podium marmer dengan bahasa yang halus dan penuh janji. Aktor lapangan adalah mereka: pemuda-pemuda dengan senjata di pundak, foto keluarga di saku seragam, dan mimpi sederhana tentang tanah air yang merdeka dan bermartabat.
Mereka percaya, kali ini perjuangan mereka benar. Mereka percaya, kali ini ada dukungan yang nyata.
Namun dalam perang proksi, para pejuang sering kali hanya menjadi bahan bakar—bensin murah yang disiramkan ke atas bara konflik yang terus menyala, berganti abad.
Saat api membutuhkan tenaga, mereka dikirim tanpa ampun: ke garis depan, medan paling berbahaya, titik-titik tempat peluru dan mortir tak pernah berhenti bersiul. Mereka menjadi pahlawan di layar kaca, simbol perlawanan dalam pidato diplomatik, alasan bagi negara adidaya untuk tetap “terlibat” di kawasan.
Tetapi sejarah memperlihatkan ujung cerita yang sering sama: saat api mulai padam, atau justru membesar dan mengancam tangan yang menyalakannya; saat kepentingan bergeser dan mitra baru yang lebih menguntungkan muncul—mereka yang di lapangan kerap dibuang.
Tanpa pamit. Tanpa terima kasih. Tanpa kompensasi.
Mereka ditinggalkan di tengah reruntuhan yang mereka sendiri bantu ciptakan. Mereka harus menghadapi musuh-musuh baru yang lahir dari kekosongan yang ditinggalkan.
Pertanyaan yang menyakitkan: sampai kapan darah mereka dikuras?
Sampai kapan darah itu akan terus dikuras?
Sampai kapan pemuda-pemuda di pegunungan Kurdi, di lembah-lembah Suriah, di pinggiran kota Irak, akan terus menjadi pion dalam catur global yang tak pernah mereka pahami aturan mainnya?
Sampai kapan mereka akan terus ditinggalkan dalam kegelapan sejarah, ketika peta geopolitik digambar ulang oleh penguasa asing yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di tanah mereka yang berlumuran darah?
Bayangan SDF: dipuji saat dibutuhkan, didiamkan saat ditinggalkan
Kita baru saja menyaksikan, kata narasi ini, bagaimana Pasukan Demokratik Suriah (SDF) diperlakukan. Mereka disebut sebagai sekutu setia di medan pertempuran paling sengit melawan Islamis. Dipuji tinggi oleh pejabat Pentagon. Dibiayai, dipersenjatai, dilatih, dan dijadikan pahlawan di media-media Barat.
Lalu ketika kepentingan bergeser—ketika Ahmad Al Shara dianggap lebih mampu mengemban misi—mereka didiamkan. Dibiarkan sendiri menghadapi nasib yang gelap dan tak menentu, tanpa sekutu yang membela.
Bukankah itu potret sempurna dari sebuah pengkhianatan?
Sejarah tidak pernah lupa—dan selalu menagih
Sejarah adalah guru yang paling jujur. Ia tidak berbohong, tidak memihak, tidak lupa. Lembarannya terbuka di depan kita—tinta merahnya bahkan masih basah untuk tragedi yang baru kemarin terjadi.
Pelajarannya gamblang: dalam permainan kekuasaan para raksasa, yang kecil dan lemah sering hanya menjadi alas kaki. Dipakai untuk melewati lumpur, lalu dicuci dan dilupakan ketika sang raksasa sampai di tempat yang dituju.
Para raksasa pulang ke rumah dan istana mereka. Yang kecil tertinggal di lumpur yang sama—kaki luka, tubuh lelah, masa depan sirna.
Namun tragedi terbesar dari semua ini bukan semata kekejaman penguasa atau dinginnya kalkulasi strategis. Tragedi terbesarnya adalah selalu ada yang bersikeras mengabaikan pelajaran itu: yang terus tergoda janji manis yang sama—dibungkus kata-kata baru—padahal isinya racun lama. Yang percaya, “kali ini akan berbeda.” Yang yakin, “kami tidak akan dikhianati.” Yang merasa “kami istimewa.”
Mereka lupa—atau sengaja melupakan—bahwa sejarah jarang berulang sebagai lelucon. Ia lebih sering kembali sebagai tragedi. Dan siapa yang memilih buta terhadapnya akan terus memainkan peran yang sama: korban.
Dan mereka yang mengabaikan sejarah, akan terus membayar harganya—berulang kali—dengan darah mereka sendiri, dengan masa depan anak-anak mereka, dengan air mata para ibu yang melahirkan pejuang-pejuang yang tak pernah kembali.