| 19 Views

Lebaran di Tengah Utang Keluarga: Mengapa Sistem Ekonomi Islam adalah Solusi?

Foto: Petaka Utang-Piutang (Mindra Purnomo/tim infografis detikcom)

Oleh: Nindi Dwi Pyanka 

Ramadan dan Idulfitri seharusnya menjadi waktu yang penuh berkah, ketakwaan, dan kebersamaan keluarga. Pada bulan inilah umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah, memperbaiki diri, serta mempererat hubungan dengan sesama.

Namun, di Indonesia, kenyataan yang terjadi sering kali berbeda dari harapan tersebut. Alih-alih menjadi momen penuh ketenangan, Ramadan hingga Lebaran justru kerap diiringi tekanan ekonomi yang cukup berat bagi banyak keluarga.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan memprediksi adanya peningkatan penggunaan pinjaman online, kredit multifinance, hingga layanan gadai selama bulan puasa sampai Lebaran. Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil, kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya mudik yang terus meningkat, serta melemahnya nilai rupiah menjadi faktor utama.

Di sisi lain, bantuan sosial yang belum merata membuat sebagian masyarakat harus mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan, termasuk dengan berutang. Akibatnya, Lebaran yang seharusnya menjadi hari kemenangan justru berubah menjadi beban finansial. Banyak keluarga terpaksa berutang, bahkan dengan sistem riba, demi memenuhi tuntutan sosial seperti membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas Lebaran, atau pulang kampung. Tekanan sosial ini tidak bisa diabaikan, karena budaya masyarakat sering kali mengaitkan kebahagiaan Lebaran dengan kemewahan dan kelengkapan materi.

Sistem ekonomi yang berlaku saat ini cenderung memanfaatkan momen Ramadan sebagai peluang meraih keuntungan sebesar-besarnya. Diskon besar, promosi pinjaman instan, hingga kemudahan akses kredit digital semakin mendorong masyarakat untuk konsumtif. Padahal, kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan peningkatan kebutuhan.Akhirnya, utang menjadi solusi instan yang justru menjerat dalam jangka panjang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan sistem ekonomi yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan, bukan sekadar pertumbuhan angka semata. Sistem yang mampu menjaga stabilitas harga, mendistribusikan kekayaan secara adil, serta menyediakan lapangan kerja yang layak. Bukan sistem yang mendorong masyarakat untuk bergantung pada utang berbunga.

Dalam perspektif Islam, riba dilarang dengan tegas karena dampaknya yang merugikan dan menindas. Sebagai gantinya, Islam menawarkan mekanisme distribusi kekayaan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Dengan sistem ini, kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu, tetapi juga sampai kepada yang membutuhkan. Selain itu, konsep ekonomi Islam menekankan pada aktivitas produksi yang halal, perdagangan yang adil, serta kerja sama seperti koperasi yang memberdayakan masyarakat.

Islam juga menekankan pentingnya peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Negara memiliki tanggung jawab untuk mengelola sumber daya, menjaga kestabilan ekonomi, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat, ketimpangan ekonomi dapat diminimalisir dan ketergantungan pada utang bisa dikurangi.

Lebih dari itu, Islam mengembalikan makna Ramadan dan Lebaran sesuai dengan nilai-nilai syariat. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesederhanaan dan kepedulian sosial. Zakat fitrah menjadi sarana membersihkan diri sekaligus membantu sesama. Sementara itu, Lebaran menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan saling memaafkan tanpa harus dibebani tuntutan materi yang berlebihan.

Lebaran yang dipenuhi utang sejatinya merupakan dampak dari sistem ekonomi yang belum sepenuhnya adil. Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dan sistem yang lebih menekankan keadilan, keseimbangan, serta keberkahan. Dengan mengurangi gaya hidup konsumtif, menjauhi riba, serta memperkuat nilai-nilai berbagi, masyarakat dapat merasakan kembali makna sejati dari Ramadan dan Idulfitri.

Dengan demikian, Lebaran tidak lagi menjadi sumber tekanan finansial, melainkan benar-benar menjadi hari kebahagiaan yang sederhana, penuh syukur, dan tanpa beban utang.

Wallahu a'lam bisshawab.


Share this article via

1 Shares

0 Comment