| 15 Views
Palestina Negeri yang Terjarah
Oleh: dr. Erlian Fitri
BOP (Board of Peace) masih mendesak Hamas untuk meletakkan senjata dan semua amunisinya di atas tanah. New York Times memberitakan AS juga mendesak Hamas untuk memberikan peta bawah tanahnya. Secara tak langsung menunjukkan bahwa kekuatan satelit AS tidak bisa menembus dan memprediksi peta jalan bawah tanah Hamas. Ini membuktikan negeri yang sudah terjarah selama hampir 100 tahun masih tetap bisa menunjukkan sikapnya pada dunia bahwasanya mereka masih hidup dan bergerak atas pertolongan Allah Swt.
Keterlibatan Indonesia dalam BOP tentu saja menoreh luka yang dalam pada rakyat Indonesia, karena dianggap mengkhianati prinsip anti-penjajahan yang selama ini dipegang teguh, terutama karena posisi Indonesia yang harus duduk satu meja dengan pihak yang melakukan agresi militer (Israel).
Ditulis oleh Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI, bahwa rencana pembangunan Gaza yang disebut sebagai Master Plan Post-War Gaza atau New Gaza memang akan mengubah Gaza penuh dengan gedung pencakar langit, akan tetapi ada beberapa hal yang patut dipertanyakan:
Apakah rakyat Palestina di Gaza menyetujui hal ini? Bila mereka tidak menyetujui, jangan-jangan kota yang fantastis akan mencabut rakyat Palestina dari akarnya.
Membangun kota tidak bisa melepaskan berbagai aspek kehidupan penduduk setempat. Atau bisa dikatakan Palestina masih akan selalu terjarah.
Ini adalah keinginan Trump untuk mengusir rakyat Palestina secara halus.
Apakah pembangunan Gaza sejalan dengan keinginan Israel untuk memiliki kendali penuh terhadap Gaza yang sebelumnya sulit karena adanya Hamas? Bila ini yang terjadi, apakah rakyat Palestina akan mendapatkan kemerdekaannya suatu hari nanti?
Jadi, keefektifan Indonesia bergabung dalam BOP ini jelas kesalahan yang membius, karena pada faktanya Hamas menolak dan menganggap hal itu mengancam eksistensi serta perjuangan mereka, menuntut dunia bertindak atas pelanggaran gencatan Zionis. Meski gencatan senjata telah disepakati, Zionis terus melakukan penyerangan hingga menewaskan warga sipil hingga bulan ini.
Karena itu, bagaimana sikap kita sebagai warga Indonesia, saudara sesama Muslim dengan rakyat Palestina, juga sebagai hamba Allah yang nantinya akan mendapatkan hisab atas sikap kita terhadap saudara kita yang terjajah, maka yang harus kita pahami adalah:
-
BOP bukan mediator netral, tetapi jebakan kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan Zionis.
-
Pelucutan senjata adalah upaya Barat (AS) untuk menghentikan perjuangan perlawanan rakyat Gaza dengan jihad.
-
Pelucutan senjata juga bagian dari serangan pemikiran sebagai upaya mengubah cara pandang umat agar menganggap perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata sebagai jalan damai.
Sehingga solusi tajam dan wacana yang harus diaruskan adalah:
-
Solusi Gaza bukan diplomasi, tapi khilafah. Palestina adalah wilayah Islam yang wajib dibebaskan melalui kekuatan militer, bukan negosiasi.
-
Khilafah akan menggerakkan kekuatan militer seluruh negeri-negeri Muslim untuk mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina.
-
Khalifah adalah raa'in dan junnah yang akan melindungi nyawa kaum Muslim.
-
Umat harus disadarkan melalui dakwah ideologis terkait urgensi khilafah dan kewajiban memperjuangkannya.
Karena Islam dengan aturan-Nya yang sempurna tidak akan menindas satu negeri dengan negeri yang lain, tetapi justru akan menerapkan keadilan dan rahmatan lil alamin sebagaimana sudah terbukti tegaknya daulah khilafah islamiyah di 2/3 dunia, di mana di dalamnya terdapat masyarakat Muslim dan non-Muslim selama 13 abad lamanya.