| 74 Views

Negara Lepas Tangan, Rakyat Hilangkan Beban Dengan Bunuh Diri

Oleh: Al juju

Beberapa media ramai memberitakan kasus tragis yang bikin dada sesak. dalam sepekan terakhir dua anak ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat.

Kasus serupa juga terjadi di Sawahlunto, Sumatera Barat. Dua siswa SMP ditemukan bunuh diri di sekolah, bahkan salah satunya di ruang OSIS. Polisi menyatakan tidak ada indikasi bullying. 

Di sisi lain, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan data mencengangkan, dari 20 juta anak yang diperiksa dalam program kesehatan jiwa gratis, lebih dari dua juta mengalami gangguan mental.

Astaghfirullah, ini bukan lagi sekadar “alarm darurat”, tapi sirene panjang tanda sistem sudah benar-benar rusak. Pertanyaannya, kenapa bisa sampai begini?
Apakah generasi kita memang selemah itu, atau sistemnya yang bikin mereka rapuh?

Faktanya, Pondasi yang rapuh mengakibatkan mental mudah runtuh. Pendidikan yang tidak memadai hanya condong pada nilai akademis tanpa memperhatikan nilai agama dan moral. Terpisahan agama dan kehidupan menjadikan jurang lebar keduanya. Tak ada tempat pulang mencari jawaban segala permasalahan hidup. 

Lemahnya peran keluarga tak jarang menambah luka. Pengasuhan yang tidak didapatkan menjadikan diri mudah terombang-ambing. 

Kehidupan sekuler yang menguasai segala lini masa kehidupan. Membuat rakyat harus berjuang menjaga kewarasannya.  Pijakan yang lemah membuat kita biasa menemukan orang yang mengalami gejala mental illnes.

Mental illnes yang dibiarkan akan membahayakan. Banyaknya kasus bunuh diri merupakan contoh pengabaian yang nyata. Bunuh diri bukanlah tindakan spontan, terlintas dalam pikiran dalam waktu yang lama dengan persiapan yang matang. 

Sekulerisme meniadakan hadirnya peran negara. Negara hanya akan bereaksi jika masalah sudah menjadi opini publik. Tindakan yang dilakukan hanya meredam suara rakyat, tetapi tindak menyentuh pada inti masalah. Pola yang biasa terjadi di negra kapitalis. 

Penderitaan akibat sekularisme kapitalisme ini harus diakhiri, yakni dengan senantiasa mendakwahkan Islam sebagai akidah siyasiyah di tengah-tengah masyarakat. Perlu dipahami bahwa Islam bukan agama ritual yang hanya cukup dijalankan melalui ibadah personal, seperti salat, puasa, zakat atau haji. 

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Nizamul Islam menjelaskan, bahwa Islam adalah ideologi yang lahir dari akidah Islam. Akidah Islam menyatakan bahwa satu-satunya Al Khaliq (pencipta) dan Al Mudabbir (pengatur) hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Akidah ini harus dipahami dengan kerangka berpikir yang benar, sehingga manusia memahami bahwa dia harus taat kepada Allah dan harus menjalankan semua syariat-Nya. Di antara bentuk ketaatan itu ialah seseorang bisa bersabar, ikhlas, istiqamah, qana'ah, menerima apa pun yang dia terima, karena dia sadar bagian dari hidup pasti ada ujian. Dengan memahami mindset ini, akhirnya dia akan memiliki mentalitas yang luar biasa kuat. 

Dalam Islam untuk menanamkan akidah yang benar seperti ini dibutuhkan peran negara, karena negara yang memiliki kekuatan untuk mengatur rakyatnya. Daulah Khilafah, sebagai negara Islam akan menerapkan sistem pendidikan Islam untuk mencetak generasi yang berkepribadian Islam.

Media-media yang menyebarkan ide selain Islam, seperti sekularisme beserta turunannya akan dihilangkan. Media berfungsi sebagai sarana edukator untuk meningkatkan taraf berpikir masyarakat sehingga tidak akan ditemukan konten-konten yang menjadi sarana inspirasi masyarakat untuk berbuat keji seperti bunuh diri. 

Ketika masyarakat memiliki akidah dengan benar kemudian ada support system dari negara, kondisi seperti ini serta merta akan menutup maraknya tren bunuh diri masyarakat seperti yang terjadi saat ini.

Wallahu a'lam bishshawwab.


Share this article via

158 Shares

0 Comment