| 13 Views

Palestina Diserang Secara Terus-menerus Dan Semakin Brutal! Butuh Kepemimpinan Dalam Sistem Islam

Oleh : Kiki puspita

Dilansir dari SERAMBINEWS.COM - ketegangan di Yerusalem (Palestina) semakin meningkat selama bulan Ramadhan. Menurut laporan yang diterima dari sumber lokal yang dikutip oleh Palestinian Media Centre pada selasa (11/3/2025), pasukan Angkatan Bersenjata Israel (IDF),  melakukan penyerbuan di kompleks Masjid Al-Aqsa dengan mencopot dua toa atau pengeras suara masjid, diruang salat Qibli. Padahal toa tersebut digunakan untuk mengumandangkan azan selama Ramadhan.

Tidak hanya sampai disitu, Israel juga melakukan serangan udara sebagai tanda bahwa Israel sudah mengakhiri gencatan senjata di Gaza. Perdana mentri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa serangan ini ''baru permulaan'' dan akan terus berlanjut hingga Israel mencapai tujuan perangnya, yaitu ingin menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militan tersebut. (dilansir dari Jakarta, CNBC Indonesia).

Dalam serangan ini, otoritas kesehatan Palestina melaporkan ada 413 korban yang tewas akibat serangan. Sementara, lebih dari 600 orang lainya mengalami luka-luka. Viral pula video seorang anak palestina, sedang mengumpulkan serpihan daging saudaranya ke dalam sebuah kantong. Ratusan kantong keresek isinya bukannya batuan pangan, justru berisi serpihan tubuh warga Gaza yang menjadi korban serangan Israel. Mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah dan tidak berdaya. Mereka diserang saat sahur dan tanpa perlindungan. Jasad mereka banyak yang ditemukan dalam keadaan hancur dan sulit untuk diindentifikasi.

Serangan ini merupakan serangan yang brutal. Bahkan Unicef menggambarkan kondisi disana sangat mengerikan. Bagaimana tidak, keluarga-keluarga yang terjebak diantara reruntuhan, tanpa air, tanpa makanan, tanpa obat-obatan, tidak adanya layanan kesehatan banyak yang mati kehabisan darah, anak- anak banyak yang sekarat karena harus merasakan kelaparan dan kehausan ditengah-tengah pengepungan dan pemboman yang tidak ada hentinya.

Sementara para penguasa negeri-negeri Muslim hanya bisa beretorika seperti singa podium, Namun tidak ada tindakan nyata yang mereka lakukan untuk membantu mereka. Disatu sisi, kaum muslim di Palestina memang mendapat penyiksaan namun, disisi lain mereka juga mendapat kemuliaan karena tanah mereka menjadi tanah jihad dan kematiannya adalah syahid, hal ini tentu diinginkan setiap hamba yang bertakwa.

Namun bagi kita kaum muslim lainnya, nasib mereka hakikatnya adalah ujian keimanan. Tentu tidak pantas bagi kita bersikap abai melihat saudara kita dibantai, disiksa, diperkosa bahkan dihilangkan eksistensinya. Kita semua kelak akan diminta pertanggung jawaban dengan berpura-pura  seakan-akan tuli, buta dan tidak bersungguh-sungguh untuk menolong mereka.

Padahal sebagai sesama umat Rasulullah saw. bersabda, ''Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari dari Anas bin Malik, ra.) Maka dari itu, tidaklah pantas kita berdiam diri melihat saudara seiman kita hidup menderita.

Didalam Islam tegas memerintahkan agar kaum muslim seluruhnya bergerak membantu dengan sekuatnya. Pertolongan itu tidak lain berupa tentara yang akan mengusir penjajah dan sekutunya dengan jihad fi sabilillah. Namun tidak dimungkiri, ada halangan fisik yang besar bagi umat untuk bisa bergerak menolong mereka. Halangan itu berupa  kepemimpinan dalam negara yang tegak di atas paham sekularisme dan nasionalisme di negeri-negeri Islam.

Hal inilah yang selama ini membuat umat Islam begitu lemah dan terpecah belah. Keberadaan akidah pada diri mereka tidak cukup untuk melahirkan satu rasa dan satu pandangan tentang persoalan Palestina. Bahkan bukan hanya untuk soal Palestina, dalam berbagai urusan dunia, mereka sulit disatukan hingga mereka menjadi bulan-bulanan sekaligus objek jarahan bagi musuh-musuhnya.

Suara-suara pembelaan terhadap nasib muslim Palestina, dengan mudah tertutup oleh persoalan-persoalan lainnya. Sebagian mereka bahkan berkata, untuk apa memikirkan urusan bangsa lain, sementara kita di sini sedang menghadapi banyak persoalan. Mereka dibuat lupa, bahwa urusan muslim Palestina adalah urusan mereka juga. Sejatinya jati diri muslim Palestina adalah jati diri mereka juga. Namun, melihat apa yang terjadi pada muslim Palestina, khususnya Gaza, bahkan dengan yang terjadi pada diri mereka sendiri dengan segala kesempitannya pemimpin-pemimpin negeri-negeri muslim hanya beretorika saja tanpa tindakan nyata untuk menolong mereka.

Untuk itulah Allah Taala menurunkan syariat Islam sebagai tuntunannya. Hanya saja, syariat ini hanya mungkin diterapkan seluruhnya dalam sebuah kepemimpinan atau negara yang tegak di atas akidah Islam. Itulah Khilafah Islam, sebuah negara warisan Rasulullah yang pernah menaungi dan menyatukan umat Islam sedunia sekaligus memuliakan mereka dalam masa yang sangat panjang.

Sayang hari ini, Khilafah Islam telah hilang eksistensinya sehingga Islam hanya eksis di tengah sebagian pemeluknya. Pada 1924, penjajah Inggris melalui anteknya, Mustafa Kemal, telah berhasil meruntuhkannya. Sejak itulah umat Islam hidup sebagai entitas yang terpecah belah dan kehilangan perisai untuk menjaga dan mengayominya. Penjajah Inggris dan Amerika bahkan berhasil mendirikan “negara” Zionis di jantung negeri Islam, yakni di Tanah Palestina. Hari ini umat Islam dunia tengah merasakan dampak buruk akibat ketiadaan Khilafah Islam dan penerapan aturan sekuler atas mereka. Berbagai krisis terus melanda, hingga membuat mereka lemah tanpa daya meski jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa di dunia. Salah satu buktinya adalah berlarutnya krisis Palestina dan ketidakberdayaan mereka dalam mengusir Zionis yang jumlahnya tidak seberapa.

Madrasah Ramadan sejatinya mengajari kita untuk memiliki keimanan yang kukuh, ketaatan yang kuat, dan kesiapan untuk berjuang di tengah fitnah zaman yang bisa melalaikan bahkan menyesatkan manusia dari tujuan penciptaan. Hanya saja, bersandar pada kekuatan individu semata tentu akan menyulitkan karena eksistensi kekufuran dan segala bentuk kejahatan di-support oleh kekuatan negara yang bersifat global, termasuk yang terjadi di Palestina.

Oleh karenanya, urgensi mengembalikan Khilafah jelas tidak bisa lagi ditawar. Terlebih penegakan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan sistem Khilafah juga merupakan kewajiban. Namun, proyek besar ini hanya mungkin dilakukan oleh sebuah jemaah dakwah yang konsisten berpegang teguh pada ideologi Islam dan langkah perjuangannya  tidak menyelisihi minhaj kenabian.

Sesungguhnya Allah Taala telah menjanjikan bahwa ujung dari perjuangan ini adalah kemenangan, yakni dengan tegaknya Khilafah Rasyidah kembali di tengah umat Islam. Khilafah inilah yang akan mengembalikan kemuliaan umat, menyatukan dan menyejahterakan mereka serta membebaskan mereka dari segala bentuk penjajahan, termasuk Palestina.

Khilafah, dengan syariat Islam yang diterapkannya, benar-benar akan memimpin dunia dan menjadi penebar rahmat bagi alam semesta. Itulah kemenangan yang nyata, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28).

Waullohua'lam bissowab.


Share this article via

9 Shares

0 Comment