| 5 Views
Orientasi Pendidikan dalam Kapitalisme Melayani Industri, Bukan Kualitas SDM
Plt Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam siaran pers yang diunggah di situs Kemdiktisaintek, Senin (27/4/2026).(Kemdiktisaintek)
Oleh: Mila Ummu Azzam
Generasi muda yang hebat tidaklah lahir secara kebetulan. Sistem pendidikan yang benar menentukan hasil akan seperti apa generasi masa depan membangun peradaban. Namun sayangnya, saat ini banyak generasi muda lulusan perguruan tinggi tidak seperti yang diharapkan. Faktanya, mereka termasuk menjadi penyumbang pengangguran terbesar. Yang menjadi pertanyaan, mengapa hal ini terjadi?
Orientasi pendidikan tinggi yang sedang berjalan bukanlah untuk mencetak pemimpin yang mendobrak kegemilangan masa depan, melainkan hanya untuk mencapai seberapa besar serapan tenaga kerja yang dihasilkan dari alumni perguruan tinggi. Fakta bahwa pemerintah Indonesia melontarkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Badri Munir Sukoco, Dosen Unair, mengungkapkan rencana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan. Keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan industri. (Kompas, 25-4-2026)
Wacana pemerintah yang menghapus prodi yang dianggap “tak laku” di pasar kerja ini mendapat protes keras dari Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma), karena kampus bukanlah pabrik pekerja. Menilai pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan pasar adalah pemikiran yang sempit dan pragmatis.
Tak heran, saat ini banyak perguruan tinggi mengklaim siap mencetak lulusan yang siap kerja untuk menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Generasi dididik untuk menjadi pencari kerja, bukan pemecah masalah yang memecahkan masalah struktural berupa kemiskinan, ketimpangan, dan penjajahan ekonomi.
Orientasi awal pendidikan bergeser menjadi ambisi individual dan ekonomi, bukan lagi membangun peradaban yang gemilang. Hal ini karena negara mengadopsi sistem sekularisme yang melahirkan liberalisme. Kesuksesan dipandang secara individual, siapa yang memiliki karier dan posisi tinggi dengan gaji yang besar akan dianggap sukses.
Dalam sistem kapitalisme, tenaga kerja lulusan perguruan tinggi disiapkan hanya untuk memaksimalkan keuntungan ekonomi. Nasib lulusan perguruan tinggi diserahkan pada mekanisme pasar yang terbatas dan eksploitatif. Anehnya, lapangan pekerjaan yang disediakan tidak memadai, sehingga jutaan lulusan perguruan tinggi menjadi penyumbang angka pengangguran yang besar.
Kualitas SDM tidak lagi dipentingkan dalam orientasi pendidikan saat ini. Negara lepas tangan, kurang bertanggung jawab, terhadap kebutuhan SDM untuk melayani urusan rakyat dan SDM yang mampu memahami permasalahan serta memberikan solusi dengan sudut pandang yang benar. Pada akhirnya, perguruan tinggi dengan sistem sekuler kapitalis hanya melahirkan lulusan terdidik, tetapi dengan paradigma yang salah.
Berbeda dengan Islam yang mempunyai sistem pendidikan dengan paradigma benar, yaitu membentuk generasi yang mempunyai kepribadian sesuai dengan akidah Islam. Untuk itu, kurikulum yang ditetapkan mengarahkan pada upaya untuk mencapai tujuan pendidikan, yang dapat melahirkan generasi-generasi yang sadar akan hubungannya dengan Allah Swt., sehingga tercipta pemimpin yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani urusan umat dengan baik.
Pendidikan adalah tugas pokok negara. Negara bertanggung jawab langsung dalam pendidikan dini sampai pendidikan tinggi atas semua rakyatnya, karena pendidikan dipandang sebagai salah satu pilar peradaban yang gemilang. Negaralah yang menentukan mulai dari visi-misi pendidikan, kurikulum, dan pembiayaan untuk SDM pendidikan serta sarana prasarananya. Setiap generasi dididik sesuai dengan keahlian di bidangnya dalam melayani urusan rakyat, seperti guru, dokter, hakim, insinyur, perawat, dan lainnya.
Negara mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi, tidak tergantung pada tekanan, baik dalam negeri maupun luar negeri, karena bersandar kepada syariat. Dalam sistem Islam, tidak ada tuntutan bagi lulusan perguruan tinggi untuk menyesuaikan dengan dunia dan pasar tenaga kerja global.
Jelas, penerapan syariat Islam secara kaffah akan mewujudkan pendidikan tinggi yang mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas dan menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat mencetak pemimpin yang mampu membangun peradaban.
Wallahu a’lam bishawab.