| 12 Views
Kemenangan Di Idul Fitri, Disaat Kondisi Palestina Memprihatinkan!

Oleh : Kiki puspita
Momen perayaan hari raya Idul Fitri merupakan kegembiraan bagi seluruh umat Islam karena sudah berhasil melaksanakan ibadah puasa salama satu bulan penuh, pada bulan Ramadhan.
Namun, kebahagiaan dalam merayakan hari kemenangan ini tidak dirasakan oleh semua umat Islam di berbagai penjuru dunia, khususnya umat muslim di Palestina. Bagaimana tidak, dilansir dari Jakarta, CNN Indonesia -- Pasukan Israel membombardir Gaza saat Warga Palestina merayakan Idul Fitri 1446 H, Minggu (30/3). Serangan itu menewaskan sembilan orang, termasuk lima orang anak-anak. Dilansir dari Aljazeera, warga Palestina menggelar salat Idul Fitri saat serangan Israel berlanjut.
Dalam satu video yang diunggah oleh Pusat Informasi Palestina, suara tembakan terdengar saat salat dilaksanakan. Tentara Israel juga dilaporkan telah menyerbu beberapa rumah di Hebron, Tepi Barat. Mereka menduduki, mendobrak pintu menggeledah tempat tinggal, hingga menewaskan setidaknya 35 orang, termasuk anak-anak yang masih dengan pakaian Idul fitri mereka. Gaza media menyebutkan, jumlah korban tewas saat serangan di hari Raya Idul Fitri mencapai 76 orang.
Serangan yang dilakukan zionis ini merupakan penjajahan yang kejam dan brutal, mereka berusaha untuk mengusir warga palestina dari wilayahnya. Mereka menghalang-halangi 600 truk bahan pangan dan obat-obatan, serta 50 truk bahan bakar, sehingga warga gaza terancam kelaparan dan dikabarkan banyak dapur umum yang tutup. Krisis tepung juga dialami warga Gaza, yang menyebabkan toko-toko roti menghentikan produksinya.
Meskipun pihak Hamas sering melakukan negoisasi ulang namun negoisasi dengan pihak zionis dibawah kawalan Mesir, Qatar, dan AS, terbukti tidak dapat menyelesaikan permasalahan ini. Terlebih lagi Presiden Donal Trump tengah berniat untuk mengusir warga Palestina.
Kondisi buruk yang dialami warga Palestina harusnya membuka mata dan hati manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya, bahwasannya masa depan Gaza dan Palestina memang sejatinya tidak mungkin diserahkan kepada negara-negara yang penguasanya tidak berkhidmat kepada Islam dan kaum muslim meski mereka mengaku sebagai negara Islam. Apalagi kepada komunitas internasional yang cenderung memilih diam.
Bagaimanapun, sejarah kemunculan negara-negara bangsa berikut para penguasanya ini adalah hasil dari skenario Barat dalam rangka melemahkan posisi politik Dunia Islam di kancah politik internasional. Oleh karenanya, sampai kapan pun, konsep negara bangsa dengan konsep nasionalismenya akan menjadi racun bagi cita-cita pembebasan Palestina, termasuk Gaza pada masa mendatang.
Oleh karenanya, yang bisa diharapkan mampu membebaskan Palestina dan mengusir penjajah dari seluruh wilayahnya hanyalah sebuah negara kuat yang tegak semata di atas visi Islam, bukan sekularisme nasionalisme yang terbukti menjadi batu sandungan persatuan hakiki umat Islam. Negara seperti ini akan memimpin jihad melawan penjajah.
Inilah negara Khilafah yang kemunculannya sangat ditakuti Amerika dan para penguasa muslim yang menjadi sekutu setianya. Khilafah pernah menaungi umat Islam sejak Rasulullah ﷺ wafat dan menjadikan mereka sebagai sebaik-baik umat dan memimpin peradaban dunia hingga runtuh pada 1924 atas konspirasi Barat. Ketiadaan Khilafah inilah yang menjadi awal munculnya berbagai penderitaan, kehinaan dan terpecah belahannya umat Islam, termasuk munculnya problem penjajahan di Palestina.
Selain merupakan kewajiban dan konsekuensi iman, upaya menegakkan kembali Khilafah sejatinya merupakan sebuah kebutuhan mendesak bagi umat Islam. Upaya ini harus menjadi visi seluruh pergerakan Islam dan umat Islam yang ada di seluruh dunia karena Khilafah merupakan solusi tuntas atas seluruh persoalan di negeri-negeri Islam, bahkan seluruh dunia, termasuk persoalan Palestina.
Khilafah adalah satu-satunya institusi penegak syariat secara kaffah yang diturunkan Allah Taala sebagai tuntunan sekaligus penyelesai segala problem bagi seluruh masalah kehidupan. Syariat Islam menjadikan negara dan penguasanya berfungsi sebagai pengurus dan penjaga, menghapus kezaliman, mengharamkan tunduk pada penjajah, dan mensyariatkan jihad fi sabilillah. Khilafah akan menyatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, memobilisasi seluruh potensi yang dimilikinya, mulai dari SDA, SDM, termasuk tentaranya untuk mewujudkan keadilan bagi semua.
Tentu saja mewujudkan Khilafah tidak semudah membalik telapak tangan. Terlebih kehadirannya di masa depan telah menjadi mimpi buruk bagi penguasa negara-negara adidaya dan para anteknya. Ini karena Khilafah akan menggantikan kepemimpinan mereka yang destruktif dengan kepemimpinan yang menebarkan rahmat.
Itulah sebabnya, menghalangi kemunculan Khilafah menjadi salah satu agenda utama mereka. Negara-negara adidaya bahkan memaksa seluruh negara di dunia untuk turut menyukseskan proyek tersebut atas nama perang global melawan terorisme dan radikalisme di negeri-negeri Islam. Mereka menggunakan berbagai cara, baik melalui tekanan ekonomi, politik, bahkan militer untuk mencapai tujuan.
Hanya saja, setiap upaya mereka dipastikan akan berujung pada kegagalan. Allah Swt. berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS Ash-Shaff: 8).
Sungguh, kembalinya Khilafah adalah janji Allah sekaligus kabar gembira dari Rasulullah ﷺ. Tugas kita hanyalah menjalankan kaidah sababiyah dengan jalan menapaki jalan dakwah sebagaimana dicontohkan baginda Rasulullah ﷺ. Itulah dakwah yang bersifat fikriyyah (membangun kesadaran terhadap Islam kaffah), politik ideologis (mengarah pada penerapan secara ril dalam bentuk kepemimpinan Islam), berjemaah, dan laa madiyyah (berdakwah tanpa kekerasan).
Waulohua'lam bissowab.