| 6 Views
Perang AS-Iran dan Ilusi Kekuatan Dunia
Foto: REUTERS/AYAL MARGOLIN
Oleh: Rina Aprilia
Memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran menegaskan satu kenyataan yang semakin sulit disangkal: dunia hari ini tidak sepenuhnya berjalan di atas prinsip keadilan, melainkan lebih banyak dikendalikan oleh kepentingan.
Dalam setiap benturan dua negara besar, pihak yang paling menderita bukanlah para elite politik, melainkan rakyat sipil yang nyaris tidak memiliki kendali atas nasib mereka sendiri.
Amerika Serikat, dengan supremasi militernya, terus berupaya mempertahankan dominasi global. Sementara itu, Iran tampil sebagai pihak yang menolak tunduk pada tekanan tersebut.
Namun, jika ditelaah lebih jauh, konflik ini bukan sekadar soal siapa yang benar atau salah. Konflik ini mencerminkan rapuhnya sistem global yang sejak awal memberi ruang bagi benturan kepentingan tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.
Di tengah ketidakpastian, dunia kini menunggu, apakah konflik akan meluas atau justru mereda.
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa perang besar sering kali bermula dari eskalasi kecil yang dibiarkan berlarut-larut. Dalam situasi seperti ini, kemungkinan terbentuknya koalisi global bukanlah hal yang mustahil. Pola tersebut mengingatkan pada dinamika aliansi dalam Perang Ahzab, ketika berbagai kekuatan bersatu bukan karena kesamaan nilai, melainkan karena kepentingan bersama.
Meski demikian, menyamakan secara langsung konflik modern dengan sejarah Islam tentu tidak sepenuhnya tepat. Yang lebih penting adalah mengambil pelajaran darinya: bahwa persatuan kekuatan dunia sering kali dibangun di atas kepentingan, bukan nilai ideal atau kemanusiaan.
Dalam perspektif Islam, perang bukanlah sesuatu yang diutamakan. Islam menempatkan perdamaian sebagai prinsip dasar, sementara perang hanya dibolehkan dalam kondisi tertentu, seperti mempertahankan diri atau menghentikan kezaliman.
Sayangnya, konflik modern kerap jauh dari prinsip tersebut. Kepentingan ekonomi, perebutan sumber daya, dan ambisi geopolitik sering kali lebih dominan dibanding nilai kemanusiaan. Akibatnya, standar moral menjadi kabur.
Masing-masing pihak merasa paling benar, sementara kenyataan di lapangan justru memperlihatkan penderitaan dan kehancuran yang meluas.
Bagi umat Islam, situasi ini seharusnya menjadi bahan refleksi yang mendalam. Dunia Islam sering menjadi pihak yang paling terdampak, tetapi belum cukup kuat untuk menentukan arah. Perpecahan internal, sempitnya kepentingan nasional, serta ketergantungan pada kekuatan besar membuat posisi umat Islam lemah dalam percaturan global.
Padahal, Islam mengajarkan persatuan yang melampaui batas negara dan kepentingan sempit.
Persatuan bukan sekadar slogan, melainkan fondasi kekuatan yang nyata. Tanpa persatuan, umat akan terus berada pada posisi sebagai objek dalam konflik yang dimainkan oleh pihak lain.
Lebih jauh, konflik AS-Iran juga memperlihatkan rapuhnya tatanan dunia saat ini. Ketika stabilitas global bergantung pada tarik-menarik kepentingan negara besar, krisis sejatinya hanya tinggal menunggu waktu. Kenaikan harga energi, terganggunya distribusi, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi bukti bahwa konflik di satu kawasan dapat berdampak luas ke seluruh dunia.
Pada akhirnya, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah siapa yang akan memenangkan konflik ini, melainkan apakah dunia akan terus berjalan dalam pola yang sama: konflik demi konflik tanpa solusi yang mendasar.
Dalam pandangan Islam, solusi tidak berhenti pada penghentian perang semata, tetapi juga menuntut perubahan cara pandang yang lebih mendasar dari dominasi menuju keadilan, dari kepentingan menuju kemaslahatan, dan dari konflik menuju perdamaian.