| 99 Views

Fatherless, Bukan Perkara Remeh!

Oleh: Essy Rosaline Suhendi

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji dalam sambutan acara P4GN di Jakarta, ia mengingatkan, bahwa tugas ayah bukan dalam pelayanan ekonomi saja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak, sebab setiap anak membutuhkan sosok ayah sebagai pemimpin berkarakter yang bisa mempengaruhi karakter building anak. Sementara itu, psikolog asal Toraja lindarda mengungkapkan, fatherless dapat menimbulkan masalah identitas diri, kesulitan berinteraksi sosial, hingga gangguan orientasi seksual (www.voi.com, 11/10/25).

Fatherless mulai riuh diperbincangkan di media sosial, sejak temuan data UNICEF pada 2021 menemukan sebanyak 20,9 persen anak Indonesia fatherless. Fatherless, dominannya terjadi pada ayah yang sibuk bekerja sehingga tidak berperan dalam pengasuhan anak secara fisik atau biologis. Namun, terkadang juga ada yang beranggapan, bahwa peran mendidik anak sepenuhnya adalah tugas seorang ibu.


Buah Sistem Kapitalisme Sekuler

Memang tak bisa dipungkiri, tradisi patriarki dalam konteks pengasuhan dianggap sebagai hal yang biasa, sehingga suami menyerahkan beban pengasuhan anak hanya kepada istrinya. Semisal ketika anaknya berbuat salah atau muncul perilaku yang buruk, seringkali suami menyalahkan kepada istri, karena yang mendidik keseharian anaknya adalah ibunya.

Padahal, ilmu parenting yang begitu banyak pun sebagian besar dicari oleh kaum ibu, sedangkan ayah seakan hanya ingin melihat hasil didikan ibu tanpa tau proses atau berperan didalamnya. Tentunya fenomena fatherless ini tidaklah muncul dari ruang hampa, tapi merupakan buah dari sistem kapitalisme sekuler.

Sistem sekuler kapitalisme, menyebabkan hilangnya fungsi qawwam dalam diri para ayah, baik sebagai pemberi nafkah atau pemberi rasa aman dalam keluarga. negara dalam sistem sekuler kapitalisme juga hanya berperan sebagai regulator dalam kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan atau pendidikan, sedangkan pemenuhannya dibebankan kepada rakyat.

Kondisi ekonomi yang sulit, membuat para ayah banyak menghabiskan waktunya di luar demi mengumpulkan pundi-pundi uang agar kebutuhan keluarga tercukupi. Bahkan, dikarenakan hasil nafkah dari suami kurang, istri pun harus turut banting tulang membantu perekonomian keluarga.

Memang sangatlah miris, keadaan generasi saat ini bukan hanya dalam ancaman bahaya fatherless namun juga bisa kepada motherless karena keduanya harus bekerja keras memenuhi biaya kehidupan sehari-hari yang tidak lah murah. Selain itu, minimnya lapangan pekerjaan, juga turut mempersulit laki-laki dalam mencari nafkah dan yang sudah memiliki pekerjaan pun harus rela lembur atau merantau, sehingga tidak memiliki waktu untuk melakukan bonding dengan keluarga.


Islam, Mengembalikan Fungsi Keluarga

Sungguh sangat berbeda, keluarga yang terbangun dalam sistem kapitalisme sekuler dengan sistem Islam. Dalam Islam, ayah dan ibu sama-sama memiliki fungsi penting. Yaitu, ayah berperan sebagai pemberi nafkah dan teladan dalam pendidikan anak sebagaimana kisah Lukman yang menasihati anak nya terkait tauhid, seorang tokoh nyata, yang kisahnya diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS.Luqman:13)

Itu artinya, selain mencari nafkah, ayah wajib berperan dalam mendidik anak-anak nya di rumah, memberikan pengajaran ilmu agama dan menjadi teladan yang baik untuk anak dan istrinya. Begitu pun, dengan fungsi ibu di dalam Islam juga tidak kalah pentingnya, ibu memiliki tanggungjawab untuk mengasuh, menyusui, dan mendidik anaknya, juga mengatur rumah tangga.

Negara juga akan turut berperan, dengan cara memberikan dukungan kepada ayah dengan menyediakan lapangan pekerjaan dengan upah yang layak dan memberikan jaminan kehidupan yang mudah, sehingga ayah memiliki waktu yang cukup untuk bermain sambil mendidik anak-anaknya di rumah. Bukan hanya itu, negara juga akan senantiasa memberikan edukasi parenting islami untuk ayah atau ibu, supaya keduanya bisa bersinergi mendidik anak-anaknya di rumah sesuai tuntunan Islam.

Islam juga memiliki pandangan khas terkait sistem perwalian. Sistem perwalian dalam Islam akan menjamin anak tetap memiliki figur ayah walaupun anak tersebut misalnya yatim. Negara juga akan memastikan, tidak ada anak yatim yang terlantar dan semuanya akan dijamin oleh walinya.

Begitulah, cara Islam mengatur urusan keluarga. Negara akan mengkondisikan supaya masyarakat senantiasa terjaga suasana keimanannya, sehingga seluruh individu akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan mengingatkan dalam kemungkaran. MasyaAllah, semua itu hanya bisa diwujudkan ketika syari'at Islam diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan dan yang mampu menerapkannya hanya sistem pemerintahan Islam atau khilafah.

Waullahu'alam Bishowab 


Share this article via

94 Shares

0 Comment